SORONG– Berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Dr Suparto Iribaram, S. Sos, MA, Wisuda Sarjana ke-XIX dan Wisuda Magister ke -VIII di Kampus Hijau IAIN Sorong, Selasa (26/8/2025) berlangsung khidmat.

Sebanyak 165 wisudawan yang terdiri dari 29 sarjana program magister dan 136 sarjana SI dari 6 program studi (Ekonomi Syariah, Hukum Keluarga, Komunikasi Penyiaran Islam, Bimbingan Penyuluhan Islam, Pendidikan Agam Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidiyah dan Tadris Bahasa Inggris) mengikuti prosesi wisuda dengan wajah berbinar-binar.

Diantara 165 wisudawan dan wisudawati, rona bahagia bercampur rasa haru karena pada akhirnya Ia bisa jadi sarjana bahkan menjadi wisudawan terbaik dari Fakultas Tarbiyah Program Studi Guru Madrasah Ibtidaiyyah dengan IPK, 4, 00 tergambar jelas dari raut wajah Zuriyah Nur Hamida, S.Pd.
Bagaimana tidak, saat menyampaikan pesan dan kesan mewakili wisudawan dan wisudawati Zuriyah Nur Hamida menuturkan kalau Ia yang anak pertama dari 3 bersaudara terlahir dari keluarga yang tidak mampu.
“Bapak saya bekerja sebagai tukang kayu, yang setiap pulang kerja, (Hamida lama terdiam menahan isak tangisnya dan disambung tepuk tangan dari para wisudawan/i), yang setiap pulang kerja terkadang terluka di kakinya, di bahunya maupun di tangannya) dan seorang ibu, ibu saya bekerja sebagai ibu rumah tangga,”tuturnya mengawali ceritanya.
Lulus dari MTs, awalnya Hamida bercita-cita untuk jadi tenaga kesehatan. Namun tutur Hamida, puteri dari pasangan orang tua, Surya dan Ani Pujiastuti, bahwa ada perkataan seseorang yang mengatakan “kamu hanya anak tukang kayu,bua tapa sekolah, tidak akan mampu”.
Perkataan itu kemudian menguburkan cita-citanya dan Ia kemudian memilih untuk lanjut sekolah di SMK Negeri, dengan tujuan agar setelah lulus Ia bisa bekerja membantu ekonomi keluarganya.
Sambil sekolah, Hamida yang begitu sadar dengan keadaan ekonomi keluarganya memilih untuk memanfaatkan waktu sisanya untuk bekerja. “Jadwal saya itu jam 7 pagi sampai jam 2 siang saya sekolah, setelah itu pulang kembali bekerja sampai sore hingga malam hari,”ungkapnya.
Tamat dari SMK Negeri 1, orang tuanya begitu sadar dengan arti pendidikan, hingga Ia pun mendorong Hamida untuk lanjut kuliah. “Kamu harus kuliah nak, kuliah apa saja, dimana saja yang penting kamu berpendidikan tingggi,”ucapnya menirukan perkataan orang tuanya.
Dukungan dari orang tuanya itu membuat Hamidah semangat untuk kuliah. “Akhirnya saya mensurvei beberapa kampus di Kota dan Kabupaten Sorong, yang mana kiranya kampus yang biayanya terjangkau dan saya bisa mendapatkan beasiswa agar tidak memberatkan orang tua saya,”cerita Hamidah yang kembali mendapat aplaus dari tamu undangan dan rekan-rekannya,para wisudawan/i.
Dari survei yang Ia lakukan, akhirnya “Saya menemukan kampus yang sangat luar biasa, yang ketika masuk tidak perlu membayar uang gedung, tidak perlu membayar biaya apapun, hanya uang kuliah tunggal, ya di IAIN Sorong. Terima kasih IAIN Sorong,”ucapnya.
Kuliah di IAIN Sorong,Hamida mengaku cukup banyak program beasiswa yang ditawarkan, dan Ia pun sangat bersyukur bisa dapat beasiswa KIP. Hamidah kemudian mengaku, jika tidak dapat beasiswa, maka Ia tidak bisa beli laptop, buku, mesin print maupun kebutuhan lainnya. Bahkan Ia bisa lulur dengan nilai yang memuaskan. “Terima kasih IAIN Sorong,”ucapnya dengan nada haru.
“Untuk itu kepada almamater tercinta IAIN Sorong, saya ucapaknya banyak terima kasih, almamater yang telah menjadi tempat saya bertumbuh dan belajar, tempat dimana saya mengenal arti perjuangan dan persahabatan dan kebanggaan. Terima kasih telah menjadi wadah bagi mimpi-mimpi kami, ruang untuk mencari jati diri dan rumah bagi setiap harapan yang perlahan tumbuh,”ujar Hamidah yang kemudian menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para dosen yang telah membimbing dan mendidiknya selama kuliah di kampus IAIN Sorong.
Diakhir pesan dan kesannya, Hamida menyampaikan pesan moril yang sangat menyentuh perasaan,””Teman-teman saya ingin mengatakan bahwa anak siapa pun kita, datang dari mana pun kita, kaya atau miskin, kita semua pernah merasakan masa-masa yang sulit. Hanya saja dengan kadar dan waktu yang berbeda-beda,”ujarnya.
Dari perjuangan yang disebut jatuh bangun, akhirnya semua bisa dilewati dan kini Hamida yang anak tukang kayu itu bisa tersenyum bahagia karena gelar sarjana telah berhasil diraihnya dari kampus tercinta IAIN Sorong.
Selain Hamida, dalam rangkaian acara wisuda Sarjana ke-XIX dan Wisuda Program Magister ke-VIII yang dipandu MC dengan tiga Bahasa yakni Bahasa Indonesia (Eva Rubawati, S.Sos, M. M.ed.Kom), Bahasa Inggris ( Riany Nur) dan Bahasa Arab (Dr Fadlan Abdillah, M. M.Pd.I) juga diumumkan wisudawan terbaik lainnya dari masing-masing fakultas dan dari program magister.
Selain itu juga ditetapkan wisudawan favorit tahun kelulusan 2025 yang diraih Ade Irma Ulima, S.Sos dari program Bimbingan Penyuluhan Islam, Fakultas Syariah dan Dakwah dengan IPK, 3, 81 (cum laude). Ade Irma Ulima jadi wisudawan terbaik atas prestasinya sebagai qoriah terbaik tahun 2024 mewakili Provinsi Papua Barat Daya.
Hadir dalam acara wisuda Gubernur Papua Barat Daya yang diwakili Kepala Dinas Transmigrasi, Tenaga Kerja, dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua Barat, Suroso, S.IP MA, Wakil Wali Kota Sorong, H. Ansar Karim dan pejabat serta tamu undangan lainnya. (ros)














