Ruddy R Laku: Angka Stunting di Kota Sorong Capai 5.000 anak
SORONG- Guna menurunkan kemiskinan extrem dan angka kematian pada Ibu, BKKBN Provinsi Papua Barat bersama Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Sorong melaksanakan pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Puskesmas Rufei, Kota Sorong. Kamis (19/1).
Plh Sekda Pemerintah Kota Sorong, Ruddy R. Laku menjelaskan kegiatan Bakti Sosial pelayanan KB ini sangat penting agar keluarga dapay mengatur angka kelahiran dan jumlah anak.
“Tentu pemberian anak dari Tuhan, hanya sebagai manusia sudah diberikan khidmat untuk bagaimana kita mengatur keluarga maupun anak kita baik sekolahnya, usianya dan lain sebagainya.
Kami Pemerintah daerah sangat menyambut baik kegiatan ini yang tujuan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat kota ini,”jelasnya kepada media.
Selain pelayanan KB, sambung Ruddy juga dilakukan pencegahan stunting dengan pemberian bantuan makanan bergizi. Seperti yang diketahui, di Kota Sorong jumlah penderita Stunting sebanyak 5.000an, walaupun presentasinya hanya 19 an persen namun dari jumlahnya lumayan banyak.
“Oleh sebab itu, kegiatan ini menjadi momen penting untuk diambil langkah pencegahan stunting. Saya juga meminta agar Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Sorong untuk membuat target dalam langkah penurunan angka stunting sehingga menjadi acuan untuk bagaimana meningkatkan kegiatan guna mencegah stunting tersebut,”terangnya.
Sementara itu Kepala BKKBN Papua Barat, Philmona Maria Yatollo mengatakan Bakti Sosial berupa pelayanan Keluarga Berencana (KB) yang dipadukan dengan pemberian makanan tambahan bagi anak terinfeksi stunting.
“Kegiatan pelayanan KB dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia, dimana pelaksanaan kegiatan berlangsung sejak tanggal 17 hingga 19 Januari 2022.
Khususnya di Papua Barat Daya ini dilaksanakan di Kota Sorong, Distrik Sorong Barat Puskesmas Rufei,”terangnya
Philmona mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program strategis terutama bagaimana menurunkan angka kematian Ibu maupun bayi serta kemiskinan ekstrem dan penurunan stunting.
Sebab salah satu indikator penilaian dalam penurunan stunting adalah pelayanan KB,”ungkapnya seraya menambahkan hal tersebut menjadi tanggung jawab BKKBN PB yang bekerjasama dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Sorong.
Pelayanan KB di Puskesmas Rufei ini, tambah Kepala BKKBN PB diikuti oleh 20 ibu, yang dikhususkan untuk Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Sebab, pihaknya memiliki 2 jenis alat kontrasepsi yakni Non MKJP dan MKJP yang terdiri dari inplan, Ayudi, medis operasi wanita dan medis operasi pria.
“Yang saya lihat sesuai data yang ada, saat ini yang inplan. Kami berharap kedepan kami lebih fokuskan untuk penurunan stunting ini, BKKBN selain melakukan pendampingan juga pelayanan KB. Karena sasaran dari program percepatan penurunan stunting ini kan menyasar remaja, Ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita,”pungkasnya.(juh)















