SORONG – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp 9.200 per liter menjadi Rp 12.750/liter, artinya naik Rp 3.550 membuat masyarakat resah. Ini menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah untuk hadir mengayomi masyarakat.
“Covid-19 masih melanda, kebutuhan ekonomi terus meningkat disaat yang susah ini, kami meminta pemerintah untuk membatalkan keputusan ini,” terang Ketua BEM Universitas Victory Sorong, Muhammad Duwi Prayoga, kepada Radar Sorong.
Ia menyebutkan, Covid-19 yang berkepanjangan menyebabkan krisisnya ekonomi, kini muncul pemberitaan terkait kenaikan harga bahan bakar minyak BBM jenis Pertamax di tengah kelangkaan pertalite serta penghilangan premium ini sangat memberatkan masyarakat.
“Ini sama saja Pemerintah mempertontonkan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan untuk hadir di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi salah satu akar masalah yang membuat amarah masyarakat public,”tuturnya.
Dirinya menegaskan kepada pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga BBM yang berdampak pada harga pokok dan kondisi sosial. Kepada pihak legislative harus tetap berada pada fungsinya sebagai kontrol pemerintah untuk tetap konsisten berpihak kepada kepentingan rakyat kecil.(**/rat)















