SORONG– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan kegiatan eksplorasi terhadap sistem pengobatan tradisional yang dianut oleh masyarakat di Kepulauan Raja Ampat, dengan fokus khusus pada wilayah Misool, Provinsi Papua Barat Daya.

Ketua Tim Peneliti, Budi Agung Sudarmanto mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mendokumentasikan, mengkaji, dan memahami praktik etnomedisin yang telah berlangsung secara turun-temurun dan berkelanjutan di kawasan tersebut.
“Selain itu juga sebagai bagian dari upaya pelestarian pengetahuan lokal serta pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan tradisional,”tandas Agung dalam relesnya kepada media ini.

Dijelaskan bahwa berdasarkan hasil studi sebelumnya yang dipublikasikan oleh Mujahid et al. (2017), terdapat sekitar 989 jenis tumbuhan obat yang digunakan secara tradisional di wilayah tersebut.
“Selain itu, tercatat 791 resep ramuan yang menjadi bagian integral dari sistem pengobatan masyarakat setempat, dan 49 penyehat tradisional aktif yang mempraktikkan sistem pengobatan tersebut,”ungkapnya.
Praktik etnomedisin di wilayah ini dilakukan oleh sepuluh kelompok etnis yang bermukim di Kepulauan Raja Ampat, yaitu Waigeo, Aifat, Aitinyo, Tehit, Ayamru, Inanwatam, Sough, Meyah, Wamesa, dan Wandamen.
Lanjut dikatakan, hasil awal dari eksplorasi ini memberikan gambaran awal mengenai keberadaan praktik pengobatan tradisional di wilayah tersebut dan menjadi dasar penting dalam penyusunan program penelitian lanjutan.
Adapun fokus utama penelitian ini diarahkan pada empat aspek utama yang belum secara lengkap terdokumentasi dan dikaji sebelumnya, yaitu: (a) tipologi penyehat tradisional, (b) metode dan bahan pengobatan yang digunakan, (c) resep ramuan yang dipergunakan, serta (d) pola regenerasi praktik etnomedisin.
“Termasuk mekanisme pemeliharaan dan penggantian alat serta bahan yang digunakan dalam praktik tersebut,”imbuhnya.
Keempat aspek tersebut jelas Agung, menjadi perhatian utama karena belum banyak diulas secara mendalam dalam literatur ilmiah terdahulu, serta belum teridentifikasi secara komprehensif dan kategorisasi yang sistematis.
“Oleh karena itu, kegiatan eksplorasi ini diharapkan dapat melengkapi data yang ada, sekaligus memberikan inovasi dan kebaruan dalam pemahaman mengenai tipologi penyehat tradisional, strategi regenerasi pengetahuan, serta teknik pemulihan alat dan bahan yang digunakan dalam praktik etnomedisin,”tandas Agung.
Gambaran mendalam mengenai aspek-aspek tersebut akan diperoleh melalui metodologi penelitian eksploratif yang komprehensif.
Dikatakakan Agung, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terkait tipologi penyehat tradisional, metode dan praktik etnomedisin, serta strategi regenerasi pengetahuan yang berlaku di Kepulauan Raja Ampat, khususnya di wilayah Misool.
Tim peneliti terdiri atas sepuluh orang dengan latar belakang keahlian multidisipliner ini diharapkan mampu mengungkap berbagai aspek praktik etnomedisin di wilayah tersebut selama tahun pertama pelaksanaan penelitian.
“Kolaborasi lintas disiplin ilmu dan kepakaran peneliti dalam tim ekspedisi ini cukup kompleks, yakni ilmu linguistik, sastra, botani, antropologi, hukum, tradisi lisan, dan bahan baku obat,” ujarnya.
Hal tersebut dimaksudkan untuk memperkaya sudut pandang penelitian terkait etnomedisin di wilayah Raja Ampat.
Dalam pelaksanaan pengambilan data di lapangan, BRIN menjalin kolaborasi strategis dengan dosen dari Universitas Cenderawasih dan peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Kediri.
Pengumpulan data lapangan didukung oleh dua petugas lapangan, yaitu Polisi Hutan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat Daya, M. Imron Mustadjab, dan staf dari Badan Pengelola Taman Bumi Geopark Raja Ampat, Sulaiman Joli.
Kedua petugas ini memberikan arahan lokasi riset yang meliputi sejumlah desa di wilayah Misool, seperti Kampung Lilinta, Dabatan, Yellu, Kapatcol, Gamta, Magei, Tomolol, dan Fafanlap.
Jika kondisi memungkinkan, tim juga akan melakukan eksplorasi di wilayah Kayeropop dan Salafen.
Pengambilan data dilakukan selama kurang lebih 29 hari dengan memperhatikan kondisi cuaca dan lokus riset.
Tim peneliti terang Agung juga mewawancarai pengobat tradisional dan petugas Puskesmas di tiap kampung yang didatangi.
Termasuk mengekplorasi kearifan lokal dalam sistem pengobatan. Dimana budaya lokal mempengaruhi metode dan cara pandang etnomedisin.
“Kami juga sudah melakukan perizinan ke kepala BBKSDA wilayah Papua Barat Daya serta pemerintah daerah terkait, seperti Polsek, Koramil, dan beberapa Kepala Kampung”, kata Agung menjelaskan.
Selain itu, Agung menambahkan bahwa hasil dari kegiatan eksplorasi ini berpotensi menghasilkan berbagai output ilmiah, termasuk artikel ilmiah, model inovatif, maupun paten terkait metode pengobatan tradisional yang berkembang di wilayah Misool.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk pengembangan penelitian lanjutan, mengingat masih banyak data terkait etnomedisin di wilayah Papua yang belum tersentuh secara ilmiah dan sistematis.
Ke depan, BRIN berkomitmen untuk terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai institusi dan komunitas guna meningkatkan kualitas dan kapabilitas riset di seluruh wilayah Nusantara, khususnya di tanah Papua. (**/min)















