MANOKWARI – Kecelakaan lalu lintas tunggal yang dialami mobil dump truk Mitsubishi nomor polisi PB 8374 MC di Jalan Trans Papua Pegunungan Arfak-Manokwari Km 10 di turunan panjang dan menikung menewaskan 18 orang tersebut milik Toko Tengah yang sedang melakukan aktifitas penambangan di Pegunungan Arfak.
Kendaraan yang ditumpangi masyarakat NTT tersebut hendak pulang ke Manokwari guna merayakan Paskah. Namun naas, pukul 02.00 WIT, truk hilang kendali sehingga keluar dari lajur jalan dan menabrak tebing di kiri jalan yang diakibatkan kondisi jalan menurun serta tikungan tajam, ditambah lagi kondisi ban belakang yang tidak layak jalan (botak, red). Kendaraan naas tersebut memuat 34 orang serta kayu besi campur 103 batang, 1 rangkaian plat besi cor ukuran 16 mm, 1 unit motor Yamaha Jupiter, 1 unit chainsaw dan barang-barang milik korban.
Kapolres Manokwari, AKBP Parasian H. Gultom saat jumpa pers, Rabu (14/4) mengatakan, dari olah tempat kejadian perkara (TKP), truk tersebut datang dari arah Minyambouw tujuan Warmare. Sesampainya di turunan Km 10 setelah melewati Kampung Duabey, truk mengalami kecelakaan. Diduga pengemudi kurang berhati-hati sehingga mobil tidak kuat menahan beban karena kondisi kendaraan dalam keadaan over load, ditambah lagi kondisi ban kiri belakang tidak layak jalan (ban botak,red). ”Pengemudi tidak mampu mengemudikan kemudinya dan mobil langsung meluncur menabrak bagian kiri tebing yang mengakibatkan penumpang yang ada di bak belakang terpental,” terang AKBP Parasian Gultom kepada wartawan di Manokwari, Rabu (13/4).
Ia menjelaskan, dari 34 orang yang diangkut truk naas tersebut, 18 orang diantaranya meninggal dunia terdiri dari 16 laki-laki dan 2 orang perempuan, seorang diantaranya balita. 18 korban tewas masing-masing bernama Andriruna (24), Servasius L (40), Alexander M (43), Ardianus K, Linda (20), Paulus, Istin N (3), Hengki B (32), Santus, Stevanus M (39), Edmon A, Bernadus N (25), Yohanes T (25), Vincencius N (41), Gregorius K (43), Lau S (35), Longginus (30), dan Eduardus B (27).
Korban luka berat terdapat 10 orang terdiri dari 9 laki-laki dan 1 perempuan, serta luka ringan terdapat 6 orang. ”13 orang meninggal dunia di tempat kejadian, sedangkan korban selamat saat ini mendapatkan perawatan dari tim medis di RSAL 5 orang, RS Pratama Warmare 5 orang, dua diantaranya sudah dipulangkan ke keluarga. RSUP PB 2 orang serta rawat jalan 4 orang,” jelasnya. “34 orang yang diangkut truk naas tersebut lanjut Gultom, terdiri dari 1 orang sopir truk, 2 orang di samping sopir dan 31 orang berada di bak truk. Kerugian materil dari lalulintas tunggal diperkirakan sebesar Rp250 juta,” sambungnya.
Menurut Kapolres Manokwari, truk tersebut memang bukan diperuntukkan untuk orang, melainkan untuk mengangkut barang. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan tersebut, diantaranya faktor manusia dalam sopir tidak cakap dalam melintasi jalan menikung yang menikung tajam sehingga sopir lepas kendali. Faktor cuaca pada malam hari atau pagi hari menjelang subuh kondisi jalan tanpa penerangan. ”Kondisi terakhir kendaraan pada saat olah tempat kejadian perkara ditemukan porseneling ada pada gigi 3 dan rem tangan ditarik, sehingga ada kemungkinan pengemudi menarik rem tangan sebelum menabrak tebing,” ungkapnya. ”Jalan juga menjadi salah satu faktor yang menentukan dimana kondisi jalan menurun tikungan tajam dengan bagian jalan tidak ada pagar pelindung dan tidak ada rambu-rambu peringatan di sekitar tempat kejadian perkara. Pengemudi juga tidak memiliki SIM B1 Umum,” imbuhnya.
Mendalami kejadian tersebut, kepolisian telah mengambil keterangan seadanya dari tiga orang korban karena dalam kondisi kritis. Pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kebijakan, yang mana tidak hanya pemerintah daerah melainkan juga para pemilik hak ulayat yang digunakan untuk penambangan.
Perusahaan Tambang Bertanggung Jawab
Terpisah, Ketua Ikatan Keluarga Flobamora Papua Barat, Clinton Tallo mengatakan semua pekerja tambang didatangkan langsung dari Nusa Tenggara Timur oleh Toko Tengah sebagai pemilik perusahaan tambang. Ia menjelaskan pihak perusahaan akan bertanggung jawab sepenuhnya sampai jenazah korban diterbangkan ke Kupang NTT. ”Pihak perusahaan tambang sudah berkoordinasi dengan Pengurus Ikatan Flobamora, rencananya besok (hari ini, red) korban akan diterbangkan langsung dari Manokwari ke Kupang NTT pukul 12.00 WIT menggunakan pesawat Lion Air dan diperkirakan sampai di Kupang NTT pukul 15.00 WIT,” jelas Clinton Tallo. Clinton mengungkapkan para korban berasal dari Amarasi, Sikka, Atambua, dan Malaka. Korban paling banyak berasal dari Kabupaten Atambua dan Malaka.
Ucapan duka cita datang dari berbagai elemen masyarakat terutama petinggi-petinggi pemerintah daerah provinsi Papua Barat dan Kabupaten Manokwari. Gubernur Papua Barat, Drs Dominggus Mandacan,MSI menyempatkan diri datang ke kamar mayat RSUD Manokwari, mengatakan turut berduka cita atas kejadian yang dialami warga dari Ikatan Keluarga Flobamora. ”Ucapan duka yang sangat mendalam untuk keluarga korban yang ditinggalkan sehingga keluarga yang ditinggalkan mendapat ketabahan,” ujarnya dalam kesedihan.
Ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak terutama kepolisian, tim SAR dan petugas medis yang mana telah bergerak cepat dalam merespon kejadian tersebut. ”Ini merupakan sejarah kecelakaan lalu lintas yang paling besar di Papua Barat yang banyak memakan korban,” ucap Dominggus Mandacan.
Senada, Bupati Manokwari, Hermus Indou yang ditemui wartawan saat korban disemayamkan di Sekretariat Ikatan Keluarga Flobamora mengatakan, Pemerintah Kabupaten Manokwari beserta masyarakat mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kejadian laka maut di Minyambouw yang menimpa warga dari keluarga Flobamora. ”Semua terjadi diluar dari harapan kita semua. Pemerintah daerah berharap apa yang telah terjadi bisa menjadi perhatian dan pembelajaran untuk kita semua masyarakat Manokwari termasuk para sopir yang menggunakan kendaraan yang melintasi Jalan Trans Papua Pegunungan Arfak-Manokwari dengan medan jalan yang sangat susah dan jangan menganggap remeh dalam perjalan,” ujar Hermus. ”Aktifitas masyarakat harus dikendalikan sehingga jika terjadi hal-hal seperti ini yang dirugikan adalah masyarakat,” katanya menambahkan. (bw)















