Oleh: Yulce Jubelin Sarah (Mahasiswa Akuntansi Unimuda Sorong)
Tanah Papua yang merupakan wilayah paling timur di Republik Indonesia, Papua sangat kaya akan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Tentu saja hal ini dapat dilihat mulai dari darat, laut hingga ke hutan. Potensi inilah yang merupakan bekal utama bagi Papua untuk tumbuh lebih baik. Belum lagi aset budaya masyarakat Papua yang jumlahnya yang mencapai ratusan etnik budaya dan adat istiadat dengan berbagai topografinya.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia punya potensi laut yang sangat besar. Bahkan, Indonesia berada di urutan kedua negara penghasil komoditi hasil laut terbesar secara global setelah Cina. Laut Indonesia Timur yang menjadi lokasi segitiga terumbu karang (coral triangle) menjadi rumah bagi 76 persen spesies terumbu karang dunia dan 37 persen spesies ikan terumbu karang global.
Jantung segitiga terumbu karang ini menjadi rumah bagi 45 persen potensi hasil laut Indonesia. Inilah yang menjadi dasar rencana pengembangan potensi sumber daya alam menuju pembangunan 4.0 di sektor kelautan dan perikanan. Dimana pencanangannya aka dilakukan melalui implementasi konsep blue economy.
Blue Economy merupakan paradigma pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan berbagai kompleksitasi impelemtasinya. Kementerian Kelautan dan Perikanan berupaya mengelola kawasan konvervasi di Indonesia, khususnya yang ada perairan di Provinsi Papua Barat Daya. Komitmen ini diwujudkan dengan terbitnya keputusan Menteri KP Nomor 32/2022 tentang Kawasan Konsevasi Kepulauan Waigeo sebelah Barat dan Laut sekitarnya. Serta Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat dan Laut sekitarnya di Provinsi Papua Barat Daya.
Raja Ampat memilki potensi bahari yang sangat indah. Mulai dari hamparan pasir putih, air lautnya yang jernih serta indahnya keanekaragaman hayati di dasar lautnya. Tak heran, Raja Ampat jadi derah tujuan wisata bagi banyak wisatawan lokal maupun mancanegara.
Kepulauan ini memilki setidaknya 1.318 jenis ikan karang dan 533 jenis karang keras. Adapun jenis biota laut yang di lindungi pada perairan Raja Ampat diantaranya Napoleeon, Manta, Bambu laut dan Hiu Paus.
Masyarakat pesisir yang mendiami Kepulauan Raja Ampat kehidupannya masih tergantung pada hasil laut baik, dalam melakukan penangkapan maupun budidaya. Untuk mengelola ekosistem laut, masyarakat setempat mempunyai tradisi yang selaras dengan gerakan menjaga kelestarian lautnya, yakni Sasi Laut.
Kata Sasi adalah bahasa lokal penduduk Raja Ampat yang berarti sumpah. Tradisi Sasi laut dianggap sebagai cara menghargai dan meminta izin untuk mengambil sumber daya laut dari Sang Pencipta. Misalnya saja, pada penangkapan Lobster, masyarakat hanya diperbolehkan menangkap lobster dengan ukuran dan usia tertentu. Untuk itu pemerintah berupaya mengelola sistem ekonomi kelautan yang berkelanjutan untuk mengembangkan ekosistem laut Indonesia, termasuk Raja Ampat.
Upaya Penerapan Sistem Ekonomi Berkelanjutan di Raja Ampat
Hal ini perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, menentukan potensi pariwisata yang sesuai, serta mendorong kegiatan konservasi dan restorasi pesisir laut sangat diperlukan guna terciptanya destinasi ekowisata yang terjaga lingkungannya. (***)











