SORONG – Deputi lll Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Mayjen TNI Fajar Setyawan memberikan bantuan uang tunai kepada keluarga korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Kota Sorong beberapa hari lalu. “Sesuai arahan pimpinan kami bahwa santunan kepada yang meninggal dunia perorang nilainya Rp10 juta. Memang tidak signifikan tapi kita berharap bantuan tersebut dapat meringankan keluarga almarhum,” kata Mayjen Fajar Setyawan usai menyerahkan bantuan kepada keluarga (Almh) Nursiah dan (Alm) Muhammad Fadli yang diwakili Ketua Ikaswara Kota Sorong, Tupono, di Ruang Anggrek Lt 2 Kantor Wali Kota Sorong, Jumat (24/8).
Selain itu, BNPB juga menyerahkan bantuan penanganan bencana dengan total Rp450 juta kepada Pemerintah Kota Sorong. “Bantuan Rp200 juta berupa makanan yang bisa langsung diberikan kepada pengungsi dengan peralatan berupa selimut dan terpal. Sedangkan yang Rp250 juta adalah dana siap pakai yang digunakan untuk operasional penanganan bencana yang dikomandani Kalaksa BPBD Kota Sorong,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa kedatangannya ke Sorong untuk melaksanakan assessment dan pendampingan atas pekerjaan BPBD Kota Sorong, diantaranya bagaimana penanganan kepada korban pengungsi berupa pemenuhan kebutuhan dasar makanan harus terjamin, kesehatan, tempat tinggal yang layak, perlindungan kepada kelompok renta baik itu ibu hamil, balita, kelompok lansia maupun kelompok disabilitas. “Selebihnya kita langsung survei atau meninjau ke lapangan atas dampak bencana banjir dan tanah longsor. Beberapa sudah kita lihat dan sudah kita bisa me-mapping penyebab bencana tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, aktivasi posko bencana berupa manajemen posko sudah berjalan, juga kolaborasi stakeholder sudah berjalan sangat bagus, sehingga penanganan cukup cepat bisa teratasi. “Itu konsep jangka pendek, sementara jangka menengah pun telah melihat normalisasi kanal dan sungai sebagai penyebab utama sudah dilakukan, baik oleh instansi di tingkat Kota Sorong maupun Provinsi Papua Barat berupa alat berat sudah dilaksanakan. “Artinya bahwa pada jangka menengah, Insya Allah sudah teratasi. Sedangkan jangka panjang ini yang perlu kajian panjang. Harapan kita proses bottom up, mulai dari Bappeda Kota Sorong, Provinsi Papua Barat baru pada pemerintah pusat seperti apa konsep yang dikehendaki dan kita akan komunikasi pada tingkat pemerintah pusat,” ucapnya.
Mayjen Fajar Setyawan menambahkan bahwa Indonesia adalah supermarket bencana. Karena itu, semua orang harus berdamai dengan bencana, dengan cara-cara yang cerdas dan harus bisa menyelamatkan diri dari bencana yang kemungkinan terjadi. “Sehingga kami perlu kiranya edukasi dari stakeholder terkait kepada masyarakat, yaitu bagaimana menghadapi bencana yang setiap saat bisa terjadi sehingga kita bisa selamat dari bencana tersebut,” imbuhnya.
Sementara itu, Pj.Wali Kota Sorong, George Yerangga,A.Pi,MM mengatakan bahwa Pemerintah Kota Sorong bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat telah melakukan peninjauan dan memberikan bantua kepada korban banjir. “Bencana bukan urusan pemerintah pusat saja, bukan pemerintah provinsi saja atau pemerintah kabupaten-kota saja, tapi ini urusan bersama, urusan kemanusiaan. Jadi mari kita sama-sama fokus, karena masyarakat butuh sentuhan dan kehadiran kita disaat mereka susah tidur karena kebanjiran. Kehadiran kita mengobati luka batin mereka. Jadi kita sedikit berbicara tapi banyak bekerja,” kata George Yarangga yang dalam kesempatan ini juga menyerahkan bantuan dari Pemerintah Kota Sorong berupa uang tunai kepada keluarga korban yang meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor.
Sementara itu, Ketua Ikaswara, Tupono yang mewakili keluarga korban Almh Nursiah dan alm Muhammad Fadli, menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah pusat, pemerintah Provinsi Papua Barat dan pemerintah Kota Sorong yang telah memberikan santunan kepada keluarga korban yang meninggal dunia akibat tanah longsor. “Terima kasih BNPB, Pemprov PB dan Pemkot Sorong yang sudah peduli dan memberikan bantuan duka untuk warga kami yang mengalami musibah tanah longsor. Mudah-mudahan ini bisa meringankan beban Pak Hariyanto di tengah kehilangan istri dan anak serta harta bendanya, ia bisa terhibur dan segera bangkit untuk menatap hari esok,” kata Tupono.
Febrin, anak tertua yang mewakili keluarga (Alm) Romanus menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah atas perhatiannya berupa bantuan. “Banyak terima kasih karena pemerintah telah melihat kita,” ucapnya. (zia)















