SORONG-Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bukit Zaitun Sorong Periode 2019-2024, Meiland Makalisang, SE.MSi menegaskan bahwa pelantikan Ketua Yayasan JRJ dan Plt.Ketua STIE Bukit Zaitun Sorong JK, yang dilakukan, Jumat (29/9) tidaklah sah karena tidak sesuai aturan.
“Karena kalau pelantikan itu harus ada Kepala Layanan Lembaga Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) XIV Papua. Saya sangat menyayangkan terhadap pergantian saya sebagai Ketua STIE Bukit Zaitun Sorong, yang masa jabatan saya tahun 2019-2024. Yang tanpa koordinasi dengan saya,” katanya, Minggu (30/9).
Dikatakan bahwa atas dasar apa pelantikan Ketua Yayasan dilakukan. “Karena selama suami saya Willson Reynold Yumame mendirikan Yayasan dan STIE Bukit Zaitun itu tidak ada pelantikan Ketua Yayasan. Kemudian ketika melantik Ketua Yayasan itu harus ada SK. Apakah JRJ ada SK sebagai ketua yayasan?,” tegasnya.
Meiland juga menjelaskan kalau JK diangkat sebagai Plt Ketua STIE, maka harus mempunyai jabatan struktural di STIE Bukit Zaitun Sorong. Kemudian pemilihan harus dipilih oleh senat secara formalitas harus dilakukan oleh kaprodi, pembantu ketua 1, 2 dan 3.
“Contohnya Saya, jadi Plt. Ketua STIE Bukit Zaitun Sorong 1 tahun karena waktu itu jabatan saya sebagai Puket.2 merangkap sebagai Plt. STIE Bukit Zaitun Sorong. Di lihat lagi jabatan struktural itu ada syaratnya lagi harus S2, bukan asal ditempatkan karena ini pendidikan Tinggi bukan SMA,” katanya.
“Kemudian calon ketua yang diusulkan kepada yayasan dan akan ditentukan oleh yayasan. Tetapi yang terjadi sekarang tidak seperti itu. Itu melanggar statuta Bukit Zaitun. Kemudian apakah ada SK pembatalan saya sebagai Ketua STIE Bukit Zaitun. Otomatis ada dualisme kepemimpinan. Karena saya memegang SK yayasan dari suami saya dan saya merasa itu lebih sah dibandingkan pelantikan JK,” tegasnya.
Meiland mengatakan bahwa prosedur yang dilakukan tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Melihat dari UU pendidikan nomor 20. Yang mana sebagai seorang pimpinan PTS harus memiliki gelar S2.
“Saya tidak tahu apakah JK mempunyai gelar S2. Karena sebelumnya JK dosen STIE Bukit Zaitun tercatat masih S1. Kemudian kami selalu dimonitoring oleh LLDIKTI XIV termasuk JK, beliau diberikan waktu begitu lama untuk membuktikan atau memberikan kepada kami STIE Bukit Zaitun Sorong ijazah S2,” ungkapnya.
Meiland juga mengatakan bahwa pemilihan Ketua STIE Bukit Zaitun dari statuta STIE Bukit Zaitun yang dijelaskan bahwa sebagai ketua masa bakti 5 tahun dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan daripada yayasan.
“Diangkatnya seseorang sebagai Ketua STIE Bukit Zaitun, contohnya saya. Sebelumnya saya menjabat sebagai pembantu Ketua II dari 2004-2012. Kemudian saya dilantik sebagai Ketua STIE Bukit Zaitun yang kelima. Dan sangat dipercayakan Ketua Yayasan Bukit Zaitun Sorong. Selama tugas sebagai Ketua STIE, saya selalu melaporkan tugas, baik secara akademik maupun keuangan,” tegasnya.
Menurutnya, selama perjalanan kampus, keadaan sangat minus. Karena jumlah mahasiswa tidak memenuhi syarat sehingga pemasukan tidak sesuai. Demikian juga ketika dirinya masuk sebagai ketua STIE, dan melakukan evaluasi.
“Kami memiliki 5 prodi tapi peminat sangat sedikit. Yang paling banyak siswanya akuntansi. Sehingga yang banyak ini, menutupi 4 prodi yang sedikit. Tetapi itu pun minus. Sehingga ketika suami saya sudah tidak menjabat sebagai ketua DPR. Otomatis yang minus semakin kelihatan dan kami merasakannya,” katanya.
“Sehingga kami menyurati LLDIKTI XIV untuk menutupi 2 prodi yaitu D3 Manajemen Perpajakan dan D3 Manajemen Keuangan. Kemudian direspon pada tahun 2021 ketika jumlah mahasiswa semakin hari 5 kebawah. Jadi bisa dibayangkan kalau satu angkatan 5 orang saja dengan biaya SPP Rp1 juta, kemudian kita membayar dosen 8 orang dalam satu jurusan. Otomatis sangat minus,” sambungnya.
Ia menambahkan Kemudian mulai normal pada tahun 2022. Ketika ditutup D3 baru bisa bernafas, tetapi jujur 3 prodi, Ekonomi pembangunan dan Manajemen yang masih ada peminatnya kurang. Sedangkan akuntansi yang besar. Namun, di tahun 2023 untuk prodi akuntansi hanya 12 orang, Ekonomi Pembangunan 30 orang dan Manajemen 20 orang.
“Sangat sedikit, bagi saya hanya jiwa besar saya saja yang selalu membantu seperti suami saya. Ini pun dari usaha di klinik yang mensupport uang ke kampus,” ungkapnya.(zia)















