SORONG – Mengukir sejarah untuk pertama kalinya, Hj. Nurjannah Amiruddin resmi menjadi Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Papua Barat Daya (PBD) berdasarkan hasil musyawarah wilayah (Muswil) I ‘Aisyiyah Papua Barat Daya, Jumat (3/3).
Ketua Panitia Muswil, Hj. Mukhsanati Hargani, S.Sos menuturkan, proses Muswil yang akhirnya melahirkan Hj. Nurjannah Amirudin sebagai Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah PBD, sebenarnya berjalan sangat natural. Dimana sejak dilaksanakannya Muswil I DPW Muhammadiyah pada 20 Februari lalu, Aisyiyah pun diminta mempersipkan diri untuk membentuk pengurus di tingkat Provinsi PBD.
Dikatakan Mukhsanati, mulanya tidak ada figur khusus yang disiapkan atau yang memang dijagokan. Sehingga peluang dibuka selebar-lebarnya bagi seluruh kader ‘Aisyiyah. Namun tentu ada syarat yang harus dipenuhi sesuai AD-ART.
“Kemudian kembali lagi bahwa keputusan ada ditangan pemilih. Berapa suara yang didapatkan nantinya. Jadi prosesnya alami, tidak ada figur tertentu yang dijagokan awalnya. Hanya memang ada beberapa usulan dari daerah-daerah, dengan kriteria sesuai AD-ART,” terang Mukhsanati.
Ia berharap, terpilihnya Hj. murjannah Amiruddin sebagai Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah PBD mampu bertanggung jawab penuh terhadap amanah yang diemban. Sehingga bisa fokus membangun ‘Aisyiyah di provinsi termuda Indonesia.
“Harus tanggung jawab, harus fokus, apalagi sekarang tidak sedikit orang yang terlibat dalam lebih dari satu organisasi. Sehingga diharapkan ketua terpilih mampu berkomitmen dalam ber-‘Aisyiyah,” inginnya.
Sementara itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah PBD, Mungawan menuturkan, dirinya berkeinginan agar hadirnya PW ‘Aisyiyah bisa menjadi pendorong untuk mempercepat kinerja dan Organisasi Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah itu sendiri. Selain itu, juga untuk menguatkan dan mendukung program kerja pemerintah Provinsi PBD.
“Oleh karenanya, pimpinan terpilih beserta pengurusnya mohon segera mempercepat langkahnya dalam pelaksanaan program kerja Muhammadiyah secara umum maupun secara khusus pada organisasi otonomnya. Sehingga jangan dampai Muhammadiyah sudah melangkah jauh, terapi Ortomnya masih tertinggal jauh,” pesan Mungawan. (ayu)















