


SORONG- Dengan difasilitasi oleh anggota Komisi VII DPR RI Dapil Papua Barat, Rico Sia, Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Kota dan Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya (PBD), Kamis (23/2) diresmikan.
Dengan disaksikan anggota Komisi VII DPR RI, Rico Sia, Pj Gubernur yang diwakili Pj Sekda Provinsi Papua Barat Daya, Ir Edison Siagian, ME, General Manager Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat PT PLN, Budiono, ST, dan pejabat lainnya, rangkaian acara peresmian yang berlangsung di Drei Kinder Km 10 masuk Kota Sorong ditandai dengan penandatanganan berita acara oleh Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Hendra Iswahyudi bersama Pemda setempat.
Dalam hal ini, Walikota Sorong diwakili Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan Kota Sorong Amos Kareth, SH, dan Bupati Kabupaten Sorong yang diwakili Asisen III Bidang Administrasi Umum, Kepas Kalasuat, S.Pd M.Pd.
Yang menarik, saat tampil menyampaikan sambutannya, Rico Sia yang selama ini begitu konsen dengan program PJU-TS dan PLTS Atap ini tidak berpanjang lebar dengan kata-kata melainkan langsung action membantu mengatasi kendala PLTS Atap di Masjid Al Ishlah Kompleks Harapan Indah dengan menyumbangkan dana senilai Rp 40 juta.
Beberapa kali Rico Sia meminta pengurus Masjid Al Ishlah untuk naik ke panggung menyerahkan nomor rekeningnya. Peserta yang hadir pun memberi aplaus saat Langgeng sudah berdiri di samping Rico Sia, dan seketika tidak sampai hitungan menit, Rico Sia mentransfer dana dari rekeningnya sebesar Rp 40 juta ke rekening yang disodorkan Langgeng.
“Ditransfer Rp 40 juta untuk beli baterai,”ujar Langgeng singkat kepada Radar Sorong. Sebelumnya, saat tampil mewakili penerima program PJU-TS, PLTS Atap, Langgeng menyampaikan terima kasih atas adanya perhatian dari anggota Komisi VII DPR RI Rico Sia yang menggandeng Kementerian ESDM, memasang PLTS Atap di Masjid Al Ishlah Kompleks Harapan Indah. Hanya saja, diakui Langgeng, dalam pengoperasian PLTS Atap, dihadapkan dengan kendala baterai yang harganya mencapai Rp 40 juta.
“Saya merasa terpanggil dan tentunya apa yang harus dikeluarkan, apa yang harus dilihat bukan karena ingin mencari popularitas, tapi karena itu adalah rumah Tuhan yang menurut kami bukan kekuatan kami yang akan menyediakan, Allah yang menyanggupi itu terpenuhi,”ujar Rico Sia kepada media.
Saat meninjau Masjid Al Ishlah Kompleks Harapan Indah, kepada tenaga ahlinya, Rico Sia begitu teliti menanyakan satu persatu teknik beroperasinya PLTS Atap di masjid tersebut dan ternyata masih ada perangkat yang lebih bagus dengan dana yang bagus pula. Dan untuk itu tidak tanggung-tanggung Rico Sia pun mau membantunya.
Tentang program PJU-TS ini, sudah ratusan dipasang di sejumlah tempat di wilayah Papua dan Papua Barat Daya. Dan untuk tahun ini, menurut Rico Sia, ada sekitar 500 yang jadi sasaran. Dimana secara bertahap untuk wilayah Sorong Raya, Papua Barat Daya 350 titik, dan Papua Barat 150 titik.
“Kementerian ESDM dan PLN akan terus membangun wilayah kita ini, sehinga apa yang dicita-citakan Bapak Presiden kita bisa tercapai. Tetap ada pembangunan untuk menjangkau daerah-daerah yang masih gelap, baik itu melalui Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) maupun lewat program-porgram yang dibuat oleh PLN,”tandas Rico Sia.
Dalam program PJU-TS, PLTS Atap, menyinggung tentang biaya perangkat yang cukup besar , Rico Sia mengatakan, bahwa patut disyukuri dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat, mitra Kementerian ESDM, dalam hal ini Dirjen EBTKE, tujuan untuk mengurangi beban masyarakat bisa tercapai.
Hal ini sesuai dengan hasil testimoni dari penerima manfaat program PJU-TS , dimana salah satunya mengakui dengan adanya penerangan dari PJU-TS, kompleks tempat tinggalnya jadi terang sehingga aman dari kasus pencurian.
Sementara itu, GM Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat PT PLN Budiono mengatakan, pihaknya sangat mendukung program PJU-TS , PLTS Atap ini.
“Sesuai dengan transisi energi, dimana akan dicapai net zero karbon tahun 2060 dan ini seirama dengan program transformasi PLN Go Green. Jadi ini memang selaras makanya kami juga sangat mendukung program ini,”tandasnya.
Lanjut dikatakan, PLN di tahun 2023 ini akan melistriki 291 desa. Dari jumlah tersebut, 191 dari sistem gret, dari estiting yang ada , tinggal tambah jaringan, 100 desanya lagi dengan PLTS.
“Jadi kita akan membangun PLTS 45 lokasi untuk 100 desa, itu salah satu upaya kami juga tersebar di pulau Papua, kita akan bangun 45 lokasi untuk listriki 100 desa,”terang Budiono.
Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur EBTKE Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Hendra Iswahyudi mengatakan, pemasangan PJU-TS di Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya merupakan wujud perhatian pihaknya melalui aspirasi Komisi VII DPR RI Rico Sia untuk melaksanakan program guna membantu masyarakat.
“Pada prinsipinya kita ingin mengembangkan potensi energi setempat yang berbasis energi kelola.Kita membangun juga mikro hidro, baik itu di Maybrat, di Kabupaten Pegunungan Arfak yang sifatnya on great.
Jadi kita punya filosofi gini, kalau ini on great artinya sudah dilistriki tapi dengan diesel, kan BBM mahal, Rp 10.000/liter, belum ongkos angkutnya bisa sampai Rp 20.000 /Liter, ini kita hilangkan dengan menggunakan tenaga air, karena di sana potensnya cukup banyak. Ini kita coba perhari dengan kapasitas untuk menghilangkan diesel 100 KW melistriki ratusan rumah. Maka itu bisa menghemat 522 liter/hari.
Dan ini cukup signifkan. Artinya sesuai dengan visi dan misi Bapak Presiden untuk beralih ke BBM minyak atau energi fosil ke energi terbarukan,”terang Hendra.
Tidak hanya itu, khusus di daerah-daerah terpencil di Papua, pihaknya kata Hendra, bekerjasama dengan PLN untuk membangun model baterai.”
Jadi ada sistem charging yang menggunakan tenaga surya. Itu PLN sendiri yang bangun, tapi baterainya dari APBN kementerian ESDM, ini kolaborasi yang bagus, sehingga masing-masing rumah mampu dilistriki oleh baterai itu. Apabula baterai ini habis, PLN sudah siapkan charging, tukar seperti tukar galon, jadi baterai yang sudah kosong dimaksukkan.
Ini khusus untuk daerah-daerah di Papua yang secara geografis susah dijangkau,”terang Hendra.
Menurutnya, ditahun 2023 ini, 90 desa akan diselesaikan. Ia pun berharap pemasangan PJU-TS dapat dijaga oleh masyarakat sehingga benar-benar bisa memberikan manfatat kepada masyarakat untuk jangka waktu yang panjang.
Harapan yang sama juga disampaikan Rico Sia saat menyampaikan sambutan, bahwa setelah PJU-TS dipasang, jangan sampai ada yang katapel-katapel sehingga barang ini rusak.
Rangkaian acara peresmian program PJU-TS , PLTS Atap di Kota dan Kabupaten Sorong yang turut dihadiri sejumlah pimpunan terkait diikuti dengan pembukaan selubung papan nama di Masjid Al Ishlah Kompleks Harapan Indah dan pengguntingan pita di kompleks warga yang dipasang PJU-TS. (ros)















