Perempuan dan Anak yang Alami Kekerasan Harus Berani Speak Up

SORONG- Dalam rangka menekan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta meyakinkan para korban tindak kekerasan agar berani bicara atau speak up, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Sorong melakukan aksi bakar 1.000 lilin di Taman Sorong City Sorong, Sabtu (10/12).
Aksi bakar lilin tersebut merupakan bentuk sosialisasi menolak kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang diharapkan dapat Menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak serta Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus yang dialaminya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Sorong, Eltje Doo, SE.MM yang memimpin aksi bakar lilin di Sorong City mengatakan bahwa jangan takut untuk melaporkannya, jika kita yang melihat, kita yang merasakan atau kita yang mendapatkan kekerasan itu.
“Jangan takut untuk bicara, karena Undang-Undang menjamin hal tersebut.
Apalagi sekarang ada undang-undang kekerasan seksual, UU Nomor 12 Tahun 2022. Saya berharap perempuan itu bisa lebih banyak terlindungi. Jadi kenapa memilih membakar lilin, karena lilin sebuah penerangan ketika gelap. Nah kita berharap lilin itu bisa menjadi petunjuk untuk ke sebuah kebaikan,” jelasnya.
Eda -sapaan akrabnya – mengungkapkan bahwa Setelah 16 hari Anti kekerasan terhadap perempuan yang dimulai sejak 25 November hingga 10 Desember ini tepat di Hari HAM, pihaknya berterima kasih atas antusias masyarakat yang sangat tinggi.
“Setelah 16 hari hingga di 2 hari puncak ini, saya melihat bahwa ternyata kita yang berkumpul di sini Kita sadar bahwa kekerasan itu harus dilawan,” katanya.
Lanjut dikatakan, bahwa yang hadir pada kegiatan tersebut dari semua organisasi wanita, juga tokoh agama, tokoh perempuan, aktivis serta pemerhati tetapi juga seluruh ibu-ibu dari kelompok gereja, kelompok pengajian dari para politisi dan dari semua profesi wanita yang hadir juga anak-anak artinya bahwa kita semua sudah mulai sadar.
“Saya sangat berterima kasih, melihat antusias masyarakat hari ini, artinya mereka mendukung tugas yang kami lakukan selama ini. Karena mereka berharap ke depan itu menjadi program rutin. Sehingga setiap ada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan untuk kampanye atau sosialisasi, yang berkaitan dengan kekerasan maka kita akan mengundang bapak-bapak juga,” ujarnya.
“Kemudian melalui kegiatan ini bentuk sosialisasi, saya berharap informasi ini menyebar sampai di seluruh masyarakat dan bila ada yang mendapati kekerasan di luar sana maka harus dilaporkan dan speak up,” sambungnya.
Sementara itu, salah satu tokoh agama yakni Ketua Klasis Sorong Pdt.Jeane Fonataba Haurissa mengatakan bahwa kegiatan ini adalah sebuah perjuangan kemanusiaan yang menembus batas suku dan agama, karena kita semua mengetahui bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak itu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Atau pelanggaran HAM.
“Nah, untuk itu kalau ada kampanye 16 hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan anak. Itu adalah sesuatu yang luar biasa, dan memang sebenarnya itu tidak bisa hanya berhenti di 16 hari saja. Karena hidup kita ini setiap hari, setiap detik bahwa tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak itu meningkat,” ungkapnya.
Lanjut dikatakan, mungkin ini ibarat gunung es, ada banyak kasus Kekerasan yang tidak terungkap. Kalau Orang bilang angkanya cuma segitu, angkanya cuma 52 Kasus.
“Bagi saya sebenarnya itu bukan 52, ada yang tersembunyi. Karena seringkali orang merasa bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak itu hal biasa, masalah rumah tangga, itu rahasia dan tidak perlu diungkapkan,” katanya.
“Tapi negara menjamin untuk perempuan dan anak supaya kita bisa hidup lebih baik. Kapan? di mana sebenarnya kita menciptakan itu? ya harus mulai dari rumah. Kapan? setiap hari. siapa? Yaitu kita bersama-sama, perempuan, laki-laki dan anak-anak. Seperti sekarang hari ini kegiatannya luar biasa. Memang harusnya juga dihadiri oleh laki-laki, banyak bapak-bapak karena kekerasan ini dilakukan oleh siapa? terhadap perempuan dan anak-anak,” jelasnya.
“yang banyak kejadian tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak membuktikan bahwa perempuan dan anak-anak rentan terhadap kekerasan mulai dari rumahnya. Yang dilakukan oleh siapa? yang dilakukan oleh suami, oleh saudara laki-laki dan ini harus kita hadapi dan atasi bersama-sama,” pungkasnya.
Dari pantauan Radar Sorong, usai Kadis PPPA membakar lilin yang pertama, diikuti para tokoh agama, aktivis perempuan, pemerhati, dan organisasi gabungan wanita serta anak- anak.
“Senang, sa tolak kekerasan pada perempuan dan anak-anak,” ungkap Rio, salah satu anak yang ikut.(zia)















