BALI – Pertamina EP Cepu Regional 4 Zona 14 mengeksplorasi 3 sumur baru di Kabupaten Sorong, yaitu Sumur Markisa-001 di Distrik Mariat, Sumur Kembo-001 di Distrik Aimas, dan Sumur Buah Merah-001 di Distrik Klamono.
Bahkan untuk di Sumur Markisa-001 Pertamina berhasil mendapatkan gas, dimana ini baru pertama kalinya Pertamina memperoleh gas di wilayah Sorong.
Sedangkan Sumur Buah Merah-001 di Distrik Klamono baru akan dieksplorasi sekitar bulan Februari 2023 mendatang, karena diperlukan tahapan-tahapan, dan diperkirakan bulan Februari 2023 sumur tersebut baru siap dieksplorasi.
“Wilayah kerja Pertamina EP Cepu di Sorong ada 3 area, yaitu Klamono, Sele Linda dan Salawati. Produksi minyak di 3 area itu berkisar 850 – 900 Barel Oil Per Day (BOPD). Apabila performance-nya semua bagus maka kami bisa produksi 900 barel lebih sedikit. Kami juga menemukan gas di Sumur Markisa. Karena sekarang kita bukan penghasil gas, produksinya masih dibawah 1 MMSCFD. Dan itu digunakan untuk on use sendiri,” ujar General Manager (GM) Pertamina EP Cepu Regional 4 Zona 14 Afwan Daroni didampingi Comrel & CID Zona 14, Hariyanto di sela-sela kegiatan Stakeholders & Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, di Bali, 25 – 27 November 2022.
Dijelaskan bahwa, sejak dirinya mulai menjadi GM Pertamina EP Zona 14 bulan April 2022 lalu sampai sekarang produksi minyak Pertamina EP di Sorong berkisar 850 – 900 barel per day. “Tapi memang trendnya kalau kita tidak melakukan usaha-usaha itu akan menurun, turun secara alamiah, bisa karena pressure-nya dari bawah itu memang drop, atau airnya yg muncul naik (watercut). Karena air lebih mudah bergerak daripada minyak. Secara alamiah watercut itu akan naik dan pressure dari sumur itu akan turun. Disitulah perlunya merawat sumur, ada ngebor, ada eksplorasi dan lain-lain untuk bisa tetap bisa bertahan, atau malah bisa meningkatkan produksi,” terangnya.
Diungkapkan pula bahwa Pertamina EP di Sorong juga masih menangani ratusan sumur minyak yang usianya sudah tua, yakni di Klamono 100-an sumur, di Salawati 30-an sumur, dan di Sele Linda 30 – 40 an sumur. “Tapi memang kecil-kecil sumurnya karena lapangan tua, jadi lebih banyak airnya daripada minyaknya. Tapi Pertamina sadar bahwa kalau kita tidak investasi di situ, itu tidak akan ada perkembangan, maka mulai tahun 2022 kita ngebor, eksplorasi maupun eksploitasi. Itu sebagai langkah kita untuk menjamin sustainabelity minyak dan gas kedepannya khususnya di wilayah ini,” ujarnya.
Diterangkan bahwa eksplorasi yang pihaknya lakukan terhadap sumur baru yaitu di Sumur Markisa-001 yang berada di Distrik Mariat, serta Sumur Kembo-001 di Distrik Aimas.”Sumur Kembo sekarang sedang dibor, ini sudah hampir pada kedalaman finalnya, kemudian habis itu ada beberapa pengetesan sejumlah lapisan. Sedangkan Sumur Buah Merah-001 di Klamono kemungkinan dibor sekitar bulan Februari 2023. Karena memang perlu tahapan-tahapan, dan siapnya itu sekitar bulan Februari. Jadi yang sudah terencana eksplorasi itu ada 3 sumur. Alhamdulillah di Sumur Markisa kita dapat gas, tapi kalau sumur eksplorasi itu tidak bisa langsung dikembangkan harus melalui studi lengkap dan ada persyaratan-persyaratan yang harus kita lengkapi untuk bisa diproduksikan,” terangnya.
Untuk cadangan gasnya sendiri di Sumur Markisa saat dites ada 8-10 MMSCFD. 8 MMSCFD gas itu kalau minyak diperkirakan sama dengan minyak 150-170 BOPD (tergantung komposisi gasnya). “Nah padahal kita tahu bahwa kalau di sekitar sana ada semacam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan yang saya dengar di Sorong ada, maka itu bisa jadi market yang bagus, jadi kita pas dapat gas, studinya nanti selesai, persyaratan yang dilengkapi selesai mudah-mudahan di tahun 2024 gasnya Sumur Markisa bisa dijual,” harapnya.
Diterangkan pula bahwa gas dari Sumur Markisa itu nantinya bisa digunakan untuk rumah tangga.”Bisa, tapi saya belum pastikan komposisinya, kalau untuk rumah tangga itu harus benar-benar gas yang aman untuk masuk ke rumah. Kalau yang untuk industri itu bisa ditambah dengan alat-alat untuk mereka yang belinya. Tapi seingat saya gas di sana (Sorong) lumayan bagus dan lumayan bersih. Mudah-mudahan nanti dengan tes yang lebih panjang lagi kita dapat data lebih akurat, gas-nya itu apakah layak untuk city gas atau cuma untuk industri,” terangnya.
Saat ditanya apakah nantinya Pertamina akan menjual gas yang dalam bentuk gas atau dalam bentuk LNG seperti di Bintuni?
“Kemungkinan kita akan jual masih dalam bentuk gas. Kalau Sorong sama Sorong mungkin tinggal bangun pipanya, tapi kalau harus kirim keluar berarti dalam bentuk LNG. Kalau LNG kita harus inves lagi,” akunya.
Dikatakan bahwa minyak di sumur-sumur Klamono itu mempunyai sifat minyak yang lebih berat dibanding minyak di sumur-sumur Salawati dan Sele Linda. “Makanya yang Salawati dan Sele Linda itu bisa diolah di Kilang Kasim (RU VII). Sedangkan minyak Klamono dikirim ke Balongan (Jawa Barat) dan Plaju (Sumatera Selatan). Tapi rata-rata dikirim ke Balongan,” tandasnya.
Diakui bahwa kondisi sumur-sumur minyak Pertamina EP di Field Papua secara keekonomian belum visible.”Makanya saya sangat mendorong penjualan gas yang dari Sumur Markisa. Begitu nanti kita bisa menjual gas pasti kita profitnya bagus. Maksudnya Field Papua dianggap suatu lapangan yang keekonomiannya bagus. Kalau sekarang ini istilahnya bisa dikatakan rugi atau bisa dikatakan impas. Karena mengoperasikan banyak sumur yang minyaknya sedikit-sedikit tapi tetap harus dikumpulkan,” tandasnya.
Sebelum melakukan eksplorasi Sumur Markisa dan Sumur Kembo, kegiatan investasi terakhir tahun 2013, Pertamina EP terjadi kevakuman investasi sekitar 9 tahun.”Benar kita ada kevakuman 9 tahun. Penyebabnya,
kita ada Departemen Pengembangan dan Departemen Eksplorasi, Eksplorasi ini kan dia harus study dari hasil seismic, nah mungkin ini butuh waktu lama. Terus kemudian yang Departemen Pengembangan mengusulkan cuma 1-2 sumur, itu kalau kita kirim rig dari luar Papua ke Sorong kita minta ngebor 1-2 sumur pasti pada tidak mau, mereka bilang kalau hanya ngebor 1-2 sumur kami impas saja bahkan kadang-kadang kami rugi. Kalau makanan sumurnya banyak baru kami bisa. Nah mulai 2021 ada terobosan dari fungsi Pengembangan dan Eksplorasi ini istilahnya berkolaborasi, misalnya Pengembangan punya kandidat 3 sumur, Eksplorasi punya kandidat 1 sumur, jadi 4 sumur kan, nah harus kita tawarkan, kita tenderkan rig yang bisa ke sana dengan 4 sumur ada apa tidak, alhamdulillah ada, jadi 1 rig nanti ngebornya berurutan 4 sumur nanti keluar lagi, nah untuk berikutnya kita lakukan drilling campaign lagi, jadi Pengembangan punya kandidat berapa sumur, Eksplorasi punya berapa sumur, digabung lagi, nanti kita jual rig yang bersedia ke sana siapa, semakin banyak sumur semakin banyak yang tertarik ke sana. Dulu setiap ada pengusulan 1-2 sumur pasti didrop karena dinilai tidak ekonomis. Karena target di sana kita belum dapat yang seperti Bintuni yang reservoirnya besar,” ungkapnya.
Pihaknya berharap kedepan bisa menemukan cadangan-cadangan minyak/gas baru lagi.”Selama ini kita tidak terpikir akan dapat gas, ternyata di Sumur Markisa dapat gas. Field Papua selama ini belum kepikiran jualan gas, dulu hanya kepikir minyak, minyak dan minyak. Ternyata ada gas juga di Sorong. Kalau kita bisa jual gas 8 MMSCFD Field Papua sudah untung.
Kalau kita dapat minyak 1500-2000 BOPD kita sudah untung. Yang agak berat kita menangani Sele Linda. Dulu Sele Linda dioperasikan oleh salah satu perusahaan, tapi tidak dirawat, sumurnya pada rusak, tangkinya pada rusak, jalan-jalan rusak, disitulah kita timbul cost yg cukup tinggi. Makanya kita kalau dapat minyak 1500 – 2000 BOPD baru untung, tapi sekarang kan baru dapat 850 – 900 BOPD, jadi kita berharap kedepan mendapatkan cadangan-cadangan baru lagi,” tegasnya.(akh)
















