SORONG- Stasiun Meteorologi (BMKG) Sorong kembali mengeluarkan peringatan dini angin kencang di akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023 yang akan melanda wilayah Sorong.
Seperti yang diketahui, akhir-akhir ini wilayah Sorong khususnya Kota Sorong mulai dilanda angin kencang yang disertai dengan hujan. Sehingga, Koordinator Bidang Observasi Stasiun BMKG Meteorologi Sorong, Laode Bangsawan menjelaskan bahwa di bulan Desember 2022 tren angin mulai mengalami peningkatan dibandingkan beberapa bulan lalu.
“Untuk wilayah Sorong dan sekitarnya tren hujan di bulan Desember mulai menurun dibandingkan pertengahan tahun 2022 kemarin. Meskipun demikian, tren angin kencang justru meningkat di akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 nanti,”jelasnya.
Dikatakan Laode, trend angin kencang ini sudah beberapa hari dirasakan, bahkan yang tertinggi terjadi di tanggal 20 Desember 2022, dimana angin kencang mencapai 21 knot. Oleh karena itu, BMKG Sorong mengimbau kepada masyarakat sekitar untuk mewaspadai fenomena angin kencang.
“Dan BMKG juga akan memberikan peringatan terkait kondisi cuaca ekstream yang diperkirakan bisa terjadi di Kota Sorong dan sekitarnya,”terangnya.
Laode menambahkan angin kencang atau lebih dari 20 knot berpotensi terjadi di bulan Desember 2022 hingga awal bulan Maret 2023. Karena, dikatakan Laode kisaran normalnya angin berada pada 3 hingga 15 knot atau dibawa dari 20 knot. Namun jika lebih dari 20 knot atau setara dengan kecepatan 40 Km/jam saat berkendara maka perlu diwaspadai.
“Perlu juga diwaspadai ranting pohon ataupun pohon yang sudah tua serta rumah dengan struktur yang lemah atau semi permanen, itu sangat berbahaya ketika terjadi angin kencang. Namun tidak perlu panik karena hal ini adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari namun bisa diantisipsi sedini mungkin,”tuturnya.
Sementara itu, sambung Laode untuk gelombang air di wilyah perairan Papua Barat diimbau kepada para pengguna transportasi laut agar waspadai tinggi gelombang mencapai 2 hingga 2.5 meter di perairan Raja Ampat bagian utara, perairan Manokwari dan Samudera Pasific utara Papua Barat.
“Kita memang di bulan-bulan ini gelombang relatif lebih rendah, namun waspada perlu,”pungkasnya.(juh)













