SORONG-Salah satu warga Jalan Baru Distrik Manoi dikejutkan dengan penemuan uang palsu pecahan Rp100.000. Beredarnya uang palsu tersebut meresahkan warga Jalan Baru, yang tidak memperhatikan secara detil perbedaan antara uang asli dan uang palsu. Hal tersebut diakui Olha Mulalinda yang mengaku terkejut ketika akan menyetor uang hasil dari jualan di warung atau kios miliknya di ATM setor tunai.
“Saya mau setor di mesin ATM tunai di salah satu bank di Pasar Remu. Tapi dari semua lembaran pecahan Rp100 ribu, hanya satu yang ditolak. Pertama saya kira karena lipatan atau tidak rapi jadi paksa kasih masuk lagi, tetap tidak bisa. Terus saya curiga maka saya terawang uangnya, tiba-tiba security bank datang menanyakan kenapa Bu. Saya bilang uangnya tidak bisa masuk. Kemudian security bilang dia bantu cek ke teller dan ternyata uangnya dinyatakan palsu,” jelasnya, Selasa, (31/1).
Olha mengaku ikhlas dan memilih untuk menyimpan uang palsu tersebut sebagai kenang-kenangan, selain alasan itu ia tidak melaporkan ke pihak berwajib karena pernah berurusan dengan kepolisian terkait administrasi sehingga ia tidak melaporkannya.”Saya tidak melaporkan ke pihak kepolisian karena ribet membuat BAP. Karena sudah pernah membuat BAP tetapi lama. Jadi sekarang malas,” ungkapnya.
Olha yang sehari-hari sebagai jurnalis ini menambahkan bahwa bukan hanya dirinya yang mendapatkan uang palsu tersebut, karena sebelumnya ia juga membuat Berita terkait pengedaran uang palsu tersebut.”Jadi bukan saya saja yang mengalami. Sebelumnya sempat dapat info langsung dari pemilik toko dan apotek di Jalan Baru menemukan uang palsu dengan pecahan Rp100.000 juga. Mereka juga tidak mau melaporkan karena mungkin waktu dan mengganggap kerugian tidak terlalu besar,” katanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dalam menerima uang pecahan berapa pun. Harus diteliti dengan ciri-ciri uang yang ada. Olha juga meminta agar pihak kepolisian harus menelusuri kasus penyebaran uang palsu tersebut.”Saya imbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati. Dan kepala polisi harus selidiki penyebaran uang palsu yang sudah meresahkan warga meski tidak ada laporan resmi polisi dari warga,” pungkasnya ketika ditemui di Ruang Pers Kantor Walikota Sorong.
Dari pantauan Radar Sorong, ketika penulis membandingkan antara uang yang diduga palsu dan asli, dengan cara memegang uang yang diduga palsu tersebut memang sangat berbeda dengan yang asli. Dimana uang palsu dari kertas yang ketika diraba sangat tebal dan kasar, sementara yang asli tidak kasar dan tipis. Kemudian tekstur kertas uang palsu lebih kaku usai digulung dibandingkan uang asli yang mudah dilipat atau setelah digulung masih nampak gulungan. Kemudian warna uang palsu lebih gelap dan ada bercak-bercak titik merah, dibandingkan uang asli yang warnanya lebih cerah. (zia)














