SORONG – Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman semak tropis yang menghasilkan minyak atsiri atau minyak nilam. Minyak nilam yang dalam dunia perdagangan internasional sering dikenal dengan Patchouli Oil, merupakan komoditas ekspor unggulan. “Nilam ini potensi yang luar biasa, kita juga punya tanah yang luas, mungkin dengan Nilam ini bisa mengurangi ketergantungan masyarakat akan kayu sebagai sumber penghasilan keluarga,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu,ST,MSi.
Budidaya Nilam sudah diujicoba di Kabupaten Tambrauw dan tumbuh dengan baik. Bila diseriusi, tidak tertutup kemungkinan menjadi sumber cuan (uang/keuntungan) yang tidak sedikit, mengingat harga minyak Nilam di pasaran yang bervariasi, dari Rp 600.0000 dan bisa tembus Rp 1-2 juta/Kg. “Tanaman Nilam ini salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan masyarakat adat yang punya tanah adat untuk menanam Nilam. Nilam ini usia panennya cepat, enam bulan setelah penanaman sudah bisa dipanen, selanjutnya tiga-tiga bulan sekali panen, sehingga dalam setahun bisa tiga kali panen,” terangnya.

Dinas LHKP lanjut Kelly Kambu, sudah melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan dalam hal ini PT Rempah Indonesia, yang siap membeli minyak atsiri yang dihasilkan dari Nilam. “Kelompok masyarakat tani di Tambrauw sudah merasakan manfaatnya sebelum lebaran yang lalu, perusahaan membeli produksi Nilam masyarakat. Artinya bahwa kita punya peluang untuk mensejahterakan masyarakat dengan menanam Nilam. Untuk itu kami mengajak seluruh masyarakat khususnya orang asli Papua (OAP) yang punya tanah ulayat, mari kita menanam Nilam sehingga Nilam ke depan bisa menjadi komoditi unggulan Provinsi Papua Barat Daya,” tuturnya.
Tanaman Nilam sebagai salah satu komoditi unggulan yang bisa dibudidayakan di Papua Barat Daya ini, pembelinya sudah ada dan siap menampung produksi masyarakat. “Perusahaan yang kita kerjasama ini juga mengirim lima unit instalasi penyulingan minyak Nilam ke Tambrauw. Kami sudah berbicara dengan mereka, untuk jangka menengah kita buat skala kecil produksi penyulingan Minyak Nilam di Papua Barat Daya ini, mungkin di Kota Sorong ini, sehingga ketika ada hasil produksi tanaman Nilam dari masyarakat, bisa dibawa dan diproses disini untuk menghasilkan minyak Nilam,” tukasnya.
Untuk diketahui, minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman Nilam merupakan salah satu bahan baku industry parfum, kosmetik, sabun, dan aromaterapi. Minyak nilam juga dapat digunakan sebagai antiseptic dan juga sebagai bahan dupa atau setanggi. Selain untuk bahan baku industry, tanaman Nilam juga bermanfaat sebagai obat tradisional. Daun nilam dapat digunakan untuk mengobati sakit kepala, migren, batuk, asma, dan bisul. Akar nilam dapat digunakan untuk mengobati rematik. Air rebusan daun nilam dapat diminum untuk mengobati batuk dan asma. Daun nilam juga dapat digunakan untuk menyedapkan makanan.
Manfaat kesehatan diantaranya meredakan gejala masuk angin, mengatasi hidung tersumbat, merawat kulit kering dan berjerawat, menyamarkan kerutan di kulit, mengatasi ketombe dan merawat rambut berminyak, meredakan stres dan kecemasan, serta menjaga kesehatan ginjal. Indonesia merupakan negara penghasil minyak nilam utama di dunia. Minyak nilam Indonesia diekspor ke berbagai negara, di antaranya Inggris, Amerika Serikat, Singapura, Swiss, Spanyol, dan Perancis. (ian)














