SORONG-Beberapa sopir kendaraan yang hendak mengisi BBM bersubsidi jenis Bio Solar terpaksa harus menahan rasa kecewa, karena ketika ingin mengisi BBM subsidi tersebut, mereka tidak memiliki barcode subsidi tepat.

Dari pantauan Radar Sorong, Jumat (3/3) di SPBU Hansen nampak beberapa sopir, ada yang langsung melakukan pendaftaran subsidi tepat, tetapi ada juga yang memilih pulang karena enggan mendaftarkan kendaraan mereka.
Kendati program subsidi tepat telah gencar disosialisasikan oleh Pertamina di media massa, media elektronik dan online bahkan di SPBU-SPBU di Kota Sorong, tapi masih ada juga yang belum mendaftarkan kendaraan milik mereka untuk penggunaan jenis BBM subsidi tersebut. Diketahui Bio Solar per liter seharga Rp6.800.
“Pamalas, ribet saja,” ketus salah satu sopir yang hendak mengisi BBM Bio Solar tetapi tidak dilayani akibat takmemiliki barcode. Sehingga ia lantas harus pergi padahal telah mengantri cukup lama.
Berbeda dengan sopir lainnya, Suardi yang telah mendaftarkan kendaraannya di program subsidi tepat.
“Barcode ini memudahkan kita. Tidak terlalu antri lagi, hanya 1 jam saja. Sebelum pakai barcode itu antrian sampai 3 jam. Sekali isi 80 liter untuk 2 hari karena kerja muat-muat pasir,” ungkapnya disela-sela menunggu antrian.
Sementara itu, Sales Branch Manager Rayon I Papua Barat I Made Mega Adi Sanjaya ketika melakukan pengawasan di SPBU Hansen mengatakan bahwa dari data di sistem transaksi tercatat per harinya itu sekitar 600 sampai 700 mobil.
“Jadi di Kota Sorong ini penjualannya kendaraan sudah semua menggunakan barcode. Sehingga dengan barcode ini kita bisa mendata, baik itu dari jumlah mobil dan jumlah BBM yang disalurkan per harinya,” jelasnya.
Ia menambahkan penggunaan barcode merupakan program dari subsidi tepat di mana untuk menyalurkan BBM agar tepat sasaran kepada pengguna yang berhak.
“Jadi memang pengguna yang berhak, yang boleh memperoleh barcode itu sendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan Jika para sopir tidak memiliki barcode untuk BBM subsidi tepat, maka diwajibkan mendaftar dahulu. Kemudian bagi SPBU dilarang melayani pengisian BBM Bio Solar dan Pertalite bagi kendaraan yang tidak memiliki barcode subsidi tepat.
“Di awal-awal penggunaan barcode, ada SPBU yang enggak menggunakan barcode. Dan kita cek di sistem itu, jika memang ketahuan kita tanya dulu pengawasannya bagaimana, kenapa enggak menggunakan barcode. Jadi kita tegur SPBU dan pihak SPBU nanti yang akan memproses ke operatornya. Jika memang ada penyalahgunaan atau tidak sesuai dengan ketentuan, maka manager dapat melakukan pembinaan ke operatornya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Pengawas SPBU Hansen, Samuel menambahkan bahwa mulai dari sejak tanggal 21 Januari 2023 telah ditertibkan bagi konsumen yang mengisi subsidi Solar dan Pertalite, kalau tidak menggunakan barcode maka tidak dilayani.
“Jadi kalau apabila dalam pelaksanaan penertiban subsidi ini, kalau ada operator yang dengan sengaja melanggar apa yang sudah kita tetapkan. Maka ada sanksi yaitu kita bisa pindahkan ataupun kita bisa rumahkan. Karena kita juga menerima sanksi dari pihak Pertamina, apabila kita melanggar pengisihan subsidi tanpa menggunakan barcode,” jelasnya.
“Jadi kita juga turunkan ke bawah untuk penertiban itu,” sambungnya.
Samuel mengungkapkan bahwa pernah ada sopir mobil yang menggunakan barcode, tapi punya kendaraan lain, maka sanksinya tidak boleh masuk di SPBU Hansen lagi.
“Ada 3 mobil, truk 2 dan mobil pribadi. Mobil tersebut tidak diijinkan melakukan pengisian. Jadi kalau kedapatan operator pun kami kasih sanksi dan konsumen pun kami larang untuk pengisian di sini,” pungkasnya.(zia)















