• Profil
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
Sabtu, 22 Agustus 2026
Radar Sorong
Advertisement
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature
No Result
View All Result
Radar Sorong
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT

Demokrasi dan Sepak Bola

by admin
20 Januari 2023
in Lainnnya
0
Demokrasi dan Sepak Bola

Karmila Sinen

Share on FacebookShare on WhatsApp
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Oleh: Karmila Sinen (Akademisi UNIMUDA Sorong)

KAMPANYE Pemilu 2024 mulai dibisik-bisik. Genderang kompetisi antar partai mulai semarak. Para Caleg sudah sibuk mengumbar fakta dan sesekali fiksi tentang apa yang sudah, sedang atau akan mereka kerjakan di arena politik. Sementara para pendukung dan simpatisan partai sibuk menggalang massa agar setiap acara kampanye terlihat sesak dan padat.

Berita Terkait

40 Sekolah dan Jajaran Dinkes Meriahkan Karnaval Gerak Jalan Kreasi di Kota Sorong

Puluhan Sekolah dan Jajaran Dinkes Meriahkan Karnaval Gerak Jalan Kreasi di Kota Sorong

18 Agustus 2026
31
Sarankan Pembahasan Amdal Kelapa Sawit PT PAM Ditunda Sementara

Sarankan Pembahasan Amdal Kelapa Sawit PT PAM Ditunda Sementara

17 Agustus 2026
51

Kemkomdigi, Indosat, NVIDIA, dan UGM Resmi Buka UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center

14 Agustus 2026
8

  Hiruk pikuk menjelang pemilu ini adalah demam demokrasi yang biasa menjangkit di negara-negara yang menjalankan demokrasi. Fenomena ini mirip demam sepak bola yang menjangkiti dunia setiap empat tahun sekali.

ADVERTISEMENT

 Setiap putaran final piala dunia sepak bola ribuan penggemaram sepak bola dari berbagai belahan dunia membayar ribuan dolar untuk ongkos pesawat, hotel, dan tiket masuk agar bisa menyaksiskan pertandingan dari dekat. Selain itu, ratusan juta penggemar di seluruh dunia menonton melalui televisi, dan media lainnya.

 Begitu juga di Indonesia, tak terhitung jumlah penggemar sepak bola yang rutin menyaksikan pertandingan secara langsung. Yang menarik dari fenomena sepak bola itu adalah fantisme pendukung dan dukungan total secara moril-materil untuk kesebelasan dan pemain faforitnya.

 Para pendukung rela dan sanggup mengeluarkan ribuan dolar agar bisa memberi dukungan langsung pada kesebelasan pemain favoritnya. Fenomena ini seperti deindividuasi yang artinya, sebagai identitas pribadi para pendukung itu terkikis dan mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari tim favorit mereka.

 Fenomena yang menjadi sangat menarik diamati Psikologis dan Sosiologis, karena para pendukung benar-benar total memberikan dukungan mereka. Termasuk di Indonesia, dengan mamakai pendekatan ekonomi-politik fenomena ini jadi relevan dengan kampanye pemilu dan demokrasi. Pendekatan ekonomi-politik ini bisa mendasarkan pada pertanyaan: siapa mendapat apa dan mengapa?

 Dalam  konteks dukung mendukung itu pertanyaannya adalah, para pemain dan pendukung ini memperoleh apa? Yang pasti para pendukung senang saat tim dukungan mereka menang dan ikut merasa terpukul jika tim kebanggaannya mereka kalah. Padahal, secara materi mereka tak mendapat apa-apa. Justru pemain yang mereka  dukung yang mendapat semua penghargaan.

 Ketika pemain sepak bola mencium piala emas itu, jutaan pendukungnya bersorak riang. Ketika pemain sepak bola itu kembali ke negaranya membawa rasa bangga dengan berbagai bonus, jutaan pendukungnya kembali pada kenyataan hidupnya membawa bahagia dengan tangan hampa. Para pemain mendapatkan semua kompensasi, sementara pendukungnya meski boleh ikut bahagia dan boleh berbangga, tetap saja cuma bisa menonton.

 Jika konstruksi hubungannya adalah antara pendukung dan pemain olahraga maka fenomena dukung-mendukung semacam ini tampak normal. Kemudian, yang menjadi masalah adalah bila konstruksi hubungan ala sepak bola ini terjadi dalam dunia politik dimana rakyat sebagai supporter dan partai politik sebagai tim sepak bola yang dipuja-puja.

 Rakyat pendukung mati-matian berdebat, membela partai pujaan mereka. Bahkan ketika partai politik itu dikriktik atau diejek, pujaannya sanggup tak cuma beradu jotos hingga beradu nyawa untuk membela. Seperti partai kesayangannya itu bertanding dalam pemilu, para pendukung ini pun sanggup mendukung habis-habisan.

 Lalu, saat pertandingan selesai, terjadilah ironi itu. Para politisi meraih berbagai hadiah dan kemenangannya dalam bentuk kekuasaan politik. Sedangkan para pendukung yang fanatik sekali pun cuma bisa menonton dan gigit jari.

 Berbeda dengan sepak bola yang lapanggannya di batasi pagar kokoh sehingga pemain tidak boleh dipengaruhi kelakuan pendukungnya. Lapangan politik dalam demokrasi adalah arena partai politik sifatnya sangat bebas dan terbuka, yang perlu dan harus dipengaruhi pendukungnya.

Dalam sepak bola, lapangan itu memilki pemain. Dalam demokrasi, lapangan politik itu milik rakyat. Lapangan politik itu untuk pertandingan secara non-violence (tanpa kekerasan), bukan cuma kepentingan politisi, melainkan kepentingan rakyat yang diwakilinya. (***)

ADVERTISEMENT
Previous Post

43 Balita di Distrik Mansel Resiko Stunting

Next Post

Jemaah Umrah Sulsel Lecehkan Wanita di Masjidil Haram Divonis 2 Tahun Bui

Related Posts

40 Sekolah dan Jajaran Dinkes Meriahkan Karnaval Gerak Jalan Kreasi di Kota Sorong
Lainnnya

Puluhan Sekolah dan Jajaran Dinkes Meriahkan Karnaval Gerak Jalan Kreasi di Kota Sorong

18 Agustus 2026
31
Sarankan Pembahasan Amdal Kelapa Sawit PT PAM Ditunda Sementara
Berita Utama

Sarankan Pembahasan Amdal Kelapa Sawit PT PAM Ditunda Sementara

17 Agustus 2026
51
Lainnnya

Kemkomdigi, Indosat, NVIDIA, dan UGM Resmi Buka UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center

14 Agustus 2026
8
DPMK Raja Ampat Dorong Inovasi Dan Ekonomi Kampung Lewat Pelatihan Pembuatan Mie Sagu
Lainnnya

DPMK Raja Ampat Dorong Inovasi Dan Ekonomi Kampung Lewat Pelatihan Pembuatan Mie Sagu

4 Agustus 2026
36
Hari Kedua Kegiatan, Peserta Diajak Praktek Langsung Pembuatan Mie Sagu
Lainnnya

Hari Kedua Kegiatan, Peserta Diajak Praktek Langsung Pembuatan Mie Sagu

30 Juli 2026
44
Ubah Paradigma Layanan Kesehatan, Klinik Pratama TEHIT Medika Hadirkan Program ‘Pelkeskom’
Lainnnya

Ubah Paradigma Layanan Kesehatan, Klinik Pratama TEHIT Medika Hadirkan Program ‘Pelkeskom’

18 Juli 2026
116
Next Post
Jemaah Umrah Sulsel Lecehkan Wanita di Masjidil Haram Divonis 2 Tahun Bui

Jemaah Umrah Sulsel Lecehkan Wanita di Masjidil Haram Divonis 2 Tahun Bui

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT

Follow Us

Radar Sorong

Radar Sorong telah meluncurkan Portal Berita Online yaitu radarsorong.id yang lebih memudahkan masyarakat mendapatkan informasi terpercaya dan actual dari Harian Pagi Radar Sorong.

Kategori Beritra

  • Berita Utama
  • Ekonomi
  • Essay Foto/Berita Foto
  • Feature
  • Internasional
  • Lainnnya
  • Lintas Papua
  • Metro Sorong
  • Nasional
  • Nusantara
  • OPINI
  • Papua Barat Daya
  • Sepakbola
  • Sorong Raya
  • Sport

Berita Terbaru

Kapolda PBD Pimpin Sertijab, Sejumlah PJU dan Lima Kapolres Berganti

Kapolda PBD Pimpin Sertijab, Sejumlah PJU dan Lima Kapolres Berganti

22 Agustus 2026
Revalidasi UNESCO Global Geopark Raja Ampat, Pemprov PBD Optimis Raih Green Card

Revalidasi UNESCO Global Geopark Raja Ampat, Pemprov PBD Optimis Raih Green Card

21 Agustus 2026
  • Profil
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak

© 2021 - Radar Sorong - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Metro Sorong
  • Sorong Raya
  • Lintas Papua
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Sport
  • Feature

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!