Pelindo Regional 4 Sorong Dorong Penguatan Pelabuhan sebagai Penggerak Produktivitas Ekonomi Papua Barat Daya
SORONG – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Regional 4 Sorong mendorong penguatan peran Pelabuhan Sorong sebagai simpul logistik strategis di kawasan Indonesia Timur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing Papua Barat Daya.
Upaya tersebut sejalan dengan kunjungan kerja Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik, Bapak Uke Mohammad Hussein, ke PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 Sorong pada 29 Oktober 2026. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka penyusunan kebijakan peningkatan produktivitas, dengan menempatkan peran infrastruktur kepelabuhanan, efisiensi logistik, dan konektivitas maritim sebagai bagian penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.

Kunjungan tersebut juga berkaitan dengan pemaparan Pelindo bertajuk “Peran Strategis Pelabuhan sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat Daya” yang disampaikan pada 28 Oktober 2026 di Kantor Gubernur Papua Barat Daya, Sorong.
Dalam kegiatan tersebut, General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 Sorong, Sonny Uktolseya, memaparkan potensi pengembangan Pelabuhan Sorong, peningkatan produktivitas layanan, serta penguatan konektivitas maritim untuk menunjang aktivitas ekonomi di Papua Barat Daya.
Pelabuhan dinilai memiliki peran strategis dalam menghubungkan pusat produksi, kawasan industri, jaringan transportasi, dan pasar. Oleh karena itu, peningkatan kinerja pelabuhan menjadi salah satu faktor penting dalam memperlancar distribusi barang, memperkuat rantai pasok, dan mendukung efisiensi biaya logistik.
Dikatakan bahwa Berdasarkan data Pelindo, Pelabuhan Sorong mencatat arus petikemas sebanyak 60.987 TEUs sepanjang 2025. Pada periode yang sama, arus barang nonpetikemas mencapai 61.762 ton/m³, arus penumpang sebanyak 285.439 orang, dan kunjungan kapal sebanyak 1.976 kali.
“Dari sisi infrastruktur, Pelabuhan Sorong memiliki dermaga multipurpose sepanjang 470 meter, lapangan penumpukan seluas 53.356 meter persegi, serta terminal penumpang seluas 2.000 meter persegi,” katanya.
Lanjutnya, Infrastruktur tersebut mendukung pelayanan kapal, kegiatan bongkar muat barang, dan mobilitas penumpang yang menghubungkan Sorong dengan berbagai wilayah.
“Optimalisasi kapasitas dan produktivitas layanan kepelabuhanan diharapkan dapat memperlancar arus barang serta memenuhi kebutuhan distribusi masyarakat dan dunia usaha,” katanya.
Dalam meningkatkan efisiensi operasional, Pelindo terus menjalankan transformasi melalui standardisasi proses kerja, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta penguatan aspek keselamatan dan dukungan operasional.
Salah satu langkah digitalisasi di Terminal Petikemas Sorong adalah penerapan sistem Terminal Operating System (TOS) Nusantara yang mulai beroperasi pada 10 Juli 2025.
Penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan perencanaan dan pengendalian operasional terminal. Selain itu, efisiensi waktu pelayanan kapal (port stay) dan waktu penanganan barang (cargo stay) menjadi aspek penting dalam meningkatkan produktivitas layanan.
Waktu pelayanan yang lebih efisien berpotensi menekan biaya operasional pelayaran, mempercepat proses distribusi, dan meningkatkan kelancaran rantai pasok.
Pelindo turut memaparkan peluang pengembangan Pelabuhan Sorong sebagai sub-hub atau simpul penghubung logistik untuk wilayah Papua bagian atas.
Konsep tersebut dapat dikembangkan melalui konsolidasi rute pelayaran dengan skema hub and spoke, yaitu pola jaringan yang menghubungkan pelabuhan utama dengan pelabuhan-pelabuhan pengumpan.
Dalam konsep pengembangan yang dipaparkan, Makassar berpotensi menjadi hub utama kawasan Indonesia Timur, sementara Sorong berpotensi berperan sebagai sub-hub untuk wilayah Papua bagian atas. Adapun Ambon berpotensi dikembangkan sebagai sub-hub untuk wilayah Papua bagian bawah.
Pengembangan jaringan tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas antarpelabuhan, meningkatkan efisiensi distribusi barang, dan memperbaiki keterhubungan wilayah-wilayah yang mengandalkan transportasi laut.
Realisasinya memerlukan perencanaan yang terukur, termasuk penyesuaian kapasitas pelabuhan, pola pelayanan, jaringan pelayaran, serta kebutuhan logistik di setiap wilayah.
Selain pengembangan jaringan pelayaran, Pelindo melihat peluang integrasi Pelabuhan Sorong dengan kawasan industri, pusat distribusi, serta jaringan transportasi darat dan udara.
Konsep integrated logistics hub yang dipaparkan mencakup potensi keterhubungan Pelabuhan Sorong dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, kawasan industri, Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO), dan Jalan Trans-Papua.
Integrasi tersebut berpotensi memperlancar pergerakan barang dari kawasan produksi menuju pelabuhan dan pasar, baik untuk distribusi domestik maupun perdagangan yang lebih luas.
Dalam materi pemaparan, KEK Sorong tercatat memiliki luas 520 hektare, sedangkan Kawasan Industri Teluk Bintuni memiliki luas 2.116 hektare. Kedua kawasan tersebut merupakan bagian dari potensi pengembangan kegiatan industri dan logistik di Papua Barat Daya dan kawasan Papua.
Keterpaduan infrastruktur dan jaringan distribusi diharapkan dapat mendukung aktivitas usaha, memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Digitalisasi dan integrasi data juga menjadi bagian dari upaya Pelindo memperkuat ekosistem logistik nasional.
Melalui platform ADHARA atau Satu Data Maritim, Pelindo mengarahkan konsolidasi data aktivitas logistik maritim untuk mendukung keterhubungan informasi dan proses logistik.
Inisiatif tersebut juga diarahkan untuk memperkuat interoperabilitas dengan Indonesia National Single Window (INSW) dalam kerangka National Logistics Ecosystem (NLE), sekaligus mendukung terwujudnya Satu Data Indonesia.
Integrasi sistem dan data diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antarpelaku logistik, mendukung efisiensi proses pelayanan, serta memperkuat keterhubungan aktivitas logistik laut dengan moda transportasi lainnya.
Penguatan peran pelabuhan merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah. Infrastruktur yang memadai, layanan yang produktif, konektivitas terintegrasi, dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor pendukung kelancaran distribusi barang serta peningkatan efisiensi logistik.
Bagi Papua Barat Daya, Pelabuhan Sorong memiliki potensi strategis untuk memperkuat konektivitas antardaerah, mendukung distribusi kebutuhan masyarakat, serta menunjang kegiatan perdagangan dan industri.
Melalui kunjungan kerja dan koordinasi dalam rangka penyusunan kebijakan peningkatan produktivitas, Pelindo Regional 4 Sorong berharap pengembangan potensi kepelabuhanan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem logistik yang terintegrasi.
Dengan peningkatan produktivitas layanan dan penguatan konektivitas maritim, Pelabuhan Sorong diharapkan dapat memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat Daya dan daya saing kawasan Indonesia Timur.

Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik, Uke Mohammad Hussein, S.Si, MPP menjelaskan bahwa direktorat tersebut merupakan unit baru hasil bentukan SOTK baru Bappenas yang baru berjalan selama satu tahun.
Salah satu fokus utamanya adalah menerjemahkan Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) melalui Peraturan Presiden (Perpres) yang mengusung tema “Papua Sehat, Cerdas, dan Produktif”.
Kota Sorong dipilih sebagai lokasi kunjungan strategis karena wilayah ini diproyeksikan dalam RPJMN dan RPJP sebagai gerbang menuju kawasan Pasifik. Kendati demikian, pemerintah pusat menyoroti adanya sejumlah hambatan di lapangan, salah satunya status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong yang kini memasuki perpanjangan masa kedua dan memerlukan evaluasi lanjutan.
Melalui kunjungan ini, Bappenas berupaya mencari fakta-fakta lapangan guna mengidentifikasi tantangan yang membuat pembangunan KEK Sorong serta sektor industrinya belum berjalan sesuai rencana awal. Langkah ini diharapkan mampu merumuskan solusi dan inovasi kebijakan agar Sorong dapat bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan nasional yang memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Papua.
Selain meninjau kesiapan infrastruktur logistik bersama Pelindo, Bappenas juga memperluas jangkauan kunjungan ke sejumlah instansi terkait, Badan Percepatan, serta sektor swasta terutama di bidang perikanan. Sektor perikanan dinilai sebagai salah satu sektor unggulan berdasarkan data statistik daerah.
Dalam agenda kunjungannya ke industri perikanan, Bappenas berdialog dengan perusahaan yang telah sukses melakukan ekspor guna mempelajari praktik terbaik (lesson learned) serta menggali hambatan yang dihadapi perusahaan lain yang belum dapat menembus pasar ekspor.
Bappenas menekankan pentingnya konsistensi dan kerja keras dari seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga sektor swasta dan masyarakat untuk merealisasikan rencana pembangunan secara detail. Dengan kolaborasi yang erat dan perbaikan kebijakan yang tepat sasaran, pemerintah optimis kesejahteraan masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya dapat meningkat secara lebih cepat.(zia)














