SORONG – Upaya pengendalian inflasi di Papua Barat Daya kini dilakukan dengan cara berbeda. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) resmi meluncurkan program Sinergi Gerakan Pangan Murah Keliling (SIGERAK PBD), yakni layanan mobil pangan murah yang akan berkeliling langsung ke lingkungan masyarakat membawa kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Peluncuran program berlangsung di halaman Kantor Gubernur Papua Barat Daya, Selasa (14/5/2026). Program tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dalam menjaga kestabilan harga bahan pokok sekaligus membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih murah dibanding pasar.
Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, mengatakan selama ini pelaksanaan pasar murah masih terpusat di lokasi tertentu sehingga masyarakat harus datang sendiri untuk membeli kebutuhan pokok.
Melalui SIGERAK PBD, pemerintah menghadirkan konsep jemput bola dengan menggunakan mobil boks yang membawa bahan pangan langsung ke kompleks-kompleks warga.
“Kalau sebelumnya masyarakat harus datang ke lokasi pasar murah, sekarang pemerintah yang mendatangi masyarakat dengan mobil pangan murah keliling. Ini bagian dari langkah TPID menekan angka inflasi di Papua Barat Daya,” kata Ahmad Nausrau.
Ia menjelaskan, komoditas yang dijual antara lain beras, telur, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, rica, tomat hingga berbagai jenis sayur-mayur. Seluruh bahan pokok dijual dengan harga di bawah harga pasar.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih ringan, tetapi juga menjadi instrumen menjaga stabilitas harga pangan di daerah.“Barang-barang yang dijual merupakan kebutuhan utama masyarakat sehari-hari dan harganya lebih murah dibanding pasar,” ujarnya.
Untuk tahap awal, SIGERAK PBD masih difokuskan di Kota Sorong sebagai proyek percontohan. Pemerintah daerah akan mengevaluasi efektivitas program sebelum memperluas layanan ke wilayah lain di Papua Barat Daya.“Kalau program ini terbukti efektif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat serta pengendalian inflasi, tentu armadanya akan ditambah dan diperluas,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat, Setian, mengatakan kegiatan SIGERAK PBD direncanakan berlangsung sekitar 10 hingga 15 kali setiap bulan dengan menyesuaikan kondisi harga komoditas di pasaran.
Menurutnya, komoditas yang mengalami kenaikan harga akan menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan gerakan pangan murah.“Kalau bawang mengalami kenaikan harga maka bawang yang diprioritaskan. Begitu juga beras dan komoditas lain, semua disesuaikan kondisi pasar,” katanya.
Ia menambahkan, tim teknis dari Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan terus melakukan pemantauan harga untuk menentukan lokasi dan jenis komoditas yang akan dijual.
Ke depan, TPID juga berencana melibatkan kelompok tani lokal agar hasil pertanian masyarakat dapat langsung dipasarkan melalui SIGERAK PBD. Namun untuk sementara, penyediaan bahan pangan masih bekerja sama dengan distributor.
Selain itu, pemerintah memastikan pengawasan program dilakukan secara ketat. Apabila ditemukan adanya permainan harga atau pelanggaran prosedur di lapangan, maka akan diberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.
Dari pantauan di lokasi, sejumlah komoditas dijual lebih murah dibanding harga pasar. Beras ukuran 5 kilogram dijual Rp63 ribu, rica Rp30 ribu per kilogram, bawang merah dan bawang putih Rp35 ribu per kilogram, sementara harga di pasar mencapai Rp40 ribu. Tomat dijual Rp15 ribu per kilogram dari harga pasar Rp20 ribu, sedangkan kangkung dijual Rp5 ribu per ikat dari harga pasar Rp10 ribu per ikat. (zia)















