MANOKWARI – Tim kajian dari Universitas Papua sedang melakukan pengkajian sekolah berbasis asrama pertama yang pengelolaannya oleh pemerintah bukan yayasan ataupun lembaga keagamaan.
Ketua Tim Kajian Sekolah Berpola Asrama, Dr. Yusuf Sawaki, S.Pd MA mengatakan sekolah berbasis asrama pada intinya semua aktivitas berada dalam asrama pada durasi tahun ajaran.
“Di Manokwari, sudah ada sekolah berbasis asrama seperti SMA dan SMP Katolik Villanova, Pondok Pesantren namun itu dikelola oleh Yayasan. Yang menjadi kajian kami saat ini adalah sekolah berbasis asrama yang pengelolanya dari pemerintah dan itu belum pernah ada hingga kini di Manokwari,” ujarnya, Rabu (28/12).
Ia menyebutkan bahwa pemerintah Manokwari berusaha merancang sebuah konsep sekolah berbasis asrama yang nantinya akan menjadi sekolah negeri berpola asrama.
“Ini merupakan sebuah strategi yang memang sudah lama. Sebelumnya memang ada pemikiran bahwa penggabungan sekolah berbasis asrama dengan sekolah-sekolah yang telah ada terutama SMP,” sebutnya.
Ia menuturkan pada awal pembicaraan ada SMP Negeri 2 Manokwari yang rencananya akan menjadi sekolah berbasis asrama, namun banyak pertimbangan seperti menunggu 3 tahun karena harus meluluskan siswa yang sebelumnya dan itu akan memakan banyak waktu.
“Dan susah diukur tingkat keberhasilannya,” tuturnya singkat.
Dirinya menyebutkan bahwa target asrama yang menjadi usulan oleh tim kajian ada dua yakni asrama putra dan putri dengan jumlah peserta didik tahun pertama sebanyak 40 siswa dan tahun kedua serta ketiga bisa berkembang.
“Kajian yang kita lakukan ini tingkat SMP karena siswanya masih bisa terbentuk sebuah karakter dan mendidik perilaku dan sebagainya,” ucapnya.
Menurutnya, standarisasi sekolah berbasis asrama tetap berbasis kurikulum nasional tetapi juga mengembangkan standar lokal atau muatan lokal untuk kemampuan siswa misalnya berkebun, seni budaya Papua dan sebagainya.
Ia menyebutkan bahwa siapa yang masuk bersekolah, tergantung dari pemerintah daerah.
“Saya mendengar bahwa nantinya akan diprioritaskan untuk putra putri orang asli Papua. Sebab pendanaan pembangunan dari dana otonomi khusus,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Manokwari Edi Budoyo meminta agar tidak ada politisasi dalam pengkajian bahkan nantinya pembangunan sekolah berbasis asrama.
“Kita tahu bahwa ini sudah mulai masuk tahun-tahun politik, jadi jangan di politisasi,” ujarnya.
Ia menyebutkan tujuan sekolah berpola asrama untuk meningkatkan sumber daya manusia terlebih khusus putra putri papua, guna mengimbangi laju pembangunan maupun pertumbuhan teknologi.
“Dengan ini siswa bisa keluar dari belenggu sosial, adat istiadat, kebiasaan, cara dan sikap yang bisa menghambat pertumbuhan karakter,” sebutnya.
Ia mengungkapkan agar pendirian sekolah berpola asrama bisa menjawab kebutuhan masyarakat maka perlu adanya kajian yang nantinya menjadi pedoman dalam pelaksanaan.
“Karakter siswa yang terbentuk akan menjadi modal dasar pembangunan sumber daya manusia orang asli Papua,” pungkasnya. (bw)













