Program Ekoteologi Tingkatkan Kesadaran Umat Beragama Dalam Menjaga dan Melestarikan Lingkungan Hidup
SORONG – Dalam rangka implementasi dan penguatan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia point ke-8 “Memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam dan budaya, serta peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur”, maka Kementerian Agama Republik Indonesia akan mengembangkan program Ekoteologi sebagai upaya mendorong kesadaran dan partisipasi umat beragama dalam merawat serta melestarikan lingkungan alam.
Ekoteologi merupakan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kesadaran ekologis untuk membangun harmoni antara manusia dan alam, bertujuan untuk memperkuat hubungan spriritualitas dengan tanggung jawab ekologis dalam berbagai tradisi keagamaan yang ada di Indonesia. Dalam konteks tersebut, Ekoteologi dapat menjadi pilar utama dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan melalui aksi nyata.
Implementasi Program Ekoteologi, Kementerian Agama menginisiasi Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa (Pometia Pinnata) di seluruh Indonesia. Matoa dipilih sebagai symbol gerakan ini karena merupakan pohon endemic Indonesia yang berasal dari tanah Papua, yang memiliki nilai ekologis dan sosial yang tinggi. Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa untuk meningkatkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama serta menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu,ST,MSi mengatakan, di Provinsi Papua Barat Daya, Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa, akan dipusatkan di Kabupaten Sorong, tepatnya di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia (MAN-IC) Sorong, pada tanggal 22 April besok, bertepatan dengan Peringatan Hari Bumi, yang rencananya dihadiri langsung oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu,S.Sos-Ahmad Nausrau,S.Pd.I,MM.
“Program Ekoteologi Kementerian Agama RI yang diimplementasikan melalui gerakan penanaman 1 juta pohon Matoa, kami dari provinsi Papua Barat Daya melalui dinas teknis terkait mendukung sepenuhnya, dan kami sudah berkoordinasi dengan panitia disini, dan untuk tanggal 22 April ini, PBD merupakan bagian dari 38 provinsi di seluruh Indonesia yang akan ikut berkontribusi dalam menyukseskan Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa,” kata Kelly Kambu kepada Radar Sorong, Minggu (20/4).

Kelly mengatakan, bumi kita ini bukan panas lagi tetapi sudah mendidih, kiasan yang menggambarkan betapa pentingnya menjaga keselamatan bumi dari ancaman pemanasan global (Peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi) yang dampaknya menyebabkan kenaikan suhu global, perubahan pola curah hujan, peningkatan permukaan laut, peningkatan frekuensi bencana alam seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, badai dan sebagainya. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya perubahan iklim yang salah satu penyebab utamanya adalah pemanasan global, yakni dengan melakukan penanaman pohon.
Menanam pohon dapat membantu menyelamatkan bumi mengurangi polusi, mencegah banjir, dan menjaga keseimbangan ekosistem.Pohon juga dapat membantu mencegah bencana alam dan perubahan iklim. Manfaat menanam pohon diantaranya menurunkan polusi udara karena pohon menyerap karbon dioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2), mencegah banjir karena pohon menyerap air hujan dan mengurangi risiko banjir dan tanah longsor. “Kami berterimakasih kepada Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Program Ekoteologinya. Visi besar ini harus kita dukung, pesan moralnya menanam pohon ini artinya menanam kehidupan untuk masa depan generasi yang lebih baik,” tandasnya.
Sebagai anak asli Papua, Kelly menyatakan bangga karena Kemenag memilih pohon Matoa dalam program Ekoteologi ini, mengingat mungkin selama ini banyak warga yang mengenal Matoa hanya melalui media sosial tanpa melihat langsung. Dengan ditanam di seluruh Indonesia melalui Gerakan Menanam 1 Juta Pohon Mato, pohon Matoa endemic Indonesia yang berasal dari tanah Papua lebih mendunia lagi.
Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa bukan hanya sekedar gerakan menghijaukan lingkungan, tetapi juga sebuah manifestasi dari tanggung jawab moral dan spiritual umat beragama dalam merawat bumi ciptaan Tuhan. Melalui program ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa menjaga jagad adalah bagian dari ibadah. Tujuan Program Ekoteologi yakni meningkatkan kesadaran umat beragama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, mendorong keterlibatan aktif lembaga keagamaan dan institusi pendidikan dalam kampanye penghijauan, mendukung target reforestasi nasional untuk mengurangi dampak perubahan iklim, memperkuat harmoni sosial antar umat beragama melalui aksi bersama dalam pelestarian lingkungan, serta meningkatkan keberlanjutan ekosistim dengan Gerakan Penanaman Pohon Matoa di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia. (ian)















