Didorong Teman ke Tebing, Sembunyi di Kubangan Lumpur, Reva Selamat dari Kesadisan KKB
SORONG – Alm. Abas Manna (52), korban kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di lokasi proyek jalan Trans Teluk Bintuni-Maybrat, meninggalkan seorang istri dan 6 orang anak. Abas diketahui merupakan pimpinan (bos) dari belasan pekerja proyek jalan Trans Kabupaten Teluk Bintuni-Maybrat yang sudah mengambil proyek jalan di lokasi yang sama sebanyak 2 kali.
Kepergian Alm Abas membuat keluarga kaget dan merasakan sedih yang mendalam “Kami keluarga tidak memiliki firasat apapun.Kami sangat kaget dengan peristiwa ini dan membuat kami sedih. Harapan kami, pelaku dihukum sesuai perbuatan yang dilakukan,”jelas Perwakilan Keluarga Abas Manna, Muhammad Arham yang merupakan keponakan korban, kepada Radar Sorong.
Arham mengatakan omnya tersebut sudah bekerja proyek selama 10 tahun di wilayah Papua Barat. Khususnya di proyek jalan Trans Bintuni-Maybrat, ini merupakan kali keduanya omnya bekerja. “Ini sudah kedua kalinya Om saya bekerja di tempat yang sama, sebelumnya sudah melakukan pekerjaan, proyek ini lanjutan pekerjaan kemarin. Dan, beliau biasanya pulang-pergi Sorong Bintuni,” tuturnya. Dari kejadian ini, tambah Ahram ia berharap kepada Pemerintah agar tindakan serupa tidak terjadi lagi terhadap pekerja lain.
Sementara itu, Ketua KKSS Kota Sorong, Syamsuddin Djohan menegaskan bahwa anggota KKSS Kota Sorong yang ditembak dan dibunuh secara brutal tersebut merupakan warga sipil yang mengerjakan proyek jalan Trans Kabupaten Bintuni-Maybrat. “Mereka murni pekerja, bahkan salah satunya baru beberapa bulan bekerja. Dan mereka baru membawa bahan material untuk bekerja, tapi tidak disangka bisa seperti ini,”ujarnya.
Syamsuddin berharap kepada pemberi pekerjaan (Perusahaan) agar lebih memperhatikan keamanan pekerja, karena kedatangan pekerja adalah untuk bekerja dan tidak ada tujuan lain. “Kami berharap kepada perusahaan setidaknya pekerjaan ini yang dianggap berada di lokasi yang rawan, mohon didampingi dengan keamanan agar pembangunan berjalan dan keamanan pekerja juga terjamin,” pungkasnya.
Sementara itu, Sudarmin (46), warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang menjadi korban tewas serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Teluk Bintuni, Papua Barat dimakamkan hari ini usai jenazahnya diterima keluarga. Sudarmin meninggalkan 2 orang anak yang masih duduk di bangku sekolah. Jenazah Sudarmin tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar pada Minggu (2/10) sekitar pukul 12.00 Wita. Jasad korban langsung dibawa ke rumah korban di BTN Tritura, Jalan Tamangapa Raya, Bangkala, Kecamatan Manggala, Makassar. “Sudah tiba di bandara, jam dua belas lewat informasinya tadi mendarat,” kata adik ipar Sudarmin, Adi saat ditemui detikSulsel, Minggu (2/10).
Adi menceritakan almarhum Sudarmin sudah sekitar 10 tahun lebih bekerja di Papua Barat sebagai sopir truk angkutan barang. Dia berangkat ke Papua sekitar tahun 2011 dengan memboyong isteri dan dua anaknya. “Dia berangkat pertama kali kurang lebih tahun 2011, pertama kali. Ada tawaran kerja untuk jadi sopir, di Bintuni,” ucap Adi.
Menurutnya, almarhum Sudarmin dikenal sebagai sosok pekerja keras. Dia memenuhi panggilan merantau ke Papua Barat demi menafkahi keluarganya. “Suka memang kerja keras itu kakak, banyak yang suka sama dia. Ramah juga orangnya,” ujarnya. Almarhum Sudarmin kini meninggalkan dua orang anak yang masih sekolah. Anak pertamanya seorang laki-laki sudah lulus SMA, sementara anak perempuannya masih duduk di bangku kelas 6 SD. “Ada dua, satu laki-laki satu perempuan. Yang kecil masih kelas 6 SD kalau yang satu baru lulus SMA (laki-laki),” beber Adi. Jenazah Sudarmin dimakamkan di TPU Sudiang, Kecamatan Biringkanaya.
Sementara itu, jenazah Yafet Jorgen Rompis (53) korban tewas serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua Barat tiba di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Anak korban, Vanclief Rompis, yang sejak tadi menanti kedatangan jasad ayahnya, menangis histeris hingga pingsan.
Pantauan detikcom, Minggu (2/10), sekitar pukul 15.49 Wita, di Bandara Sam Ratulangi Manado, terlihat sejumlah warga korban sedang menanti kedatangan jenazah korban KKB, Yafet Rompis. Mereka terlihat mengenakan pakaian berwarna hitam.
Tampak anak korban bernama Vanclief Rompis terus menangis histeris hingga pingsan. Keluarga lalu meminta kerabat yang mengelilingi agar Vanclief tidak dikerumuni supaya tidak kepanasan. Terlihat sejumlah petugas TNI/Polri sedang berjaga-jaga di lokasi tersebut. Kendaraan polisi tampak sudah ada berada di lokasi.
Sementara sejumlah warga terlihat memadati sekitar Terminal Kargo, Bandara Sam Ratulangi Manado, menanti kedatangan jenazah korban. Sementara mobil ambulans sedang terparkir tepat di depan terminal. “Pesawat Lion JT 499 Sorong-Manado tiba pukul 16.05 Wita,” Aries Maulana salah satu petugas yang berjaga di Terminal Kargo Bandara Sam Ratulangi Manado, Minggu (2/10).
Aries mengaku jenazah korban tak lagi dibawa ke rumah duka di Kelurahan Malalayang 2. Jasad Yafet Jorgen Rompies rencananya akan langsung dibawa ke tempat pemakaman Pemkot Manado, di Kayuwatu, Manado. “Rencananya langsung dikubur di pekuburan Pemkot Manado,” singkatnya.

Salah satu pekerja jalan Bintuni-Maybrat yang sempat menghilang atas nama Dewi Manise alia Reva (28) akibat penyerangan 14 pekerja oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang menewaskan 4 orang pada Kamis (29/9) lalu akhirnya ditemukan dengan kondisi selamat pada Minggu (2/10). Reva selamat setelah diantar ke Pos TNI Mayerga oleh seorang warga Kampung Istewkim atas nama Marinus Orocomna. Marinus Orocomna melaporkan ke Pos Meyerga bahwa telah menemukan kembali korban dari serangan KKB dirumah Barnabas Orocomna, Kampung Inokra. Selanjutnya Danpos Meyerga langsung memerintahkan agar korban dibawa ke Pos Meyerga untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Kapolres Teluk Bintuni AKBP Junov Siregar usai dikonfirmasi Kabid Humas Polda Papua Barat Kombes Pol. Adam Erwindi mengatakan Reva ditemukan dalam keadaan mengalami luka memar di sekujur tubuh dan lutut bengkak akibat terjatuh. “Dewi Manise alias Reva adalah juru masak dalam proyek pembangunan jalan Bintuni-Maybrat dengan selamat,” ujarnya.
Setibanya korban di Pos TNI Meyerga, tenaga kesehatan langsung mengecek kondisi korban yang memar akibat menyelamatkan diri. “Sekarang korban sedang perjalanan dari Mayerga menuju Bintuni dalam pengawal personel TNI dan diterima oleh tim Direskrimum Polda Papua Barat Kombes Pol. Novia Jaya,” jelasnya.
Adan Erwindi mengungkapkan ketika kejadian penyerangan tersebut, Dewi Manise alias Reva sedang duduk dalam truk samping sopir dan melompat keluar dari truk namun mengalami cidera bagian lutut kiri dan kanan. “Karena cidera bagian lutut bagian kiri dan kanan, dia (Reva) tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya didorong temannya ke tebing untuk menyelamatkan diri,” ungkapnya.
Kemudian Reva melanjutkan masuk ke dalam kubangan lumpur sampai mereka (KKB, red) tidak melihat dan hingga malam hari akhirnya dia (Reva) keluar jalan kaki. “Dalam keadaan luka sampai di kampung Mayerga, diselamatkan oleh masyarakat dan dilanjutkan dilaporkan di Pospam TNI Mayerga,” beber Kabid Humas. (juh/bw/**/sar/tau/detikcom)
















