SORONG – Peredaran narkotika jenis ganja di wilayah Papua Barat (PB) dan Papua Barat Daya (PBD) terus mengalami peningkatan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Papua Barat, Brigjen Pol Heri Istu Hariono, usai pelaksanaan Upacara Pembukaan Operasi Laut Interdiksi Terpadu tahun 2023, Selasa (23/5).
Ganja juga menduduki urutan pertama narkotika yang banyak beredar di wilayah Papua. Kemudian disusul narkotika jenis sabu yang juga sering ditemukan peredarannya.
“Di wilayah Papua termasuk Papua Barat, narkotika yang banyak beredar adalah jenis ganja. Itu di urutan pertama. Sedangkan di urutan berikutnya adalah shabu. Lalu kemudian diikuti oleh jenis narkotika lainnya,” ujar Brigjen Pol Heri Istu Hariono mengungkapkan dari dua kasus besar narkotika yg ditangani BNNP Papua Barat, keduanya merupakan kasus peredaran ganja.
Diungkapkan Heri, ganja yang beredar di wilayah Papua Barat merupakan barang yang diseludupkan dari Papua Nugini melewati Jayapura, Manokwari dan Sorong sebagai tempat tujuan akhir. Selain itu, ada pula ganja lokal yang kerupakan barang seludupan dari daerah Aceh.
Harga canabis sativa nama lain ganja yang terjangkau membuat narkotika jenis ini ramai peminat, khususnya di Papua Barat, bagi kalangan menengah ke bawah.
“Bahkan di Manokwari ada beberapa kasus anak SMP, SMA/ SMK jadi pengedar. Itu memprihatinkan sekali. Kalau di sini (Sorong) selain ganja dari yang kita ungkap 10kg kemarin, tahun lalu kita juga berhasil mengungkap peredaran shabu 20 gram yang melibatkan oknum,” bebernya.
Sindikat peredaran baeang haram tersebut pun masih berkeliaran dimana-mana. Ironisnya, juga pernah diungkap kasus peredaran ganja yang mana sindikatnya masih berstatus warga binaan di Lapas Sorong. Yang bersangkutan juga diakui cukup lihai karena mampu mengendalikan peredaran bisnis haramnya dari balik jeruji besi.
Sementara itu, untuk narkotika jenis shabu, fokus operasi BNNP Papua Barat menyasar ke daerah pertambangan karena kelas ekonomi menengah ke atas.
“Namun karena keterbatasan personel yang ada di Manokwari, sementara hub ada di Sorong maka pergerakan kita juga agak sulit. Meskipun begitu, kami terus mengupayakan agar daerah yang menjadi titik rawan tidak luput dari pengawasan guna memerangi narkotika untuk mewujudkan Papua bersih dari narkoba (Bersinar),” tandasnya. (ayu)
















