SORONG – Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Jerman melalui Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) kembali melanjutkan kerja sama dalam Program Hutan atau Forest Program, dengan tahap terbaru yakni Forest Program VI yang secara khusus difokuskan pada rehabilitasi Mangrove di Provinsi Papua Barat Daya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengelolaan, pelestarian, dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan yang tidak hanya menargetkan aspek lingkungan, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Forest Program VI di Provinsi Papua Barat Daya ini kami fokuskan pada rehabilitasi mangrove,” kata Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi dalam kegiatan sosialisasi di Kota Sorong, Rabu (16/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa rehabilitasi mangrove yang dilakukan bukan hanya sebatas penanaman pohon, namun juga mencakup proses perawatan dan pemulihan ekosistem. Program ini menggunakan pendekatan 3M, yaitu mempertahankan, meningkatkan, dan memulihkan.
“Untuk mangrove, kami tidak hanya menanam. Kami ingin memastikan ekosistemnya benar-benar pulih dan berfungsi. Konsep 3M menjadi landasan kami dalam pelaksanaan program ini,” ujarnya.
Secara nasional, Forest Program telah berjalan, namun untuk Papua Barat Daya, saat ini masih dalam tahap penyusunan kegiatan secara detail. Tujuannya, agar pelaksanaan program memberikan dampak nyata di berbagai aspek.
“Forest Program VI ini diharapkan bisa membawa manfaat langsung dari sisi ekonomi masyarakat dan daerah, menjaga keseimbangan ekologi melalui pemulihan mangrove yang terdegradasi, serta mendorong partisipasi sosial masyarakat sekitar ekosistem mangrove,” tambah Ristianto.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, menyambut baik pelaksanaan program ini. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Daerah mendukung penuh Forest Program VI, karena sejalan dengan visi pelestarian lingkungan di wilayahnya.
“Pemerintah Daerah mendukung penuh Forest Program. Bukan hanya soal melestarikan mangrove, tapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat berupa ilmu dan nilai-nilai dari menjaga alam,” kata Kelly Kambu.
Menurutnya, potensi mangrove di Papua Barat Daya cukup besar dan penting untuk dijaga. Program ini akan difokuskan di dua wilayah yakni Kota Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan.
“Potensi mangrove di wilayah ini besar. Maka program ini sangat penting untuk dilakukan agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” tutupnya.(zia)













