Pemkot Launching Rumah Gizi Berjalan di 10 Distrik
SORONG-Kurangnya asupan gizi, sebanyak 700 anak yang tersebar di 10 Distrik di Kota Sorong Papua Barat Daya mengalami stunting. Sehingga Pemerintah Kota Sorong melaunching Rumah Gizi Berjalan Bagi Anak Stunting di 10 Distrik di Kota Sorong.
Pj Wali Kota Sorong George Yarangga,A.Pi.MM mengungkap bahwa berdasarkan perbandingan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dan tahun 2022, Provinsi Papua Barat mengalami kenaikan stunting dari 26,2 persen menjadi 30 persen atau naik 3,8 persen. Dimana ada 5 kabupaten/kota dengan kondisi stunting mengalami kenaikan termasuk Kota Sorong.”Untuk angka stunting di Kota Sorong tahun 2021 sebesar 27,2 persen dan terjadi kenaikan sebesar 7,3 persen pada tahun 2022, atau sebanyak 700 anak mengalami stunting di Kota Sorong,” ungkapnya, Rabu (22/2).
Sehingga, Lanjutnya bahwa untuk menangani kasus tersebut di Kota Sorong maka harus dilakukan koordinasi, agar upaya penurunan stunting di Kota Sorong dapat teratasi dengan baik. Dan dapat sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat, untuk menargetkan stunting secara nasional segera diatasi dengan memberikan asupan gizi anak secara rutin dan terus melakukan koordinasi antara stakeholder dan sosialisasi secara baik kepada masyarakat.
“Saya berharap melalui kegiatan pemberian makanan tambahan atau rumah gizi berjalan bagi anak stunting di 10 distrik di Kota Sorong. Yang diselenggarakan oleh tim Penggerak PKK Kota Sorong, dalam rangka menyambut HUT Kota Sorong ke-23 dan juga hari kesatuan gerak PKK KB-Kesehatan ke-51 tahun 2023, dapat menekan angka stunting di Kota Sorong khususnya,” tegasnya.
George menegaskan bahwa untuk pencanangan Rumah Gizi Berjalan bagi anak-anak stunting diharapkan dapat memberikan manfaat positif terhadap upaya dalam menangani kasus stunting di Kota Sorong dapat mencapai target yang diinginkan bersama.
“Dengan melakukan koordinasi yang baik antara lembaga kesehatan dan elemen-elemen masyarakat lainnya termasuk TP-PKK Kota Sorong, agar sama-sama menekan laju peningkatan angka stunting,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong Hermanus Kalasuat mengatakan bahwa, yang menjadi faktor penyebab stunting dalam lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan.”60 persen anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan asi ekslusif dan terbatasnya layanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan,” ujarnya.
Lanjutnya, juga terdapat kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi serta kurangnya akses rumah tangga atau keluarga terhadap makanan bergizi.
“Permasalahan ini harus diperhatikan bersama, baik itu dari kesehatan maupun lembaga pemerhati kesehatan lainnya, agar dapat berkolaborasi melakukan sosialisasi yang baik bagi masyarakat,” katanya.
“Agar dapat menekan peningkatan stunting. Hal ini tentunya menjadi tanggungjawab kita bersama baik itu pemerintah daerah dan partipasi masyarakat Kota Sorong itu sendiri,” pungkasnya.(zia)















