Oleh: Tutus Riyanti
(The Voice of Muslimah Papua Barat Daya)
Di Indonesia, tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan nasional sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945, adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti yang luhur.
Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun sekelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan. Pendidikan yang baik dibutuhkan untuk membentuk sebuah negara yang maju dan membentuk peradaban yang baik.
Arah tujuan pendidikan nasional ini sangat bagus. Namun, apakah tujuan pendidikan nasional ini sudah benar-benar terealisasi dengan baik?
Fakta Pendidikan Sekuler
Tujuan pendidikan yang sangat mulia, ternyata berbanding terbalik dengan fakta yang ada di lapangan. Generasi muda yang dilahirkan dalam sistem pendidikan sekuler saat ini, membuat para orang tua miris dan mengelus dada. Padahal, tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk meraih jenjang pendidikan saat ini.
Banyak anak sekolah yang terlibat tawuran, pacaran, seks bebas, narkoba, dan kenakalan remaja lainnya. Banyak juga yang melakukan tindak kriminalitas, seperti: mencuri, merampok, memperkosa, bahkan sampai membunuh.
Padahal, di sekolah bisa jadi mereka adalah anak yang berprestasi. Bisa jadi mereka juga lulus dengan nilai yang memuaskan. Seharusnya mereka tumbuh menjadi generasi yang membanggakan bagi orang tua, agama, dan bangsanya. Tapi, mengapa mereka justru memiliki tingkah laku dan kepribadian yang sangat buruk?
Jika diamati, ternyata akar masalah mengapa generasi muda berperilaku buruk adalah karena mereka sudah terkontaminasi dengan sistem sekuler kapitalisme. Bisa jadi mereka muslim, berasal dari keluarga baik-baik, dan disekolahkan di sekolah Islam. Tapi ternyata tidak menjamin mereka punya kepribadian yang Islami. Agama hanya sebatas ibadah ritual, sedang dalam kehidupan sehari-hari agama dicampakkan.
Di rumah, orang tua tidak menanamkan pendidikan agama dengan baik dan benar. Sedang di sekolah, pendidikan agama hanya sedikit, dan itu pun tidak fokus memperbaiki kepribadian siswa. Siswa hanya dituntut untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, serta bisa menguasai iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
Apalagi, sistem pendidikan di Indonesia saat ini yang menuntut lulus sekolah bisa langsung bekerja. Tentu hal ini hanya membuat para siswa sibuk membekali diri dengan berbagai kompetensi dan bidang keahlian. Hal ini juga akan melahirkan lulusan yang pintar secara iptek, tapi minim dalam hal akhlak dan kepribadian yang mulia. Sehingga wajar jika lahir generasi yang jauh dari harapan.
Pendidikan dalam Pandangan Islam
Islam adalah way of life (jalan kehidupan) bagi seorang muslim. Islam juga merupakan rahmatan lil ‘alamin, yang akan menyelamatkan dan menyejahterakan manusia, hewan, dan alam semesta, yaitu ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Termasuk dalam hal pendidikan. Ketika Islam diterapkan, maka akan melahirkan generasi yang berkualitas, berakhlak mulia dan berkepribadian Islami, sekaligus generasi yang pandai menguasai iptek.
Dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi untuk manusia. Untuk itu, pendidikan dalam Islam harus memiliki tujuan menjaga fitrah manusia sebagai hamba ciptaan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nashrani, atau majusi.” (HR.Bukhari no.1319 dan Muslim no.2658).
Dari hadist diatas menjelaskan bahwa setiap manusia dilahirkan mempunyai fitrah, yaitu menjadi hamba Allah yang hanif, cenderung kepada kebaikan. Ketika ada petunjuk dari Allah, maka mereka akan mudah berjalan sesuai petunjuk tersebut.
Jadi, tujuan pendidikan dalam Islam adalah menjaga generasi agar tetap pada fitrahnya, yaitu sebagai hamba Allah yang akan taat beribadah dan mempunyai kepribadian yang Islami.
Dalam Islam, mendidik bukanlah memberi hidayah. Kewajiban orang tua atau guru adalah mendidik anak dengan semaksimal mungkin. Ketika sudah melakukan berbagai upaya yang maksimal, namun anak belum tertunjuki dengan kebenaran dan kebaikan, maka kembalikanlah semua kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS.Al-Qashash:56).
Dalam pendidikan sekuler, mendidik hanyalah sekedar transfer ilmu dan memberikan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya. Sedang dalam Islam, mendidik bukan hanya transfer pengetahuan semata, tapi bagaimana anak bisa berpikir secara Islami dan berperilaku sesuai aturan Islam.
Hanya memberikan pengetahuan dan aturan-aturan saja, tanpa dibarengi dengan pemahaman, maka bisa membuat anak muak dan justru mengabaikan aturan-aturan tersebut. Misalnya, anak dilarang pacaran, tapi tidak diberikan pemahaman mengapa tidak boleh pacaran. Maka hal tersebut justru membuat anak cenderung penasaran dan malah ingin mencoba pacaran.
Ketika pendidikan hanya sekedar mentransfer pengetahuan, maka itu hanya sekedar menjadi ilmu. Tidak akan dipraktekkan dalam kehidupan. Maka ilmu yang diberikan, harus disertai dengan pemahaman mengapa hal tersebut harus dilakukan atau harus ditinggalkan.
Perlu dipahami juga bahwa pendidikan adalah proses, bukan instan. Tidak bisa hanya dalam satu kali mendidik, maka anak akan menjadi baik dan taat. Namun, butuh proses waktu, upaya, kesabaran, dan optimalisasi dalam mendidik. Maka jangan kecewa jika anak tidak bisa cepat menerima apa yang diberikan.
Dalam pandangan Islam, anak adalah makhluk sosial. Mereka akan berinteraksi dengan orang lain. Di lingkup keluarga, akan berinteraksi dengan anggota keluarga lain seperti ayah, ibu, kakak, adik, dll. Di lingkup masyarakat, akan berinteraksi dengan teman, guru, tetangga, dll. Di lingkup negara, akan berinteraksi dengan aturan-aturan negara yang berkaitan dengan pendidikan.
Bisa dibayangkan, mendidik anak ditengah sistem sekuler kapitalisme saat ini, tentu saja akan melahirkan generasi yang sekuler dan kapitalis pula. Yang orientasi hidupnya hanya berkisar dari materi dan kesenangan duniawi. Jauh dari urusan akhirat.
Maka, butuh sinergi dari orang tua sebagai pendidik pertama dan utama, ditambah dengan adanya masyarakat yang saling mengontrol dan tersuasanakan dengan Islam. Tak lupa harus ada peran negara yang akan mengeluarkan kebijakan pendidikan yang sesuai dengan aturan Islam.
Jika mendambakan generasi yang berkualitas, yang mampu menguasai iptek sekaligus mempunyai kepribadian mulia, maka tidak bisa diharapkan di dalam sistem kapitalisme saat ini. Semua itu hanya bisa terealisasikan jika menerapkan Sistem Islam, yang akan menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam masalah pendidikan.(***)











