SORONG – Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Sorong berencana mengembangkan lokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan fungsi seni-budaya yang berlokasi di pinggir jalan poros Sorong-Aimas, tepatnya di depan Keik Malamoi Km 13 Kota Sorong, sepanjang lebih kurang 500 meter. Kepala Dinas PPLH Kota Sorong, Julian Kelly Kambu,ST,MSi mengatakan, begitu banyak potensi anak-anak asli Papua di dalam menggali seni budaya Papua, tetapi selama ini mereka tidak punya ruang. “Sehingga kami melihat satu lokasi walaupun kecil, tapi cukup representative untuk dikembangkan menjadi RTH dengan fungsi seni budaya,” kata Kelly Kambu kepada Radar Sorong di lokasi rencana RTH di Km 13, kemarin.
Dijelaskannya, Perda Kota Sorong Nomor 17 Tahun 2019, RTH digolongkan berdasarkan fungsi ekonomi, fungsi ekologi dan fungsi sosial budaya. RTH di Km 13 ini memadukan padukan fungsi ekologi dan fungsi sosial budaya. “Kedepan RTH ini kita jadikan pusat, center, bengkel seni budaya. Tempat berkumpul anak-anak Papua untuk berekspresi disini dengan ide, gagasan dan potensi mereka dalam bidang seni budaya, baik itu seni lukis, seni tari, seni suara dan sebagainya,” jelasnya.
Dikatakan, banyak anak-anak asli Papua, dari Kampung Salak maupun dari kabupaten tetangga datang ke Km 13 di Sanggar Seni Budaya Anggas Art di Km 13 ini. “Artinya, anak-anak asli Papua membutuhkan ruang untuk menyalurkan ekspresi dan potensi mereka, tapi selama ini tidak ada ruang untuk itu. Karena itu, kita kembangkan RTH dengan fungsi seni budaya. Kedepan mungkin disini bisa menampilkan music-musik akustik dan music khas Papua, bisa menari, photoshop, melukis dan sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, bidang seni budaya bisa dikembangkan menjadi industry kreatif, mengingat anak-anak muda asli Papua sangat berpotensi, hanya saja butuh ruang dan dukungan untuk mewujudkannya. “Misalnya mereka ini butuh kompresor, dan peralatan pendukung untuk melukis. Hasil karya berupa lukisan khas Papua, mahkota cenderawasih imitasi dan sebagainya, ini banyak sekali peminatnya. Banyak juga pesanan-pesanan baju dengan gambar khas Papua, tapi mereka terkendala sarana prasarana pendukung, mereka butuh mesin cetakan. Karena itu, mereka ini bisa diberdayakan, minimal dana Otsus ini disisihkan untuk memberdayakan anak-anak asli Papua untuk bisa mengembangkan potensi seni budaya mereka,” tandasnya.
Dicontohkannya, salah satu hasil karya seni budaya berupa mahkota cenderawasih imitasi dengan memafaatkan spon sisa-sisa jok motor. “Mahkota Cenderawasih Imitasi yang tidak ada bedanya dengan mahkota cenderawasih yang asli. Dengan demikian, semua kegiatan, atau tamu-tamu yang datang ke Kota Sorong ini, kalau mau menggunakan mahkota cenderawasih, bisa datang langsung ke bengkel RTH Seni Budaya di Km 13 ini. Selain kita menjaga burung cendrawasih di alam liar, mahkota cenderawasih imitasi ini kualitasnya sangat baik,” tegasnya.
Pihaknya di Dinas PPLH lanjut Kelly Kambu, akan perjuangkan ke DPR, mungkin di anggaran perubahan 2022 atau anggaran tahun yang akan datang, untuk menganggarkan dana membiayai penataan dan pengembangan kawasan RTH dengan fungsi seni budaya di Km 13 ini. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata, Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, agar pemuda-pemuda asli Papua yang punya potensi di bidang seni budaya, mungkin bisa bekerjasama dengan BLK untuk melatih anak-anak asli Papua agar terampil dalam bidang seni budaya ini. “Ke depan, bengkel RTH seni budaya ini bisa jadi sumber penghasilan mereka. Selain kita arahkan anak-anak asli Papua untuk mengembangkan potensi seni budaya mereka, disini bisa juga untuk mengarahkan mereka secara positif. Disini kita bisa edukasi mereka, jangan ko mabuk, jangan ko miras, jangan ko hisap ganja, jangan ko narkoba,” pungkas Kelly Kambu. (ian)














