SORONG – Direktur Pemasaran Nusantara Deputi Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Dwi Marhen Yono menjelaskan bahwa, Kemenparekraf tahun ini mempunyai banyak PR dari Presiden Jokowi.
“Setelah pandemi ini memang ekonomi lagi susah, bagaimana resesi global, rantai pasok ada perang Ukraina dengan Rusia ini luar biasa, sehingga yang bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia itu hanya dengan ekonomi kreatif,” ujar Dwi Marhen Yono kepada wartawan di Aimas Convention Centre (ACC) Kabupaten Sorong, Rabu (3/5).
Jadi pihaknya mendorong baik itu di Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Papua, semua bergerak dari ekonomi kreatif, yang bisa dikerjakan sambil momong anak, sambil mengajar, dan seterusnya.
“Harapannya apa? Akan ada 4,4 juta pekerja ekonomi kreatif yang bisa memproduksi karya-karya kreatif. Ketika ada 4,4 juta lapangan kerja baru harapannya itu resesi akan turun. Contoh sekarang Inggris antri di Bank Dunia, negara selevel Inggris yang punya liga sepakbola terbesar itu sekarang antri pinjam uang di Bank Dunia karena resesi global,” terangnya.
Sekarang Presiden Jokowi menginginkan semua masyarakat bergerak melalui kegiatan ekonomi kreatif.”Yang bisa bikin kuliner bikin kuliner, yang bisa bikin tas bikin tas, nanti dari pemerintah pusat dan pemda akan membantu mulai dari packagingnya dan pemasarannya,” ungkapnya.
Dikatakan bahwa, pemasarannya tidak manual lagi tapi by online, menggunakan barcode, sehingga kapanpun bisa pesan barang-barang via online, lewat Hp. Sekarang di Indonesia penduduknya 275 juta, tapi pemegang HP sebanyak 350 juta, karena 1 orang ada yang punya 2 Hp atau lebih. “Sehingga itu yang harus kita maksimalkan, kalau kita hanya mengandalkan pemasaran konvensional perputaran uangnya akan lambat. Sehingga kita tidak boleh melawan kemajuan zaman tapi harus kita manfaatkan, jadi saya sendiri mau bawa 2-3 barang tidak mungkin malas tapi kalau pakai barcode kita klik nanti saya tiba Jakarta barang juga sampai juga di Jakarta.
“Nanti kami dari pemerintah pusat akan membantu bagaimana digital marketing itu bisa jalan dari Sabang sampai Merauke, dari ranah Jawa sampai ranah Papua itu sama, jadi presiden menginginkan pemerataan pembangunan termasuk juga pemasaran produk-produk ekonomi kreatif,” tegasnya.
Dikatakan pula bahwa, potensi Sorong itu Raja Ampat. Raja Ampat itu masuk 10 destinasi prioritas nasional. Ada Labuan Bajo karena komodonya, ada Mandalika karena sirkuitnya, ada Borobudur karena candinya, Sorong ini karena Raja Ampatnya. Jadi kalau uang 5000 itu tidak masuk, tapi uang 100 ribu masuk. Apa maksud dari uang 100 ribu ada Raja Ampat nya? Kelasnya uang paling tinggi di Indonesia itu Rp 100 ribu, kami pemerintah pusat mengakui Raja Ampat itu kelasnya paling tinggi.
“Tinggal PR kita bagaimana menaikkan kualitasnya, kalau istilah kerennya quality tourism, kalau di Jogja itu mohon maaf istilahnya mass tourism, orang yang datang banyak buang uangnya hanya Rp 10 ribu, sampahnya banyak, bagaimana kalau yang ke Raja Ampat buang uangnya Rp 5 juta, sampahnya sedikit, jadi quality tourism,” terangnya.
Di Bali itu majunya pariwisata butuh waktu 80 tahun, Raja Ampat baru 10 tahun, sehingga masih punya banyak waktu untuk memajukan Raja Ampat. “Tapi tidak bisa kami sendiri dari pemerintah pusat, atau dari Kemenparekraf, tapi semua stakeholders harus terlibat mulai dari pemerintah, media, akademisi, komunitas, termasuk semua industri dan stakeholder pariwisata harus bergerak bersama-sama,” tandasnya. Kalau Presiden Jokowi menginginkan adanya tol laut, bagaimana tol laut Sorong-Raja Ampat tidak sehari sekali tapi 10 kali sehari.
“Sehingga kalau semakin banyak otomatis cost-nya makin rendah, kalau cost-nya rendah semua akan datang ke Raja Ampat,” pungkasnya.(akh)















