Kapolres : Jangan Mau Diperalat oleh Oknum-Oknum Tertentu
SORONG – Setelah berada di pengungsian selama hampir satu tahun, akhirnya puluhan warga korban tragedi 2 September lalu di Kampung Kisor Aifat Selatan Kabupaten Maybrat bisa bernafas lega, karena dengan difasilitasi pemerintah, mereka bisa pulang kembali ke kampung halamannya masing-masing.
Seremonial pelepasan dan syukuran yang berlangsung di Alun -Alun Fait Mayaf (14/6) berlangsung hikmat. Turut hadir sekaligus menyampaikan sambutan motifasi kepada masyarakat yakni Wakil Bupati Maybrat, Markus Jitmau, Sekda Maybrat, Jhonny Way, S.Hut.M.Si, Kapolres Maybrat, AKBP. Glee Rooi Molle, Dandim 1809 Letkol Inf. Harry Ismail, Sekwan, Ferdin andus Taa, SH.M.Si, para Asisten dan sejuml ah pejabat termasuk para tokoh diantaranya, Drs. Agustinus Saa, M.Si yang juga adalah staf ahli dan Sakus Momau.
Selain itu turut hadir 2 anggota DPRD Maybrat yang berasal dari wilayah tersebut, Korneles Fatemyo dan Septinus Momau. Dimomen yang baik itu, Kepala Dinas Pendidikan Maybrat yang diwakili pejabat terkait , dan Dinas Sosial juga membagikan seragam Sekolah Dasar serta bantuan sembako kepada masyarakat. Momen lain yang juga dirangkai pada pelepasan dan doa syukur tersebut juga dibagikan SK tenaga guru kontrak kepada guru PAUD SD dan SMP yang ditempatkan di beberapa sekolah wilayah Aifat Timur Raya.
Sebagai tokoh, baik Agus Saa maupun Septinus Momau mengajak masyarakat agar setelah kembali ke kampung halaman mereka, tetap beraktifitas sebagaimana biasanya. Jangan mudah terhasut dengan kelompok- kelompok yang selama ini berbeda paham dan atau pelaku kriminal. Kepada Aparat pemerintah, pihaknya juga berpesan supaya membangun komunikasi, sinergi yang baik dengan aparat kampung dalam mendukung program dan kebijakan pembangunan di Kabupaten Maybrat.
Senada juga dikemukakan Politisi Demokrat, Septinus Momau dan politisi Gerindra Korneles Fatemyo, bahwa tragedi 2 September lalu merupakan musibah yang memilukan yang menimbulkan korban bagi banyak pihak, baik pemerintah, masyarakat itu sendiri maupun dari pihak keamanan. Tentu dengan tragedi berdarah itu, lanjut Momau menjadi catan penting bagi mereka sebagai masyarakat untuk berbenah dan mengutip tragedi ini sebagai sebuah bencana serius yang tidak boleh terjadi lagi di wilayah adat mereka.
Senada juga disampaikan Kapolres Maybrat dan Dandim 1809 Maybrat bahwa apapun yang sudah terjadi merupakan kisah sejarah bersama yang menjadi ratapan bersama untuk saling berbenah. Ia Juga menyampaikan permohonan maaf bila ada salah kata dan perbuatan yang mungkin saja TNI Polri lakukan kepada warga semasa betgas di Maybrat. ”Bapak Ibu warga Aifat Timur adalah warga saya, kami hadir karena bagian dari negara,” kata Dandim.
Pihaknya lanjut Kapores mengajak warga agar tak mudah terprovokasi dengan umbaran di medsos yang memprovokasikan keadaan, termasuk integritas dari kridebilitas pemerintah daerah di Maybrat. ”Jangan masyarakat diperalat dan menjual nama kita untuk saling mengadu domba. Kekuatan negara itu tidak hanya ada di TNI Polri, tetapi kekuatan negara itu ada pada warga masyarakat dan warga sekalian,” ujar Dandim.
Seperti diketahui, pasca tragedi penyerangan di Posramil Kisor di Aifat Selatan yang mengakibatkan 4 prajurit TNI gugur, masyarakat di sejumlah kampung di Maybrat mengungsi. Sekembalinya di kampung halamannya masing-masing, Wakil Bupati Maybrat di momen yang penuh kekeluargaan itu minta kepada masyarakat untuk hidup damai, berdampingan dengan aparat TNI-Polri, karena salah satu tugas negara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. Secara khusus kampung, distrik untuk terus duduk bersama -sama dengan rakyat, tidak boleh menciptakan jarak dengan masyarakat. Kepada warga masyarakat distrik dan kampung tetangga yang sudah menampung warga masyarakat yang terdampak konflik, pihaknya menyampaikan penghargaan dan terima kasih. (ris)















