
SORONG-Dalam rangka menuju hari kesehatan mental, Himpunan Psikologi (HIMPSI) Papua Barat Daya bekerjasama dengan Asosiasi Social Movement menggelar Revolusi Mental Health di Aula Asrama MAN Sorong, Sabtu (7/10).
Hari Kesehatan Mental Sedunia atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia jadi ajang peringatan tahunan yang jatuh setiap 10 Oktober. Melalui peringatan tersebut, HIMPSI PB dan Asosiasi Social Movement juga melakukan edukasi kepada siswa/i SMA MAN Sorong sebagai perlindungan (protect) terhadap usia rentan terhadap kasus gangguan mental.
“Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati hari mental dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2023, kami kerjasama bersama HIMPSI PB. Kami melakukan sharing session ini karena melihat anak-anak Kota Sorong sangat membutuhkan kegiatan ini. Misalnya agar mereka dapat meluapkan hal-hal yang sepantasnya di sosial media mereka lebih sehat,” kata Ketua Asosiasi Social Movement (ASM), Azward, SH.MH kepada Radar Sorong.
Dikatakan bahwa kegiatan ini perdana dilaksanakan, namun akan diagendakan setiap bulan.
Setelah kegiatan tersebut, Lanjutnya agar anak-anak muda ini dapat lebih sehat mental. Artinya dalam mengambil keputusan, mengambil kebijakan dapat memilah mana yang baik, mana yang buruk untuk menentukan masa depannya di bidangnya.
“Kami menyasar anak muda usia rentan, karena dari usia SMA ke Kuliah (15-25 tahun). Hal ini karena dinamika yang terjadi dalam usia tersebut rentan,” katanya.
Azward mengimbau agar anak-anak muda jangan takut untuk melakukan hal-hal yang positif dan tinggalkan hal-hal yang negatif.
“Dekatkan diri kepada Tuhan dan kepada keluarga agar dalam menentukan langkah-langkah ke depan itu bisa lebih baik. Berbagi kepada keluarga dan teman-teman. Jangan melakukan hal-hal yang tidak penting,” katanya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Psikologi (HIMPSI) Papua Barat Nursiah Yusdiranti Barus,S.Psi.Psikolog mengatakan bahwa Revolusi Mental Health ini adalah suatu bentuk Kampanye atau promosi daripada kesehatan mental.
“Bagaimana mengupayakan kesehatan mental itu pada setiap lapisan masyarakat, terutama ini kebetulan pesertanya adalah remaja. Pada masa remaja memiliki hal yang beresiko terhadap gangguan kesehatan mental,” katanya.
Menurutnya, materi yang disampaikan menyangkut bagaimana seseorang menjadi sehat mentalnya.
“Jadi seseorang yang mental sehat, dia mampu mengenal potensi dirinya, mampu bekerja secara produktif, mampu menangani masalahnya, terhindar dari stres. Kemudian mampu memberikan kontribusi positif bagi komunitasnya,” jelasnya.
Ia menyebut ciri-ciri seseorang sudah mengalami suatu gangguan mental ketika seseorang tidak produktif, dari kebiasaan rajin kemudian tiba-tiba menjadi malas atau tidak mau beraktifitas, menghindar dari lingkungan sosial.
“Itu merupakan seseorang sudah mengalami suatu gangguan mental,” ungkapnya.
Dikatakan bahwa Untuk mengobati atau menyembuhkan seseorang yang telah mengalami gangguan mental yaitu dilakukan terapi, rekomendasikan psikolog kemudian merujuk kepada lingkungan yang tepat.
“Mungkin dirujuk ke dokter atau psikiater jika membutuhkan obat-obat. Untuk di Papua Barat memang kasus ini banyak terutama kasus-kasus pada kekerasan seksual. Yang biasa kita hadapi dari Dinas Perlindungan perempuan dan anak. Sejak Covid-19, kasus gangguan mental sudah meningkat,” ungkapnya.
Ia berharap melalui kegiatan tersebut, siswa/i tersebut dapat menjadi agen kesehatan mental untuk mengkampanyekan apa yang telah didapatkan.

“Saya mendapatkan kecerahan melalui seminar ini. Cara bagaimana kita menjaga mental yang baik. Saya harap kegiatan ini ada lagi di MAN Sorong tetapi meliputi semua siswa/i. Karena di luar sana masih banyak yang mengalami gangguan mental tetapi tidak mengetahui cara menyelesaikannya,” ungkap Ketua OSIS MAN Sorong, Adelia kepada Radar Sorong usai kegiatan.(zia)
















