Kepsek SD Moria: Tanah Itu Bersangketa
SORONG – Siswa sekolah Moria Sorong direncanakan akan melaksanakan proses belajar-mengajar di Kampus Victory Sorong dalam waktu dekat. Pasalnya, pengurus Yayasan merasa tidak nyaman lantaran diusir dari sekolah Moria.
Sekertaris II Yayasan Bukit Tabor, Novita Mansober menjelaskan Yayasan Bukit Tabor secara sah sesuai akta Kementerian Hukum dan HAM masih menjadi bagian dari sekolah Moria.
Terkait amar putusan Pengadilan Negeri Sorong aset tanah dan bangunan sudah dimenangkan oleh pengurus Gereja Bathel Gereja Pantekosta maka pihak Yayasan Bukit Tabor memilih keluar dengan membawa organ pengurus hingga siswa maupun guru.
“Karena kalau kita lihat sesuai putusan pengadilan menunjukkan bahwa yang dieksekusi adalah aset tanah dan bangunan, sedangkan siswa dan guru adalah organ Yayasan maka setelah eksekusi ini terjadi maka kita seharusnya keluar,” jelasnya.
Novita menekankan sekolah Moria secara penuh merupakan tanggung jawab Yayasan Bukit Tabor sehingga kemanapun Yayasan berpindah, guru dan siswa ikut bersama. Novita membantah perihal isu eksekusi terhadap pengurus. Menurutnya, Yayasan Bukit Tabor juga memiliki pembina.“Dari Yayasan sebelah dengan kami belum ada pertemuan untuk membahas hal ini. Tidak ada eksekusi pengurus, kami juga memiliki pembina,” tekannya.
Novita menyebut untuk sementara para siswa yakni SD, SMP hingga SMA Moria akan dipindahkan ke Kampus Victory Sorong untuk proses belajar mengajar agar lebih nyaman dan aman. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab dari Yayasan Bukit Tabor.“Kami berharap orangtua siswa tidak terprovokasi karena tujuan kami ini agar anak-anak belajar dengan nyaman. Guru dan anak ini sudah terdata di dinas, hanya saja proses belajar-mengajar ini kita pindah sementara sambil menunggu langkah hukum dari gereja,” ujarnya.
Dikatakan ,pihaknya sudah bertemu dengan Rektor maupun pembina Kampus Victory untuk meminta izin penggunaan kampus. Pihak kampus juga menyetujui dan memberikan waktu selama 1 tahun untuk proses belajar-mengajar. Direncanakan siswa akan menempati 29 ruang kelas yang ada di kampus.
“Jumlah siswa SD 372 siswa, SMP 183 siswa dan SMA 60 Siswa. Ruang kelas di kampus ada 35 dan mencukupi tapi kami hanya gunakan 29 ruangan saja. Di kampus juga sangat aman dan nyaman untuk siswa belajar sebab proses perkuliahan di Victory sore hari. Kami diberi waktu 1 tahun dulu, tapi bisa diperpanjang,”ungkapnya.
Kepala Sekolah SD Moria, Yusak Lala’ar mengaku dirinya diusir keluar oleh pihak pengelola baru tanpa alasan saat akan melaksanakan proses belajar-mengajar. Kini, ia berkantor di luar sekolah dan tetap melayani administrasi yang menyangkut registrasi dan lain sebagainya.
“Saya tetap melayani dan saya punya kantor di perumnas biar dekat dengan sekolah. Karena area itu pengurus sudah dilarang untuk masuk. Padahal data dapodik kami juga masih jelas di Yahasan Bukit Tabor yang sudah berjalan dari tahun 2015,” tuturnya.
Yusak menuturkan adanya management yang baik bakal berdampak pada pendidikan yang baik pula. Sehingga, Yusak menuturkan perpindahan guru dan siswa ke Kampus Victory hanya berlaku sementara.
Dia berharap orang tua murid dapat memahami sebab tanah yang saat ini berdiri sekolah Moria itu sedang dalam sengketa.“Kami rencana Senin pekan depan sudah belajar di Victory, sebab fasilitas di kampus Victory sudah baik dan nyaman dibandingkan Moria yang saat ini,” tuturnya.
Seksi Pendidikan di Yayasan Bukit Tabor, Rani Kristiani menambahkan Yayasan terpaksa memindahkan siswa sebab para pengurus Yayasan tidak diperbolehkan masuk oleh pengelola saat ini. Padahal, menurut Rani para pengurus harus memantau kinerja para guru.
“Guru-guru kami inikan masih terikat kontrak dengan kami makanya masih dalam pengawasan kami juga. Proses belajar-mengajar di Moria saat ini masih aman tapi kurang nyaman karena kami dilarang masuk untuk memantau kinerja guru kami. Dan, perpindahan tempat belajar dari Moria ke Victory sudah diketahui Dinas Pendidikan dan dinas tidak mempermasalahkan hal tersebut,” pungkasnya.(rin)













