Acara Ramah Tamah dengan PJ Gubernur PBD Sempat Tegang
SORONG – Acara Ramah Tamah Penjabat (PJ) Gubernur Papua Barat Daya Dr Muhammad Musa’ad , M.Si dengan PJ Sekda PBD Edison Siagian di Gedung Lambert Jitmau Kantor Walikota, Jumat(16/12) berlangsung lancar. Meski demikian, suasana sempat tegang ketika Ketua Tim Percepatan Pemekaran Provinsi PBD, Drs Ec Lambert Jitmau, MM menyampaikan sambutan yang mengupas bagaimana perjuangannya dalam pembentukan Provinsi ke 38 ini.
Saat Lambert Jitmau menceritakan kalau sebenarnya Provinsi Papua Barat Daya tidak ada dalam agenda pembahasan tahun ini, namun karena Tuhan Baik, setelah dirinya bertemu langsung empat mata dengan Presiden Jokowi , maka disitulah ada angin segar , pembentukan Provinsi PBD yang telah diperjuangkan bertahun-tahun mulai terbuka.
Namun ketika Lambert Jitmau sebagai ketua tim percepatan PBD dengan penuh samangat berbicara tentang perjuangannya di depan PJ Gubernur, Pj Sekda PBD dan dihadapan para bupati/walikota di lingkup Provinsi PBD serta tamu undangan lainnya, seketika Markus Jitmau angkat bicara dan memecah suasana hingga sedikit tegang, lantaran sahutan dari Markus Jitmau membuat Lambert Jitmau langsung meradang, hingga sempat menyuruhnya keluar dari ruangan.
Namun untung saja ketegangan ini tidak berlanjut dan Lambert Jitmau yang tak lain mantan walikota Sorong 2 periode itu pun melanjutkan kembali sambutannya. Menurutnya, Sorong ini adalah “biji matanya” Papua Barat Daya. Diakuinya, awalnya saat proses pembentukan PBD beberapa kepala daerah tidak begitu mendukung yang digambarkan dengan mengepalkan tangannya, tapi setelah PBD terbentuk semua “tepuk tangan”.
Setelah terbentuknya PBD, Lambert Jitmau mengajak semua komponen di Provinsi PBD bersatu padu, bahu membahu , menanggalkan segala kepentingan. Ia berharap regulasi, segala aturan di PBD tetap dilaksanakan sebagaimana yang berlaku di daerah lainnya. Lambert Jitmau juga berpesan agar PBD yang baru lahir ini dirawat, dijaga, dipelihara sehingga pada gilirannya kehadiran Provinsi PBD benar-benar dapat mensejahterakan masyarakat.
Sementara itu, PJ Gubernur Papua Barat Daya Dr Drs Muhammad Musa’ad, M.Si diawal sambutannya mengatakan, semua yang terjadi di muka bumi ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan, melainkan semua sudah direncanakan, atas kehendak Tuhan. Sebelumnya, Ia memperkenalkan istri tercintanya A. Ariyani, SH MH pernah menghabiskan masa kecilnya di Sorong hingga tahun 1978. Karena kehendak Tuhan, Musa’ad yang asal Arab- Fakfak dan istrinya asal Ternate -Jawa bisa menginjakkan kaki kembali ke Sorong.

“Saya mengajak kita semua beryukur , mengikuti, menjaga kodrat yang sudah diskenariokan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,”tandas Musaa’d. Sebelum melanjutkan sambutannya, Pj Gubernur PBD mengajak untuk mengheningkan cipta guna mendoakan tokoh , pejuang PBD yang telah berpulang mendahului kita. Yang diketahui, aspirasi PBD ini bermula dari Jayapura, yang dirintis oleh mantan Gubernur Papua JP Solossa, Dorteis Asmuruf dan lainnya.
Di kesempatan tersebut, Pj Gubernur PBD mengatakan PJ Sekda yang disebut isteri keduanya, hanya bertugas di PBD paling cepat 3 bulan atau paling lama 6 bulan harus mempersiapkan pemilihan, seleksi terbuka Sekda definitif. Dalam melaksanakan tugasnya, PJ Gubernur dan PJ Sekda berbatas waktu sehingga Ia pun mohon dukungan dari semua pihak.
Lebih lanjut, Musa’ad juga mengungkapkan bagaimana Ia yang awalnya dipromosikan untuk menjabat Sekda di Provinsi Papua Selatan. Bahkan informasi ini sudah menyebar di media massa. “Tapi itu kan rencana manusia, tapi rencana Tuhan lain. Saya dikasi PJ Gubernur di Provinsi PBD. Itu yang saya katakan, tidak ada yang tiba-tiba, tidak ada yang begitu saja terjadi, tapi semua sudah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa. Kita sebagai makhluknya, sebagai hambanya harus tunduk, patuh melaksanakannya,”tandas Musa’ad.
Memulai dari nol, PJ Gubernur yakin, PBD akan lari lebih cepat dibanding 3 provinsi DOB lainnya di Papua. Karena kondisi saat ini dimana PBD dianggap sudah luar biasa. Menariknya, selama menjabat sebagai PJ Gubernur PBD, Musa’ad mengatakan tidak ingin melihat penjual asli Papua yang jualan di bawah-bawah meja. “Kita harus carikan tempat yang terbaik, memang saya tahu beda karakter bisnis mama-mama Papua dengan mama-mana Nusantara, tapi memang kita harus siapkan tempat yang baik, yang manusiawi sehingga mereka juga happy, bahagia saat jualan,”tandas Musaa’d. (juh)















