AIMAS – Ditutupnya sumber air Malasaum disebabkan permintaan kenaikan harga sewa lahan oleh masyarakat pemilik hak ulayat setempat. Namun tingginya harga yang diminta pemilik lahan membuat Pemerintah tidak bisa mengambil kebijakan secara terburu-buru.
Alhasil, karena belum adanya kesepakatan pasti terkait kenaikan sewa lahan tersebut, masyarakat menutup sumber air Malasaum. Padahal, sumber Malasaum sendiri menjadi salah satu andalan PDAM untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga Distrik Aimas.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sorong, Herizet, ST menyebutkan, sebelumnya harga sewa lahan sumber air Malasaum hanya Rp 6.000.000 setiap bulan. Namun setelah pengelolaan PDAM diambil alih oleh pemerintah, warga mengajukan kenaikan harga sewa cukup fantastis.
“Jadi masyarakat pemilik hak ulayat minta harga sewa dinaikan dari Rp 6.000.000 menjadi Rp 150.000.000 per bulan. Sehingga kita masih melakukan pendekatan dan sosialisasi dan bernegosiasi soal harga sewa tersebut,” terang Herizet.
Diakui Herizet, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan pemilik hak ulayat. Namun belum ada tindak lanjut lagi terkait besaran harga yang disepakati.
Penutupan sumber air Malasaum pun akhirnya berdampak pada masyarakat seputaran Distrik Aimas yang selama ini mendapat suplai dari sumber tersebut.
Sebelumnya PUPR telah mencari solusi terbaik untuk melayani pelanggan PDAM dengan menggunakan air tangki. Namun karena dikhawatirkan kondisi tersebut akan memakan waktu cukup lama, PUPR berencana mengambil kebijakan lain untuk mengaktifkan kembali dua sumur yang selama ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
“Kami berencana dan akan berupaya untuk membuka kembali dua sumber yang sudah lama tidak berfungsi. Sehingga wilayah-wilayah yang selama ini mendapat suplai air bersih dari sumur Malasaum bisa kembali terlayani,” tandasnya. (ayu)















