Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Dakwah adalah perjalanan panjang dan berliku. Manisnya dakwah akan terasa ketika seseorang bersabar menjalaninya. Di antara modal penting dalam dakwah adalah keyakinan. Keyakinan ini akan mengobarkan api semangat yang menyala-nyala. Keyakinan akan membuat pengemban dakwah berdiri tegak dan terus maju.
Dakwah adalah jalan para nabi dan rasul. Tak ada seorang nabi dan rasul pun diutus oleh Allah SWT kecuali untuk berdakwah, menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia. Para nabi dan para rasul adalah orang-orang mulia. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang-orang yang menyeru (manusia) ke jalan Allah, beramal shalih dan berkata, “Sungguh aku ini termasuk kaum Muslim.” (TQS Fushilat [41]: 33).
Jalan Dakwah Penuh Tantangan
Jalan dakwah bukanlah jalan yang mulus. Jalan dakwah adalah jalan terjal, penuh onak dan duri. Jalan yang kadang mengundang bahaya. Karena itu, tak sedikit yang berguguran di jalan dakwah. Namun, tidak demikian dengan para nabi dan para rasul. Mereka tetap istiqamah dan teguh di jalan dakwah.
Salah satu contohnya adalah Nabi Nuh as. Beliau mendakwahi umatnya selama 950 tahun. (Lihat: QS.Al-Ankabut:14). Beliau mendakwahi umatnya siang dan malam. Namun begitu, orang-orang yang berhasil beliau dakwahi tidak banyak. Para pengikut beliau sangatlah sedikit. Banyak yang tak peduli dan menentang dakwah beliau (Lihat: QS.Nuh:5-7).
Begitu pula Nabi Ibrahim as, tantangan dakwah beliau sangat berat. Beliau harus berhadapan dengan penguasa bengis, Raja Namrud. Beliau harus rela dibakar dengan nyala api yang sangat besar yang mengepung beliau, akibat dari dakwah beliau (Lihat: QS.Al-Anbiya’:66-69). Tantangan dakwah juga dialami oleh para nabi dan rasul yang lain.
Demikian juga yang dialami oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW dan para Sahabat beliau. Sejak Rasulullah SAW memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah, orang-orang kafir mulai mencari cara untuk menghalangi dakwah beliau. Dari mulai yang paling halus, hingga yang paling kasar dan kejam.
Rasulullah SAW pernah dipukul sampai pingsan, dilempar dengan batu, dilempari dengan kotoran unta saat sedang sujud, hendak diinjak lehernya oleh Abu Jahal saat beliau sedang shalat, diejek dan di-bully saat beliau berdakwah ke Thaif, dicaci-maki bahkan diludahi, dituding gila, tukang sihir, pemecah-belah, dll.
Para Sahabat juga mengalami hal yang sama. Misalnya, yang dialami keluarga Yasir dan Sumayah, serta putranya, Ammar. Ada juga Sahabat yang diikat, seperti dialami oleh Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail dan ibunya (HR.Al-Bukhari). Ada yang ditekan oleh Ibunya, seperti dialami oleh Saad bin Abi Waqash (HR.Ibnu Hibban). Ada yang dijemur di bawah terik matahari, seperti dialami Bilal bin Rabbah (HR.Al-Hakim). Ada yang dilarang tampil dan menyerukan dakwah secara terbuka, seperti dialami oleh Abu Bakar (HR.Al-Bukhari).
Bahkan Rasulullah SAW dan para Sahabat juga pernah diboikot selama 3 tahun. Mereka tinggal di suatu lembah. Selama pemboikotan, banyak dari mereka yang kelaparan, terutama anak-anak (HR.Ibnu Saad dan adz-Dzahabi). Beliau dan para Sahabat pun dihalang-halangi untuk berhijrah.
Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Segala macam rintangan dan halangan di jalan dakwah, tidak berhasil mengendorkan semangat Rasulullah SAW dan para Sahabat untuk mundur dan surut dari jalan dakwah. Bahkan, mereka lebih bersemangat dalam mendakwahkan Islam.
Arah Perjuangan Dakwah
Mengapa para nabi dan para rasul Allah SWT seluruhnya mengalami ragam tantangan, rintangan dan gangguan di jalan dakwah? Jawabannya adalah karena arah perjuangan dakwah mereka jelas dan tegas. Yaitu menentang segala bentuk kekufuran dan kesyirikan, termasuk menentang rezim zalim, serta menentang sistem status quo yang notabene rusak dan merusak.
Itulah risalah tauhid. Risalah yang mengajari manusia agar menyembah dan mengabdi hanya kepada Allah SWT. Tidak mengabdi kepada makhluk atau pun mencari sesembahan selain Allah. Yaitu dengan menjalankan dan menerapkan seluruh syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan begitu, yang berlaku di tengah-tengah manusia hanyalah aturan dan syariat Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Dialah Allah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan kebenaran agar Dia menangkan atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai Saksi.” (QS.Al-Fath:28).
Tetap Istiqomah
Rasulullah SAW dan para Sahabat juga selalu konsisten, istiqamah dan teguh di jalan dakwah. Tak ada sedikit pun sikap putus asa, gentar apalagi takut. Mereka pantang mundur dari jalan perjuangan di jalan Allah. Bahkan teror kaum kafir terhadap mereka semakin menambah keimanan kepada Allah SWT, dan makin menguatkan keyakinan mereka akan pertolongan-Nya.
Allah SWT berfirman: Mereka ditakut-takuti oleh orang-orang yang berseru, “Sungguh orang-orang telah berkumpul untuk menyerang kalian. Karena itu takutlah kalian kepada mereka!” Namun, seruan itu malah makin menambah keimanan mereka. Mereka berkata, “Cukuplah Allah Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Penolong.” (QS.Ali Imran:173).
Karena itu, jika hari ini para pengemban dakwah, khususnya di Tanah Air, sedang diuji dengan fitnah dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme, dituduh mengancam keutuhan negara, diawasi, dll, maka hal itu sebenarnya barulah mengalami hal yang paling ringan dari apa yang pernah dialami Baginda Nabi Muhammad SAW saat pertama kali berdakwah di Makkah.
Para pengemban dakwah harus tetap istiqamah di jalan dakwah. Dengan tetap istiqamah, maka segala makar musuh-musuh Islam dan antek-anteknya bisa digagalkan. Dan kemenangan dakwah akan segera bisa diraih dengan izin Allah SWT.
Para pengemban dakwah harus tetap fokus pada arah perjuangan dakwah mereka. Arah perjuangan dakwah yang hakiki tentu harus tertuju pada penegakan sistem kehidupan Islam atau penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, sementara belum datang kepada kalian seumpama yang pernah dialami oleh orang-orang sebelum kalian. Mereka ditimpa ragam kesulitan dan bahaya serta berbagai guncangan hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersama beliau berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sungguh pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS.Al-Baqarah:214).(***)











