Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Memasuki bulan Februari identik dengan suatu perayaan yang bernuansa cinta dan merah jambu. Suasana bertabur pink dan simbol love berbentuk daun waru atau Dewa Cupid lagi belajar memanah terpampang di setiap sudut plaza, mall, supermarket, hotel, pusat perbelanjaan, hingga acara televisi heboh dengan pernak-pernik untuk menyambut perayaan Valentine’s Day.
Diskon besar-besaran juga ikut memeriahkan. Bunga dan coklat laku keras. Seolah bulan Februari terasa hambar tanpa keduanya. Itulah kebiasaan yang terjadi menjelang 14 Februari. Momen yang ditunggu-tunggu oleh kawula muda. Mereka menyebutnya sebagai “Hari Kasih Sayang”.
Sejarah Valentine’s Day
Valentine’s Day seakan-akan menjadi perayaan universal bagi seluruh umat manusia, tidak peduli latar belakang agamanya. Apakah ia beragama Islam, Nasrani, Hindu, Budha, dll. Valentine’s Day ibarat hari maksiat sedunia.
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan ada banyak versi sejarah mengenai Valentine’s Day. Beberapa sumber sejarah menyebutkan perayaan Valentine’s Day berasal dari perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).
Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love), Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan obyek hiburan (termasuk berhubungan seks). Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Di Inggris, 14 Februari dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional). Di AS, 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). Seattle – Cherie Byrd, seorang psikoterapis mengatakan sebuah ciuman merupakan hadiah terbaik di hari kasih sayang daripada bunga atau coklat. Direktur kesehatan British Heart Foundation, Prof Charles George, ia berharap agar masyarakat Inggris, tua dan muda, mengisi Valentine’ Day dengan aktivitas seksual. Dan di Indonesia tidak kalah mengerikan. Para remaja banyak yang terbiasa melakukan hubungan intim saat Valentine’s Day.
Dari sejarahnya, maka merayakan Valentine’s Day ibarat kembali pada masa masyarakat menyembah berhala, yakni merayakan sebuah ritual seks atau perkawinan. Jadi, tujuan Valentine’s Day memang tidak murni memperingati kasih sayang, tapi memperingati love atau cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, Valentine’s Day adalah Hari Seks Bebas.
Bahaya Valentine’s Day
- Menjadi objek bagi para kapitalis untuk meraup keuntungan.
Para kapitalis sadar bahwa para pemuda akan menjadi konsumtif pada saat Valentine’s Day, dengan membeli semua pernak-pernik yang mereka tawarkan. Sehingga tidak akan segan merogoh kocek ratusan hingga jutaan rupiah demi membeli mawar, boneka atau sekotak coklat. Film-film bertema cinta juga akan diproduksi, kemudian ditayangkan pas di bulan Februari.
Para kapitalis tidak peduli pada rusaknya moral dan aqidah pemuda. Mereka hanya peduli pada keuntungan. 14 Februari yang dikatakan sebagai hari kasih sayang adalah omong kosong. Hari itu hanya digunakan para kapitalis untuk membodohi dan mengambil keuntungan. - Ajang pelegalan seks bebas.
Valentine’s Day yang katanya hari kasih sayang itu, sebenarnya adalah hari pelegalan seks bebas. Ajang pengungkapan cinta tanpa batas yang melabrak batasan agama. Perayaan Valentine’s Day bukan hanya sekedar tukar kado atau candle light dinner, tapi sudah menjadi ajang pemenuhan nafsu yang memprihatikan dan mengerikan.
Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan cinta ataupun sayang karna Allah menciptakan manusia sepaket dengan naluri berkasih sayang. Tapi tentu saja ada aturan dalam menyalurkan kasih sayang tersebut. Dan Valentine’s Day sangat jelas tidak termasuk aturan yang diperbolehkan dalam Islam untuk mengungkapkan kasih sayang.
Mengapa Muslim Tidak Boleh Merayakan?
Menurut sejarahnya saja, Valentine’s Day sudah salah dimaknai. Mulai dari cara merayakannya dengan berzina, atau hanya memberikan hadiah berupa coklat, bunga dan boneka pada kekasih. Pacaran adalah bentuk implementasi ‘mendekati zina’ seperti firman Allah SWT, “Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS.Al-Isra’:32).
Sangat jelas bahwa Valentine’s Day bukan berasal dari Islam. Ia adalah budaya Barat yang menyesatkan, ibarat racun yang berbalut madu. Maka sudah seharusnya seorang muslim menolak budaya yang bukan berasal dari Islam. Karena Islam melarang untuk mengikuti kebiasaan orang kafir. Seperti Sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Thabrani).
Kaum muslim juga tidak boleh ikut merayakan Valentine’s Day karena akan mengundang azab dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Jika zina dan riba telah merebak di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka sedang mengundang azab Allah.” (HR.Hakim no.2261).
Dalam Islam, kasih sayang tidak mengenal waktu dan tempat. Tidak harus menunggu tanggal 14 Februari. Dalam setiap situasi dan kondisi bisa berkasih sayang. Kasih sayang terhadap orang tua, saudara, adik, kakak dan sebagainya. Terlebih cinta dan sayang kepada Allah dan Rasulullah.
Sebagai muslim, sudah selayaknya tidak ikut-ikutan dalam perayaan maksiat. Tidak perlu juga memberi ucapan selamat. Karena Valentine’s Day adalah bagian dari penjajahan budaya barat untuk menghancurkan generasi muslim, sekaligus merusak mental dan aqidah umat Islam.
Perayaan Valentine’s Day akan terus dilegalkan di dalam sistem kapitalisme demokrasi, karena hal itu dianggap sebagai hak asasi manusia. Untuk itu, sudah seharusnya meninggalkan sistem yang rusak ini dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik, yaitu sistem yang menerapkan aturan Islam secara kaffah (menyeluruh).(***)










