Gubernur PBD: Terima Kasih Pertamina, Tuhan Berkati Semua Jerih Lelahnya
Melalui homestay sederhana di tepi Teluk Mayalibit, Pertamina RU VII Kasim bersama masyarakat Waifoi menghadirkan kisah kolaborasi yang menumbuhkan ekonomi, menjaga budaya, dan merawat bumi.
Oleh Norma Fauzia Muhammad
HUJAN turun deras di perairan belakang Pulau Buaya. Di tengah ombak dan mesin kapal yang tiba-tiba mati, perjalanan pulang itu justru meninggalkan kenangan mendalam tentang ketulusan, tawa, dan semangat masyarakat Waifoi yang kini menata masa depan dengan tangan sendiri.

Dari dapur bocor yang dulu nyaris roboh, kini berdiri homestay nyaman di tepi Teluk Mayalibit Saupon Adventure Village, simbol kolaborasi antara PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Waifoi.

Di sinilah, kemandirian tumbuh, tempat harapan baru berpadu dengan tradisi lama, dan kepedulian menjelma menjadi kenyataan.
Kala itu, penulis dan rekan seprofesi bersama Pertamina RU VII Kasim disambut dengan iringan suling tambur, dan tarian dengan berbalut atribut Papua bahkan senyum hangat dari anak-anak hingga para orang tua masyarakat Waifoi.

Moment itulah penulis merasakan arti sesungguhnya dari sebuah perjalanan, bukan hanya tentang jarak dan waktu melainkan tentang kebersamaan, kekeluargaan, kemandirian dan kehangatan yang tak lekang oleh kisah masyarakat Kelompok Tani Hutan (KTH) Waifoi di homestay Saupon Adventure Village. Perjalanan panjang tersebut bermula dari Kota Sorong.
Pagi itu jam 08:00 WIT, Sabtu (4/10) penulis dan rombongan menuju Kabupaten Raja Ampat yang ditempuh dengan waktu selama 1 jam 40 menit. Kemudian dari Raja Ampat, perjalanan dilanjutkan 30 menit menuju homestay Saupon Adventure Village di Kampung Waifoi, Distrik Teluk Mayalibit.
Namun, ketika hendak menuju Saupon sempat terhenti, tiba-tiba ada suara teriakan dari dalam kapal bahwa salah satu dari rombongan ketinggalan di Raja Ampat. Awalnya semua berpikir hanya candaan. Karena perjalanan sudah lumayan jauh. Pada akhirnya rombongan terpaksa harus membuat kapten kapal putar haluan untuk menjemputnya.

Singkat cerita, rombongan kembali melanjutkan perjalanan meski lautan berombak, tetap semangat karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan bukit nan hijau. Nah, karena airnya dangkal. Kapal tak bisa membawa rombongan, sehingga harus menggunakan Perahu Jonson dengan mesin 40 PK.
Tak cukup disitu, rombongan juga disuguhi pemandangan dari pohon Mangrove yang berjejer menyejukkan mata meski harus menyusuri dari muara yang cukup jauh untuk ke homestay.

Nah, nama Saupon sendiri memiliki makna yang mendalam, yaitu Pelabuhan yang ada di atas (masuk ke dalam), merujuk pada lokasinya yang berada jauh ke dalam dari muara.

Masyarakat Kelompok Tani Hutan (KTH) Waifoi kini tersenyum lebar. Berkat dukungan berkelanjutan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim, mereka menikmati hasil nyata dari kerja keras dan kolaborasi.
Sejak 2023, bantuan yang diberikan Pertamina RU VII Kasim tidak hanya memperbaiki fasilitas homestay dan dapur, tetapi memberikan pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat sehingga mampu menunjang peningkatan ekonomi lokal.
Dari dapur dan kamar bocor hingga berdiri homestay layak yang dikunjungi turis mancanegara. Bagi mereka, setiap tamu adalah keluarga, dan setiap malam tanpa sinyal adalah keheningan yang bermakna.

Hal tersebut dikatakan Ketua KTH Waifoi, Zakarias Gaman. Menurutnya, bahwa homestay mereka kini memiliki dapur baru, dua kamar tambahan, dan satu unit mesin 40 PK yang memudahkan antar-jemput wisatawan dari Waisai, Kabupaten Raja Ampat.
“Sebelumnya dapur kecil saja, kalau hujan sering bocor. Terus dulu itu, kami juga susah sekali karena mesin perahu antar-jemput tamu sering rusak. Tapi sekarang tamu-tamu semakin banyak sekali jadi ekonomi kami juga bertambah. Semua atas bantuan Pertamina,” kata Zakarias dengan mata berbinar dan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya, Sabtu (4/10/25).

Homestay Saupon Adventure Village bukan hanya tempat singgah. Terletak di kawasan Teluk Mayalibit Kepulauan Raja Ampat, homestay ini menjadi simbol ketenangan dan budaya Suku Maya. Lima kamar di sana dinamai dengan Bahasa Ambel, yaitu Kalabet (soa-soa), Mani Waka (burung kakaktua),Umbon (lumba-lumba), Mani Mamprek (Bebek Telaga) dan Kamboa (Teripang) sebagai penghormatan pada kearifan lokal.
Dengan tarif Rp500.000 per kepala per malam, tamu sudah mendapatkan paket lengkap, termasuk menginap, tamu mendapatkan pengalaman lengkap dari makanan khas Papua hingga ketenangan tanpa sinyal telepon karena lokasi tanpa jaringan menjadi nilai tambah.
“Tidak ada internet supaya liburannya betul-betul dinikmati toh,” ujar Zakarias, memastikan setiap tamu benar-benar hadir seutuhnya di tengah alam Raja Ampat.
Bagi Zakarias, homestay ini bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga kebanggaan. Rata-rata pemasukan bisa mencapai Rp30 juta per bulan dan seluruhnya dikelola untuk kas kelompok.
“Sekarang dengan bantuan Pertamina, tamu yang datang juga meningkat, bahkan banyak dari luar negeri. Ada dari Prancis, Kanada, Inggris, dan Jerman. Dari Januari sampai sekarang sudah 100an orang yang booking,” kata Zakarias.
Tak hanya Zakarias, dampak bantuan dari Pertamina RU VII Kasim juga ikut dirasakan Alma Rumbiak, juru masak di homestay, yang tersenyum hangat saat mengenang bantuan dapur baru.

“Sebelumnya sempit dan bocor, sekarang sudah luas sekali. Kita bisa masak lebih leluasa,” ujarnya sambil berharap kedepan bisa mendapat bantuan kompor gas.

Hal senada turut dirasakan oleh para ibu rumah tangga setempat. Amelia, yang bertugas bergantian di bagian cuci piring, mengaku senang.
“Kalau ada tamu baru ke homestay. Senang juga. Kerjaan ini untuk menambah uang kita kebutuhan sehari-hari juga,” ujarnya.

Salah satu warga setempat, Esra menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pertamina.
“Terima kasih sudah membantu. Fasilitas semakin baik dan meningkatkan jumlah pengunjung di homestay,” katanya.
Meskipun sudah mendapat bantuan sebelumnya dari pemerintah daerah berupa kasur, aula dari BKSDA, dan jembatan dari Dinas Pariwisata, Esra sebagai masyarakat masih menyimpan harapan besar kepada Pertamina. Mereka membutuhkan bantuan perahu Jonson, Tower, atau Starlink untuk komunikasi yang lebih baik, mengingat akses ke Waisai cukup jauh.
Untuk penerangan, kata Esra bahwa homestay mengandalkan lampu solarsel yang beroperasi dari jam 6 malam hingga jam 6 pagi. Hal ini dilakukan karena tamu tidak menginginkan suara bising genset yang dapat mengganggu ketenangan, di samping kendala BBM yang sering terlambat dari Waisai.
“Tapi kalau hujan terus, lampau tra (tidak) sampai jam 6 pagi su putus (padam). Kita juga pakai genset tapi kadang minyak habis. Lampu padam karena jauh juga untuk pergi beli,” katanya.
Selain itu, Homestay Saupon Adventure Village menawarkan wisata edukatif dan petualangan yang memikat para wisatawan diantaranya tamu akan melakukan kunjungan ke sekolah dengan mengajar anak-anak Kampung Waifoi. Trip ke Air Terjun Kamtabai (nama yang berarti kayu gatal). Trip ke wisata Mangrove. Melihat panorama sun rise dan sun set. Melakukan Tokok Sagu. Mengikuti aktivitas mencari ikan dengan cara ditombak. Disambut dengan kesenian suling tambur. Kemudian, melihat flora dan fauna khas Raja Ampat.

Khusus untuk kegiatan Tokok Sagu, tamu akan didampingi oleh Yopi Gaman, pemandu wisata berpengalaman selama 10 tahun dan fasih berbahasa Inggris, memastikan pengalaman belajar budaya yang maksimal.
“Kalau ada tamu pasti mereka kita ajak melakukan tokok Sagu, balobe (tombak) ikan, dan beberapa atraksi lainnya,” katanya.
Hal tersebut turut dirasakan ketika penulis dan rombongan yang diajak melakukan penanaman bibit pohon dan tokok Sagu bersama. Tidak hanya itu, penulis juga diajak mencicipi Ulat Sagu. “Tidak sia-sia kita ikut. Karena ini tidak hanya mencari berita tapi sudah jalan-jalan dan kuliner makanan khas Papua,” kata Trisna salah satu jurnalis.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relation, CSR & Compliance PT KPI RU VII Kasim, Ferdy Saputra mengatakan bahwa program ini lahir dari semangat membangun kemandirian masyarakat di kawasan 3T.
“Kami tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun jiwa dan semangat warga agar tumbuh mandiri,” katanya.
Menurut Ferdy, sejak 2023 Pertamina telah melibatkan warga dalam seluruh proses dari pembangunan, pelatihan hospitality, hingga pembelajaran bahasa Inggris agar mereka percaya diri melayani wisatawan mancanegara.“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama di tanah sendiri,” tegasnya.
Ferdy juga mengatakan bahwa Tahun 2024 menjadi momentum penting, ketika masyarakat Waifoi mengikuti pelatihan hospitality. Mereka belajar menyambut tamu, menjaga kebersihan, dan mengelola homestay dengan standar pelayanan yang baik.
“Kami ingin warga memiliki keterampilan nyata. Karena pelayanan yang baik akan membuat wisatawan datang kembali, dan ekonomi masyarakat bisa terus berputar,” kata Ferdy.
Tak berhenti di situ, lanjut Ferdy bahwa pada tahun 2025, masyarakat juga mendapatkan pelatihan bahasa Inggris. Ini agar masyarakat bisa berinteraksi langsung dengan wisatawan mancanegara.
“Kami ingin mereka percaya diri berbicara dengan tamu dari berbagai negara. Karena keindahan alam akan semakin bermakna jika bisa diceritakan langsung oleh mereka yang menjaganya,” katanya.
Selain itu, Pria murah senyum ini mengatakan bahwa Pertamina RU VII Kasim juga aktif membantu promosi destinasi wisata ini melalui akun media sosial resmi dan berbagai pemberitaan lokal. Tujuannya agar dunia tahu, di pelosok Waifoi, masyarakat tengah menata masa depan mereka dengan tangan sendiri.
“Kami berkomitmen tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun jiwa dan semangat masyarakat agar mereka tumbuh menjadi mandiri,” ujar Ferdy.
Dijelaskan Ferdy bahwa Program ini berjalan melalui kolaborasi erat dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat.”Sinergi ini memastikan pengembangan homestay tetap sejalan dengan prinsip pelestarian lingkungan dan konservasi,” ujarnya.
Kedepan, kata Ferdy bahwa pengelolaan homestay dilakukan sepenuhnya oleh Kelompok Tani Hutan Waifoi, mulai dari perawatan hingga pengelolaan keuangan.
“Kami percaya, ketika masyarakat menjadi pemilik sekaligus pengelola, maka rasa tanggung jawab dan kebanggaan itu akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Ferdy penuh keyakinan.
Ferdy menambahkan, program ini sejalan dengan visi CSR Pertamina, yaitu menciptakan masyarakat yang mandiri dan berwawasan lingkungan melalui program CSR yang berkelanjutan.
“Dimana, prinsip people, planet, profit menjadi dasar langkah Pertamina dalam mewujudkan keseimbangan antara kesejahteraan sosial, kelestarian lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Ferdy berharap masyarakat menjaga dan mengelola fasilitas yang telah dibangun dengan rasa memiliki. Karena setiap bangunan di Waifoi adalah hasil kerja keras dan cinta bersama antara masyarakat dan Pertamina. Ini bukan hanya bantuan, ini awal dari kemandirian,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada PT Pertamina atas kontribusinya melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) berupa pembangunan dapur, kamar homestay, dan pemberian mesin 40 PK bagi masyarakat di Raja Ampat.
Gubernur Elisa Kambu menjelaskan bahwa program strategis nasional seperti perbaikan rumah masyarakat, termasuk homestay, pada dasarnya adalah tanggung jawab pemerintah. Namun, dirinya mengakui bahwa pemerintah memiliki keterbatasan, sehingga dukungan dari pihak lain sangat dibutuhkan.
“Untuk program perbaikan rumah masyarakat, seperti homestay itu sebenarnya adalah tanggung jawab pemerintah. Tapi pemerintah sendiri tidak bisa, pemerintah terbatas. Itu sebabnya, saya sebagai Gubernur Papua Barat Daya atas nama masyarakat yang menikmati fasilitas yang disediakan oleh pihak Pertamina dalam bentuk CSR. Pertama Puji Tuhan ya, kemudian saya juga memberikan apresiasi, rasa hormat, dan sekaligus terima kasih untuk kepedulian dari Tanggung Jawab Sosial Lingkungan dari PT Pertamina,” kata Gubernur kepada Radar Sorong, Selasa (28/10/2025) di Ruang Kerjanya Lantai 2 Kantor Gubernur Papua Barat Daya.
Pembangunan kamar dan dapur homestay ini, kata Gubernur sangat penting untuk menunjang pariwisata di Raja Ampat yang sudah pasti merupakan daerah tujuan wisata termasuk di Saupon.
“Homestay ini kan penting sekali, karena Raja Ampat ini daerah tujuan wisata. Banyak orang yang ingin menikmati alam di sana. Sehingga dengan homestay yang tersedia, kalau ada kunjungan wisatawan yang kesana, ya masyarakat yang akan mendapatkan manfaat ekonomi,” ujar Gubernur Elisa Kambu.
Gubernur juga mengatakan pentingnya fasilitas yang memadai untuk kenyamanan wisatawan. Fasilitas tersebut juga selaras dengan upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, akan tempat tinggal atau hunian yang layak.
“Jadi fasilitas kita di sana juga harus memang terbaik. Sehingga, rumah-rumah atau homestay masyarakat ini kita perbaiki layak. Supaya wisatawan yang datang bisa menikmatinya dengan waktu yang lama di situ. Nah, masyarakat juga bisa mendapatkan uang di sana,” katanya.
Selain pembangunan fisik, Gubernur juga mengapresiasi Pertamina atas pemberian mesin perahu 40 PK untuk operasional homestay, dan bahkan berharap bantuan tersebut dapat dilengkapi dengan perahu untuk lebih membantu operasional masyarakat.”Kalau bisa, ya bantuan dengan perahu. Itu juga akan membantu,” harapnya.
Lebih lanjut, Gubernur mengajak BUMN dan perusahaan lain di Papua Barat Daya untuk mengikuti jejak Pertamina. Menurutnya, semua program strategis ini adalah bagian dari bentuk kepedulian semua anak bangsa.Hal tersebut sebagai investasi sosial agar tidak terjadi ketimpangan antara masyarakat di kampung dan di kota.
“Saya mengajak pihak yang lain, para BUMN, para investor yang telah menginvestasikan di Papua Barat Daya ini dengan mengikuti teladan dari Pertamina. Untuk ikut juga memecahkan persoalan-persoalan dihadapi oleh masyarakat kita di pesisir pantai, dan mungkin mereka yang di luar jangkauan kota, di daerah terluar,” kata Gubernur.
“Mereka juga berkewajiban untuk menopang, membantu masyarakat kita yang ada di area di mana perusahaan itu beroperasi,” katanya lagi.
Diakhir wawancara, Gubernur kembali mengucapkan terima kasih dan penghargaan untuk Pertamina atas bantuan yang diberikan kepada masyarakatnya. “Sekali lagi terima kasih dan sukses untuk Pertamina. Tuhan memberkati semua jerih lelahnya,” katanya.

Kemudian, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata di wilayahnya kini difokuskan pada pengembangan wisata berkelanjutan dan rendah karbon (low carbon tourism). Program ini menjadi langkah strategis untuk mendorong desa-desa wisata dan kelompok usaha masyarakat lokal agar tumbuh mandiri dengan tetap menjaga kelestarian alam.
Menurut Yusdi, salah satu contoh penerapan konsep wisata rendah karbon dapat dilihat pada kegiatan pariwisata di Saupon, yang menjadi model pendampingan pemerintah.
“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga alam sekaligus memanfaatkan potensi wisata secara bijak,” ujarnya, Rabu (29/10).
Yusdi juga menjelaskan, keberhasilan pengembangan pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada peran aktif pelaku usaha lokal. Pemerintah pun menerapkan model kerja sama Pentahelix, yang melibatkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha atau BUMN, industri, dan media.
“Kelima unsur ini harus bersatu agar tujuan pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat tercapai lebih cepat,” kata Yusdi.
Yusdi menambahkan bahwa Salah satu bentuk nyata kolaborasi tersebut adalah dukungan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di wilayah Raja Ampat oleh Pertamina telah memberikan dampak signifikan, terutama dalam pengembangan homestay di Saupon, yang menjadi contoh nyata implementasi wisata rendah karbon berbasis masyarakat.
Yusdi menegaskan, kontribusi CSR Pertamina tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur wisata, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan di Papua Barat Daya.
“Kolaborasi seperti ini menjadi kunci agar pariwisata kita tidak hanya indah dipandang, tetapi juga berkelanjutan bagi generasi mendatang,” katanya.

Kini tak ada lagi dapur dan kamar yang bocor, mesin perahu yang kadang rewel, semua telah berbuah senyum menjadi energi kemandirian dari Saupon Adventure Village.(*)















