MANOKWARI – Ketua himpunan nelayan Indonesia Papua Barat, Ferry Auparay mengeluhkan kondisi pelabuhan pendaratan ikan (PPI) yang terbengkalai dan rusak total selama 15 tahun.
Ia mengatakan salah satu bagian dari pelabuhan pendaratan ikan yakni pabrik es juga sudah tidak terpakai dan berproduksi. Untuk itu, Ia berharap pemerintah Papua Barat bisa memperbaiki pabrik es.
“Saat ini nelayan dalam mencukupi kebutuhan es batu dalam melaut menggunakan es batu rumah tangga,” ujarnya Jumat (13/1).
Ia menjelaskan kebutuhan es batu untuk nelayan setiap harinya sekitar 200 hingga 300 buah dan sisa limbah plastik es bisa membuat laut tercemar.
“Untuk itu, jika pabrik es bisa terfungsikan kembali, maka tidak ada lagi limbah plastik dari es batu dan pengawetan ikan jauh lebih baik,” jelasnya.
Ia menuturkan hal-hal krusial bagi nelayan ada dua yakni rantai dingin yang di dalamnya ada pabrik es, cool storage dan bahan bakar minyak nelayan.
“Untuk memenuhi kebutuhan nelayan kita meminta penambahan SPBN sekitar 2 unit sehingga suplai BBM bisa merata dan terpenuhi,” tuturnya.
Sementara itu, Pj Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Drs Paulus Waterpauw, M.Si menjawab permasalahan yang terjadi pada nelayan terkait bahan bakar minyak, pemerintah Papua Barat akan mengundang pertamina untuk melakukan koordinasi terkait BBM bagi nelayan.
“Kita akan bahas dengan Pertamina untuk penambahan SPBN. Kalau di bilang perlu pasti perlu penambahan untuk kebutuhan nelayan,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa jika di Manokwari saja belum terpenuhi bagaimana dengan wilayah yang lain. Untuk itu, sesuai informasi yang kami terima bahwa ada juga nelayan dari luar Manokwari mengambil BBM di Manokwari.
“Kalau ini benar kan jadi masalah. Nelayan kita saja membutuhkan BBM yang banyak,” tuturnya.
Kemudian, lanjut Waterpauw untuk terbengkalainya pelabuhan pendaratan ikan, dirinya akan melakukan rapat cepat dengan Dinas kelautan dan perikanan membahas PPI tersebut.
“Kebijakan pemerintah Papua Barat akan kita buat cepat dalam anggaran 2023 sehingga ada ruas-ruas dari sisi kehidupan para pedagang, nelayan dan para pihak lainnya yang berkaitan dengan produksi ikan,” pungkasnya. (bw)















