MANOKWARI – Pj. Gubernur Papua Barat, Komjen Pol (Purn) Drs. Paulus Waterpauw, M.Si mengangkat 64 anak asuh yang berada di Kabupaten Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Kaimana.
“Untuk Manokwari, Wondama dan Fak-fak masih belum. Kemarin yang 7 anak di Manokwari itu dari PKK. Kalau pemerintah belum,” ujarnya kepada wartawan, Senin (12/6).
Ia menjelaskan pola anak asuh yang kini terus digencarkan Gubernur Waterpauw dirasa sangat efektif dalam penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem.
“Stunting dan kemiskinan ekstrem ini ada relevansinya. Dan pola asuh ini bisa menurunkan angka stunting di Papua Barat,” jelasnya.
Ia mencontohkan secara nyata yakni anak asuh yang ada di Teluk Bintunu sebanyak 5 anak, 4 diantaranya sudah dinyatakan negatif dari indikasi stunting dan 1 anak masih dalam kategori wasting.
“Pola anak asuh ini, setiap bulannya akan mendapatkan Rp500 ribu untuk mendapatkan makanan tambahan gizi,” katanya.
“Uang ini bukan dari anggaran pemerintah daerah, melainkan dari kantong pribadi. Dan setiap OPD harus mempunyai anak asuh,” katanya lagi.
Untuk terus mengkampanyekan pola asuh anak ini, kata Waterpauw dirinya akan menggaet pihak swasta sebab memiliki peran dan kontribusi kepada masyarakat.
“Anda (swasta) juga mempunyai kontribusi untuk masyarakat. Bantulah paling tidak 1 atau 2 anak,” katanya.
Menurutnya, jika stunting ini dikeroyok secara bersama-sama, penurunan stunting di Papua Barat akan turun dengan cepat.
“2024 kita harap stunting sudah 0 persen,” ucapnya.
Kunjungan kerjanya di Kabupaten Kaimana belakangan ini, Waterpauw melihat penanganan stunting di Kaimana sudah cukup baik sebab Bupati mengucurkan anggaran Rp 100 juta per kelurahan untuk penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem.
“Kalau kita tumpangi lagi dari provinsi, maka bisa cepat penanganannya,” pungkasnya. (bw)















