











Empat Hari, Pansel Kab Raja Ampat Arungi Lautan ke 5 Kampung
WAISAI-Pastikan informasi perekrutan Anggota Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Barat Daya (MRP PBD) sampai ke masyarakat adat di Kabupaten Raja Ampat, Tim Panitia Seleksi (Pansel) MRP PBD tingkat Kabupaten Raja Ampat lakukan perjalanan dinas selama 4 hari ke 5 kampung dengan menggunakan transportasi laut (speed) berkekuatan 1000 PK.
Dalam sosilisasi tersebut, dijelaskan terkait tata cara pemilihan anggota MRP Papua Barat Daya.
Dimana masing-masing kampung mengutus 2 perwakilan yakni 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan untuk mendaftarkan diri. Perekrutan anggota MRP PBD tidak melalui proses pemilihan seperti pemilihan Eksekutif maupun Yudikatif, melainkan melalui tahapan seleksi.
Proses prekrutan yang dilakukan oleh Panitia Seleksi, menyasar kampung-kampung yang didominasi oleh suku Maya yang merupakan suku asli Kabupaten Raja Ampat. Hal ini bertujuan, agar adanya keterwakilan anggota MRP PBD dari suku asli Kabupaten Raja Ampat.
Ketua Panitia Pemilihan, Mansyur Syahdan menjelaskan proses sosialisasi perekrutan anggota Majelis Rakyat Papua baru pertama kalinya disosialisasikan hingga ke masing-masing kampung, setelah terbentuknya Provinsi Papua Barat Daya. Sehingga, masyarakat di wilayah terpencil pun tahu bagaimana proses perekrutan hingga terpilihnya perwakilan masyarakat untuk duduk di bangku MRP PBD.
“Kedatangan tim untuk menjelaskan proses perekrutan, dimana orang yang duduk adalah keterwakilan dari 3 unsur yakni unsur agama yang di pilih oleh Provinsi, sedangkan dari kota-kabupaten memilih perwakilan dari unsur adat 2 kursi dan unsur perempuan 2 kursi,”jelasnya saat berkunjung ke 5 kampung tersebut.
Ketua Panitia, menambahkan pihaknya berharap ada keterwakilan dari 4 pulau besar di Raja Ampat untuk menduduki kursi MRP PBD, namun tentunya harus sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Selain sosialisasi, kami juga bagikan lembaran form untuk diisi.
Sementara itu, Sekertaris Pansel, Mohliyat Mayalibit menyarankan agar masing-masing marga dari Suku Maya yang mendiami 4 Pulau Besar di Kabupaten Raja Ampat, agar membuat musyawarah kampung untuk mendukung 1 keterwakilan perempuan dan 1 keterwakilan pria untuk mendaftarkan diri dalam perekrutmen pemilihan anggota MRP.
“Utus perwakilan agar ada keterwakilan dari setiap kampung. Perlu diingat, yang akan mendaftarkan diri, pertama jangan terlibat dengan partai politik kedua tidak terdaftar sebagai pegawai. Dan yang jelas harus tahu bahasa daerah,”ujarnya.
Mohliyat menuturkan harapannya anggota MRP yang terpilih adalah yang bisa melihat dan membawa aspirasi masyarakat khususnya masyarakat adat Suku Maya, yang merupakan suku asli Kabupaten Raja Ampat.
“Kami juga akan mengecek apakah benar telah terjadi musyawarah kampung untuk mengangkat perwakilan, jika tidak maka akan di gugurkan. Karena, Raja Ampat diberikan kuota 4 kursi. Perekrutan ini sangat demonstrasi dan transparansi artinya tidak ada yang ditutup-tutupi,”tuturnya.
Mohliyat menyarankan agar masyarakat yang terpilih nantinya dibuatkan fakta integritas, sehingga jika dalam 1 tahun visi-misinya tidak dilakukan maka di ganti,
Sementara itu, masyarakat mempertanyakan siapa anggota MRP PB terdahulu, yang tidak memperhatikan masyarakat adat khususnya di wilayah Kabare ini. Karena masyarakat (Suku Maya) masih ketinggalan dibandingkan suku Papua lainnya.
“Di sini banyak yang menganggur, karena aspirasi masyarakat tidak dipedulikan, mereka di sana lebih mementingkan diri sendiri. Makanya, kami berharap proses perekrutan, ada keterwakilan 4 kepulauan besar di Raja Ampat, dan anggota anggota MRP harus memahami bahasa dan culture dari masyarakat adat,”tegasnya
Sebelumnya, proses pelaksanaan sosialisasi perekrutan anggota MRP PBD dimulai pada hari Sabtu (15/4) ke Kampung Wawiyai Distrik Waigeo Selatan dengan jarak tempuh 45 menit dari Waisai. Selanjutnya, perjalanan menuju ke Kampung Salio Distrik Waigeo Barat Darat dengan waktu tempuh 1 jam 45 menit.
Karena waktu tidak memungkinkan dan kondisi periaran kurang mendukung, akhirnya tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di sekitar Pulau Salio. Selanjutnya pada Minggu pagi (16/4) Tim Pansel meluncur ke Kampung Kabare Distrik Waigeo Utara dengan jarak tempuh 2 jam 30 menit.
Saat tiba di Kampung Kabare, warga sedang menjalankan Ibadah Minggu di pagi hari, siang hari dan sore hari. Sehingga tim memutuskan untuk menundah sosialisasi di hari Senin (17/4) baru dilaksanakan sosialisasi. Selanjutnya Tim melanjutkan perjalanan ke Kampung Go, Distrik Tiplop Mayalibit, dengan jarak tempuh 3 jam, kemudian Kampung Warsambin, Teluk Mayalibit. Dan kembali ke Waisai.
Hadir dalam sosialisasi, Kepala Kesbangpol Kabupaten Raja Ampat, Abdul Manaf Wihel, Dewan Adat Suku Maya, Johanis C. Arempeley, Kepolisian dan tim pendukung lainnya.(juh)
















