MISOOL-Upaya pelestarian hiu belimbing di perairan Raja Ampat kembali diperkuat melalui pelepasliaran seekor anakan hiu belimbing di perairan Pulau Kalig, Misool Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan Misool Ekosistem Regenerasi (Y MER) bersama BLUD UPTD Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Raja Ampat, sebagai bagian dari konsorsium ReShark dalam implementasi StAR Project, Kamis (15/1/26).
StAR (Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery) Project merupakan inisiatif konservasi berbasis sains yang bertujuan memulihkan populasi hiu belimbing (Stegostoma tigrinum), spesies yang saat ini terdaftar sebagai Terancam (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN dan semakin jarang ditemukan di perairan Raja Ampat. Kolaborasi multipihak ini menjadi bagian penting dalam memperkuat perlindungan ekosistem laut di kawasan konservasi Raja Ampat.
Anakan hiu belimbing yang dilepasliarkan kali ini merupakan individu ke-52 yang dikembalikan ke alam di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat. Dengan panjang sekitar 1,3 meter, anakan hiu tersebut telah melalui fase pembesaran dan pemantauan intensif di fasilitas ReShark nursery Y MER yang berada berdampingan dengan Pos Patroli Laut Y MER di Pulau Kalig.
Pelepasliaran dilakukan sesuai protokol konservasi dan pemantauan ilmiah untuk memastikan kesiapan hiu beradaptasi di habitat alaminya.Momentum pelepasliaran ini memiliki makna khusus, mengingat pada April 2025 Wakil Gubernur Papua Barat Daya melakukan kunjungan ke ReShark nursery Y MER yang bertepatan dengan kedatangan satu kelompok telur hiu belimbing.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur menyaksikan langsung telur-telur hiu yang baru tiba serta menyatakan dukungannya terhadap upaya konservasi hiu di Raja Ampat. Salah satu anakan yang berasal dari SEALiFE Sydney Aquarium, Australia, kemudian diberi nama “Nausrau”, sebagai simbol dukungan dan keterlibatan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dalam pelestarian biota laut.
Kegiatan pelepasliaran ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nasrau, Kepala BLUD UPTD KKP Raja Ampat Syafri, Ketua Yayasan Misool Ekosistem Regenerasi Veronika Virly Yuriken, serta Manajer Proyek StAR dari Yayasan Thrive Conservation, Nesha Ichida.
Turut hadir pula para tokoh adat Misool Selatan yang memimpin doa serta prosesi adat sebelum hiu “Nausrau” dilepasliarkan ke laut, dengan harapan dapat hidup bebas dan berkembang biak di alam.
Kehadiran Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dalam kegiatan ini menegaskan dukungan terhadap inisiatif konservasi berbasis sains dan kolaborasi multipihak. Pemerintah berharap upaya ini dapat memperkuat perlindungan jangka panjang terhadap hiu belimbing, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati laut di Raja Ampat.
Wakil Gubernur Papua Barat Daya juga mengajak masyarakat untuk turut ambil bagian dalam melindungi spesies yang terancam punah serta menjaga kawasan konservasi demi diwariskan kepada generasi mendatang.Sebagai pengelola nursery hiu belimbing di Misool, Y MER memegang peran penting dalam perawatan awal, pemantauan pertumbuhan, serta penyiapan anakan hiu untuk dilepasliarkan secara bertahap.
Program ini dijalankan melalui kerja sama erat dengan BLUD UPTD KKP Raja Ampat dan mitra lokal lainnya, serta sejalan dengan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi perairan yang menempatkan hiu sebagai spesies kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.
Pelepasliaran anakan hiu belimbing di Kalig, Misool, menjadi bagian dari rangkaian komitmen Y MER dalam “Protecting the world’s richest reef”, dengan mengintegrasikan konservasi spesies, pengelolaan kawasan, serta kemitraan strategis antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah demi keberlanjutan ekosistem laut Raja Ampat.(*/zia)














