

SORONG – Langkah nyata penanganan sampah organik terus didorong di wilayah Provinsi Papua Barat Daya. Lurah Klawalu, Distrik Sorong Timur, bersama warga dan pengurus RT/RW melakukan kunjungan ke Rumah Maggot Kelly untuk mempelajari sistem pengolahan sampah dan budidaya lalat Black Soldier Fly (BSF).
Dalam kegiatan tersebut, pihak pengelola memberikan edukasi mengenai siklus hidup lalat BSF, masa panen, hingga perawatan harian. Selain mengurangi penumpukan sampah, budidaya ini dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi melalui hasil olahan pakan ternak untuk ikan dan unggas, serta pembuatan pupuk organik dari limbah kelapa dan sampah dapur.
Pengelola Rumah Maggot Kelly, Supandi menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga dan menjelaskan materi pengolahan yang diberikan selama kunjungan.
“Saya sebagai pengelola Rumah Maggot Kelly di sini sangat berterima kasih dengan kehadirannya warga dari Kelurahan Klawalu. Mudah-mudahan ini bisa di-ATM ya sama masyarakat di sana, yaitu amati, tiru, dan dimodifikasi lebih maksimal lagi. Karena kami berharap kehadiran kami di Provinsi Papua Barat Daya ini tidak cuma berdampak pada lingkungan, tapi dari segi pengetahuan kami bisa menularkan ilmunya juga. Tadi itu kita sedikit tentang siklus dari rumah lalat BSF, siklusnya, habis itu tentang masa panennya, dan perawatannya seperti apa,” katanya, Selasa, (11/8).
Inisiasi ini disambut baik oleh Lurah Klawalu, Yohanis yang menegaskan kesiapan jajarannya di tingkat bawah untuk menjalankan program penanganan sampah berbasis maggot tersebut.
“Alhamdulillah, puji Tuhan bagi saya sebagai pimpinan Kepala Kelurahan wilayah Kelurahan Klawalu, Klasaman Timur, beserta dengan rekan-rekan saya termasuk warga saya, Ibu RT, Bapak RT, kami sangat bersyukur sekali. Dibilang Anita, Anita itu ‘ada nilai tambah’. Untuk kami di Kelurahan Klawalu, ini luar biasa. Terima kasih ke Pak Kadis yang luar biasa sekali, dan saya harapkan untuk Pak Kadis jangan di Kelurahan Klawalu, tetapi 41 kelurahan harus. Harus untuk dilakukan ini karena kemungkinan besar ini kita akan jalani, tapi semua itu tergantung pada kondisi dana yang ada,” ungkap Lurah Klawalu.
Ia menambahkan bahwa peran pihak kelurahan hingga tingkat RT/RW sangat krusial karena penanganan sampah merupakan kebutuhan harian masyarakat.
“Kalau sesuai pemerintah mendukung kami, kami pihak terendah untuk pemerintah dari kelurahan sampai desa, kami sampai RT/RW, kami sangat mendukung dan semangat untuk melakukan hal ini. Karena ini kebutuhan yang harus selalu berjam, per detik, per menit, dan tiap hari itu dilakukan. Dan ini kami sangat berharap untuk pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah yang lebih fokus kepada lingkungan hidup untuk tolong diperhatikan itu untuk kami. Kalau Bapak mau jadi maju ke depan, mungkin Klawalu yang jadi contoh. Biar fokus satu contoh dulu biar supaya kelurahan 40 lain itu bisa mereka menyesuaikan. Bahwa, ‘Oh, ternyata Kelurahan Klawalu seperti begini. Ini loh contoh.’ Kita naikkan lewat Bapak/Ibu yang sebagai media mengekspos lagi ke atas, itu semua luar biasa. Dan nanti saya dan Pak Kelly mungkin Pak Kadis juga bikin lagu lagi. Biar kalau masyarakat tidak puas, nanti kita bikin lagu lagi,” tambahnya.
Dukungan juga disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu yang menekankan pentingnya pemilahan sampah organik sebagai bagian dari program prioritas nasional dan solusi ekonomi sirkuler.
“Kita punya masalah hari ini adalah sampah di mana-mana, khususnya sampah organik. Sehingga program nasional kita harus pilah sampah, Bapak Presiden juga sampaikan pengelolaan sampah menjadi prioritas nasional. Nah, kami dari provinsi akan menjadikan maggot ini sebagai solusi dalam menjawab kebutuhan ekonomi. Jadi ekonomi sirkulernya bisa kita dapat. Pakan ternak, pakan ayam hari ini melonjak, naik. Kita punya sampah melimpah, jadi dengan sampah kita olah menjadi pakan ikan; lele, nila, ikan koi, kemudian ayam, ayam petelur, bebek, itik, pupuk. Nah, ini peluang bisnis,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen awal dukungan sarana prasarana, Kelly mengatakan bahwa provinsi berencana menyerahkan bantuan operasional kepada pihak kelurahan.
“Silakan kita akan bekerja sama dengan Lurah Klawalu sebagai pilot project. Nah, kami tidak berjanji, tapi ada pengadaan motor 12 unit, dua unit kami kasih langsung ke Pak Lurah. Kemudian Pak Lurah mungkin bisa cari lahan, mungkin kita bisa bangun. Ini yang skala besar, tapi skala rumah tangga pun bisa, masyarakat bisa itu. Kemudian ada ini contoh pupuk dari kelapa ya. Kita punya kelapa melimpah, kulit kelapa. Nah, bisa kita berdayakan masyarakat buat seperti ini dan mereka jual juga. Ini ya sekitar Rp20.000, Rp25.000. Ini bisa bikin yang kecil, yang besar juga bisa. Kemudian ini pupuk untuk semua jenis tanaman, dicampur ini. Percaya ya, masa satu Tanah Papua datang belajar ke dia, baru kita yang tidur di sini sendiri tidak dapat ilmu ini. Ilmu ini mahal,” tegasnya.
Respons positif juga datang langsung dari warga Kelurahan Klawalu, Elisabeth yang ikut serta dalam peninjauan tersebut.
“Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada kami sebagai masyarakat. Saya mengucapkan banyak terima kasih. Ini salah satu pengalaman yang luar biasa untuk sebagai kami masyarakat, karena dalam rangka ini kami berterima kasih atas apa yang Bapak Lurah dan Bapak ini sudah sampaikan kepada kami pada hari ini. Karena kami harus lihat dengan mata begini supaya kami pulang, kami usaha di kelurahan kami. Ini salah satu contoh besar yang Bapak lurah sampaikan kepada kami. Mungkin itu saja yang saya sampaikan, terima kasih,” katanya.(zia)















