Kantor Bandara DEO Rapat Keamanan dan Penanggulangan Keadaan Darurat
SORONG-Meningkatkan risiko indeks keamanan penerbangan di wilayah Bandar DEO Sorong, Kantor Bandara DEO Kota Sorong melaksanakan rapat Komite keamanan Bandar Udara dan penanggulangan keadaan darurat (Top Table), di Rylich Panorama Hotel Kota Sorong, Selasa (27/9).
Rapat komite tersebut dihadiri oleh 42 instansi di wilayah Sorong. Kepala Bandara DEO Sorong Cece Tarya menjelaskan hasil yang diharapkan dalam rapat tentunya sesuai ketentuan yang diatur dalam KM 211 tahun 2020.
Pertama, terbentuknya Komite Keamanan Bandar Udara, yang mana dapat melakukan kegiatan penilaian terkait tingkat ancaman di wilayah Bandara DEO Sorong, kedua Bandara DEO bisa mendapatkan masukan ataupun koreksi ke arah yang lebih baik, dari sisi kegiatan pelaksanaan program keamanan Bandar Udara.
“Di sisi lain terjalinya silaturahmi antar unsur terkait bilamana nantinya, kami akan melakukan kegiatan penanggulangan saat terjadi insiden,”jelasnya kepada Radar Sorong,.kemarin
Untuk menjadi aman, tambah Cece tidak harus terjadi kejadian besar. Namun, untuk memastikan penerbangan aman, perlunya pelaksanaan rapat komite ini.
“Jika penerbangan mau aman masyarakat perlu tahu, makanya perlu sosialisasi apa yang boleh dan tidak agar terbangun budaya aman,”ujarnya.
Tidak di minta-minta, sambung Cece ,misalnya jika terjadi sabotase, maka bagaimana penanganannya. Dan, bagaimana tindakan mitigasi sebelum terjadi, kemudian mencoba menerka risiko apa mungkin yang terjadi akibat gerakan atau pelayanan penumpang.
“Ini merupakan langkah upaya mengurangi risiko (mitigasi) dengan komunikasi dan kolaborasi antar institusi terkait bilamana terjadi suatu penanggulangan keadaan darurat,”ungkapnya.
Cece mengatakan penanggulangan keadaan darurat dibagi dua, yakni penanggulangan darurat yang diakibatkan secara langsung ke unsur pesawat, kedua tanpa unsur pesawat atau sabotase. Hal ini berbahaya, karena Bandara instalasi vital nasional.
Selain itu Bandara juga bersifat Internasional, artinya di seluruh Indonesia jika salah satu Bandara terjadi kegiatan yang mengakibatkan tidak amannya penerbangan maka nilai indeks penerbangan ke Indonesia bisa turun.
“Artinya, masing-masing Bandara Udara berkontribusi terkait dengan peningkatan indeks keamanan penerbangan,”paparnya.
Usai rapat ini, tambah Cece pihaknya akan menyusun sebuah kontigensi latihan, dimana suatu kejadian pada bidang tertentu misalnya masalah seperti virus Covid-19 dan masyarakat dilarang masuk ke Bandara. Kemudian, misalnya ada penumpang yang mengidap penyakit malaria dan menghayal hal-hal yang membahayakan penumpang lain, bagaimana penanganannya dan sebagainya.
“Ini menjadi bagian langkah selanjutnya, walaupun sudah ada programnya tetapi mana yang menjadi prioritas yang dilakukan dalam rangka meningkatkan program keamanan di Bandara DEO Sorong ini,”terangnya.
Pada intinya, Bandara DEO akan menyusun debuah demonstrasi dimana para anggota komite tidak akan tahu. Kemudian, pihak Bandara akan memberikan status merah kepada Bandara lantaran adanya sabotese Tower.
“Nanti dilihat berapa lama akan ditangani sabotase itu, makanya harus dilatih sehingga anggota bisa tahu apa yang harus dilakukan,”pungkasnya.(juh)














