Inovasi penyaringan air menggunakan pelepah pisang yang dipadukan dengan pompa bertenaga surya membawa perubahan bagi masyarakat di wilayah daerah 3T Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Lewat dukungan PT Pertamina EP Papua Field, warga yang sebelumnya mengandalkan air sungai keruh kini dapat menikmati air bersih.
Oleh, Norma Fauzia Muhammad
BAGI masyarakat Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, air bersih bukan hanya kebutuhan sehari-hari. Ketersediaannya juga menentukan kenyamanan warga yang berada di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tersebut, terutama ketika kampung yang berada di tengah kawasan hutan itu mulai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Sebelum mendapat bantuan fasilitas air bersih dari PT Pertamina EP Papua Field, masyarakat masih mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air diambil langsung dari sungai, sementara untuk mendapatkan air yang lebih layak digunakan, warga harus mengendapkannya terlebih dahulu. Kondisi tersebut membuat aktivitas rumah tangga tidak selalu berjalan mudah.

Tokoh Adat Kampung Malasigi, Stefanus Fami, yang lahir dan besar di kampung tersebut, masih mengingat bagaimana masyarakat harus berusaha mendapatkan air untuk diminum maupun memasak. Menurutnya, sebelum ada bantuan, warga bahkan harus membeli air untuk kebutuhan minum karena air sungai yang digunakan sehari-hari sangat kotor.
“Dulu katong kendala itu mesin air. Masalah air, kalau katong mandi dan minum, tidak ada air. Katong beli air saja untuk minum. Karena air kotor sekali sebelum ada bantuan dari Pertamina,” katanya, Senin (27/7/2026).
Stefanus menjelaskan, sebelum fasilitas penyediaan air bersih tersedia, masyarakat biasanya mengambil air dari sungai di bawah kampung. Air tersebut digunakan setelah melalui proses pengendapan sederhana, tetapi cara itu tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan.
“Kalau mau minum biasanya itu katong timba dulu di sungai habis itu baru masak. Kadang air itu hitam jadi harus saring lagi,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut, persoalan air bersih semakin terasa ketika Kampung Malasigi mulai berkembang sebagai kampung wisata. Wisatawan yang datang membutuhkan fasilitas dasar yang memadai, sementara masyarakat sendiri masih menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Nah, untung ada Pertamina yang datang bantu kita. Dorang (mereka) bantu kita fasilitas pompa air bersih dan listrik. Jadi sekarang kalau mau mandi dan masak itu air sudah bersih, tidak hitam (kotor) lagi,” katanya.

Kemudian, Pengelola Air Bersih Kampung Malasigi, Edison Fami, menjelaskan bahwa proses mendapatkan air bersih yaitu air dari sungai terlebih dahulu dialirkan menggunakan pompa menuju tempat penyaringan. Setelah melewati filter pelepah pisang, air diteruskan ke tempat penampungan sebelum didistribusikan kepada warga dan fasilitas penginapan.
“Jadi air masuk ke celah-celah itu (pelepah pisang sebagai penyaring). Iya, jadi kalau kita alirkan dari induk (sungai) pasti ke sini (tunjuk profil tangki air) kan masih kotor airnya. Kalau kita sudah pasang filter pasti otomatis airnya sudah bersih,” kata Edison.
Menurut Edison, perubahan tersebut juga dirasakan dalam pelayanan wisata. Sebelumnya, pengunjung kerap mengeluhkan air yang keruh ketika mandi di penginapan. Setelah sistem penyediaan air bersih diterapkan, keluhan itu tidak lagi menjadi persoalan yang sering mereka hadapi.
“Adanya bantuan dari Pertamina datang untuk perhatikan kami di Kampung Adat Malasigi, kami sangat bersyukur karena selama ini dari tahun 2024 sampai 2026, tamu (wisatawan) yang masuk di sini tidak mengeluh mengenai air, terus (dan) penerangan (lampu),” ujarnya.

Bagi masyarakat Malasigi, lanjut Edison bahwa tersedianya air bersih bukan hanya mempermudah pekerjaan rumah tangga saja. Fasilitas tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pengunjung terhadap kampung wisata yang sedang mereka kembangkan.
Kebutuhan dasar yang sebelumnya menjadi kendala kini mulai teratasi, sementara masyarakat tetap memiliki tanggung jawab untuk merawat fasilitas agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Fasilitas sudah tersedia, bantuan dari Pertamina sangat membantu kami jadi kami bersyukur karena ekonomi kita juga bertambah dari kunjungan tamu wisata. Jadi kami harus jaga barang-barang ini. Pertamina yang andalan memang,” katanya.

Sementara itu, Field Manager PT Pertamina EP Papua Field, Ardi, mengatakan keterbatasan air bersih menjadi salah satu persoalan yang mendorong perusahaan memberikan dukungan kepada Kampung Adat Malasigi. Menurutnya, pengembangan ekowisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga perlu didukung fasilitas yang dapat menunjang kehidupan masyarakat dan kenyamanan pengunjung.
“Jadi salah satu kebutuhan dasar yang menjadi masalah di Malasigi terutama terkait dengan air bersih akhirnya itu terpenuhi. Mereka sudah tidak lagi menggunakan air sungai yang keruh, namun air itu sudah bersih karena selain kita gunakan fasilitas kita, tapi kita juga menggunakan filter sebagai pembersih,” katanya.
Ardi menjelaskan, program pemberdayaan masyarakat di Malasigi merupakan bagian dari Program Matahati Malasigi yang diinisiasi pada 2022 dan dilaksanakan secara bertahap.
“Perusahaan melihat kampung tersebut memiliki potensi ekowisata yang perlu dijaga, sekaligus membutuhkan dukungan agar masyarakat tidak tertinggal dalam pemenuhan kebutuhan dasar,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Pertamina mengembangkan inovasi penyaringan air menggunakan pelepah pisang yang dipadukan dengan fasilitas pompa. Ide tersebut berangkat dari pemanfaatan filter berbahan pelepah pisang yang sebelumnya dikenal dalam lingkungan kerja perusahaan untuk menyaring bahan bakar pada genset. Material lokal itu kemudian dicoba untuk digunakan sebagai media penyaring air.
Ardi menuturkan, percobaan tersebut menunjukkan hasil yang baik ketika diterapkan di Malasigi. Air yang sebelumnya keruh dialirkan melalui sistem penyaringan sehingga menghasilkan air yang lebih jernih untuk digunakan masyarakat.
“Nah, ini kita lihat bahwa kalau bisa digunakan untuk solar, maka harusnya bisa juga digunakan untuk air seperti itu, karena fungsinya sama-sama sebagai penyaring ataupun filter. Nah, ternyata benar pada saat kami coba terapkan ini di Kampung Adat Malasigi, kita gunakan filtering dan juga kita tambah dengan fasilitas pompa, ternyata itu berhasil,” ujarnya.
Menurutnya, Sistem penyediaan air bersih tersebut menjadi bagian dari inovasi Revitaleaf, yang menggabungkan pemanfaatan energi surya dan filter ramah lingkungan berbahan pelepah pisang.
“Dalam program ini, pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 8.700 watt mendukung pengoperasian pompa, sedangkan pelepah pisang digunakan sebagaimedia filtrasi,” katanya.(*)















