Rico Sia : PJ Gubernur, Perhatikan Masyarakat OAP dan OAP Lainnya

SORONG– Tidak hadir dalam acara pelantikan Penjabat (PJ)  Gubernur Papua Barat Daya (PBD), anggota DPR RI Dapil Papua Barat, Rico Sia mengatakan karena undangan baru diterima di Kantornya di Gedung Senayan DPR RI pada pukul  14.50 Wit, sehingga Ia pun tak sempat hadir. Meski tidak hadir dalam acara penting ini,namun Rico Sia, senator dari Partai Nasdem  mendukung  keputusan Presiden RI melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang melantik Dr Drs Muhammad Musaad, M.Si sebagai PJ Gubernur Papua Barat Daya.

“Selamat kepada Bpk PJ Dr Muhammad Musaad,M.Si yang dilantik jadi PJ Gubernur Provinsi Papua Barat Daya. Semoga amanah dan membangun sistem-sistem pemerintahan yang baik sejak dini, sehingga daerah bawahan 5 kabupaten  dan 1 kota (Maybrat, Tambrauw, Sorong Selatan,  Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Sorong dan Kota Soromg), bisa benar-benar  menjalankan roda pemerintahan yang dampaknya adalah mensejahterakan masyarakat di Papua Barat Daya,”ujar Rico Sia yang dihubungi Radar Sorong melalui ponselnya, Jumat (9/12).

 Dengan memiliki  background sebagai dosen dan begitu banyak  pengalaman yang luar biasa, Rico Sia pun menilai Musa’ad dapat diterima oleh semua kalangan. Karena itu, Ia pun  harap PJ Gubernur PBD memperhatikan masyarakat OAP dan OAP lainnya. “Kenapa saya sebut OAP lainnya, karena ada masyarakat  lainnya seperti dari Suku Bugis- Makassar, Maluku,  Toraja dan lainnya  yang begitu majemuk di Kota Sorong dan di 5 daerah bawahan lainnya. Mereka itu  yang yang lahir dan besar di Papua, yang   pikirannya dicurahkan sepenuhnya untuk Tanah Papua.

 Setelah dilantik oleh Mendagri Tito Karnavian, Pj Gubernur PBD  tentunya  mulai menyusun pemerintahan  dalam hal ini menyerap usulan dari masing-masing wilayah, dari daerah bawahan tentang pegawai yang akan ditempatkan di Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. “Pegawai dari masing-masing wilayah bawahan, dari 5 kabupaten 1 kota yang sudah mengusulkan perpindahan. Dengan jumlah pegawai yang begitu besar, tentunya menurut saya pasti akan terakomodir, karena untuk tahun 2023 dan sebelum menjelang pemiihan serentak kepala daerah di tahun 2024 tentunya masih menjadi tanggung jawab dari provinsi induk yaitu Papua Barat,”jelas Rico Sia.

  Dengan membangun sistem yang baik dan benar, termasuk dalam hal penempatan pegawai tentunya pemerintahan di Provinsi PBD akan berjalan dengan baik.  Soal banyak masyarakat yang belum mengenal Pj Gubernur PBD karena sebelumnya dia berkarir di Provinsi Papua, Rico Sia pun mengakui sebelum Musa’ad dilantik,  banyak dinamika yang muncul.  Banyak yang  menentang, karena ada yang mengatakan bahwa  ini adalah titipan, ada  yang bilang ini bertentangan dengan semangat UU Otsus.

 “ Kalau dilihat dari kelahiran beliau lahir di Fakfak, berarti kita mengatakan, beliau asli Papua. Lalu apakah ini “titipan,”  kita tidak bisa mengatakan ini titipan atau benar atau tidaknya. Tapi yantg  pasti adalah dari tugas-tugas  beliau selama ini kalau memang tidak ada cacat dan dikatakan dikategorikan baik, tentunya Mendagri sudah  banyak dapat masukan dari berbagai pihak sehingga menetapkan beliau sebagai pejabat  sementara.  Dan tentunya sebagai pejabat sementara, beliau tidak menabrak UU Otsus,”urai Rico Sia.

 Karena semangat kepala daerah adalah OAP, apakah itu ditabrak atau tidak, menurut Rico Sia, sekarang ini kan masih PJ (Penjabat),  bukan defintif sehingga boleh saja mempersiapkan siapa yang dianggap mumpuni  untuk membangun sistem kerja pemerintahan sehingga nantinya pemerintahan yang definitif  tinggal  menjalankan saja atau memperbaiki yang kurang.

 “Yang masyarakat galaukan itu Pj Guberbur PBD bukan orang dari PBD ,kalau orang dari luar kan tidak paham,  saya katakan,  ini bukan masalah pembangunan yang harus dilakukan, tapi ini  adalah membangun sistem- pemerintah menuju ke pemerintahan yang definitif. “Jadi tidak menabrak  UU Otsus,  semangat OAP itu sendiri,”imbuhnya,.

Soal  OAP  asal Papua Barat Daya yang banyak,  seperti yang sempat  sempat diiyakan oleh MRP  , usulan dari pilar-pilar  yang ada di PBD , dari tokoh  wanita, tokoh pemuda, masyarakat dan stakeholder lainnya, menurut Rico Sia sah-sah saja diajukan, namun semua kembali pada kewenangan dari Presiden RI, kewenangan juga ada di Kemendagri, dan tentunya kajian yang diberikan tentunya yang  terbaik untuk Papua Barat Daya. Ingat ini adalah provinsi yang termuda, yang masih butuh sekali bimbingan,  dan bimbingan ini bukan bererti kita  ini kurang terbimbing tapi justru  ini adalah terkait dengan  sistematika pemerintahan yang dibangun, ya kita  semuanya terdidik, banyak orang-orang  pintar yang merupakan sumber daya dari masyarakat PBD, OAPnya sangat berlimpah, tapi yang ditunjuk sebagai PJ  adalah Dr Muhammad Musa’ad ,M.Si . 

 “Ini adalah  untuk membangun sistem pemerintahan yang baik, yang sesuai dengan apa yang diarahkan oleh  pemerintah pusat.  Yang harus diingat, gubernur adalah perpanjangan tangan dari pemerintah pusat, sehingga yang mungkin ingin dicapai adalah target-target membangun sistem pemerintahan  yang baik.

 Menyinggung adanya kekuatiran jabatan eselon II diberikan kepada pejabat dari luar Papua Barat Daya ?  Rico Sia mengatakan, hal inlah yang Ia maksudkan, PJ Gubernur PBD  hendaknya amanah dan  membangun sistem pemerintahan yang baik untuk kesejahteraan  masyarakat di daerah bawahan.  “Kalau pejabat dari luar PBD  tentunya akan sangat bertentangan dengan semangat yang ada.  Karena semangat kita adalah  orang dari dalam dulu. Dan  kita  perlu awasi bersama, karena jadi kewenangan pemerintahan.  Sebagai wakil rakyat  kami hanya titip pesan jangan membuat gesekan. Harus netral dan ingat yang PJ Gubernur PBD adalah untuk masyarakat di 5 kabupaten dan 1 kota,”ujar Rico Sia. (ros)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social Icons

error: Content is protected !!