SORONG – Fluktuasi harga komoditas bumbu dapur kembali menanjak, kali ini terjadi pada baeang merah. Menipisnya ketersediaan cadangan bawang merah di pasaran membuat harga bawang merah naik lebih dari dua kali lipat.
Pada kondisi normal, harga bawang merah hanya berkisar antara Rp 40.000,- hingga Rp 45.000,- saja per kilonya. Sementara, berdasarkan pantauan Radar Sorong di Pasar Sentral Remu, kemarin, (red, hari ini) harga bawang merah sudah tembus Rp 100.000,- per kilo. Itu pun, barangnya langka. Tidak setiap lapak komoditi bumbu dapur memiliki stok bawang merah. Bahkan ada pedagang yang sudah 2 hari tidak menjual bawang merah, karena barangnya benar-benar kosong.
“Ibu, ada bawang merah, berapa sekilo?,” tanya Radar Sorong kepada padagang.
“Bawang merah tinggal yang kecil-kecil mbak, paling tinggal tiga kilo saja ini. Harganya Rp 90.000 per kilo. Mau diambil, soalnya di dalam sudah tidak ada yang jual bawang merah lagi. Habis semua, stok juga kosong,” jawab pedagang rinci.
Di lapak yang berbeda, Radar Sorong juga mendapatkan jawaban serupa. Kali ini, harganya justru lebih tinggi lagi. “Berapa bawang merahnya sekilo bu? Banyak tidak barangnya?,” tanya Radar Sorong kepada pedagang yang berbeda.
“Kalau mau ambil semua saja mbak, sekilo harganya Rp 100.000, bagis ini, tidak terlalu kecil-kecil juga bawangnya,” jawab pedagang tersebut.
“Kok mahal sekali ya bu, boleh kurang tidak harganya. Kalau boleh saya ambil semua,” tanya Radar Sorong kembali.
“Tidak bisa mbak, sudah begitu memang harganya. Ini saja saya jual barang milik teman, karena sudah dua hari saya tidak punya stok lagi. Kebetulan teman saya mau pulang kampung, makanya barangnya dititipkan ke saya,” terangnya. Diakui pedagang tersebut, kenaikan harga bawang merah bergerak perlahan dalam seminggu terakhir. Penyebabnya karena kapal logistik pengangkut komoditi tersebut terlambat masuk ke Pelabuhan Sorong.
Berdasarkan informasi, kapal dimaksud baru akan berlabuh dalam 1-2 hari ke depan. Setelah itu, harga bawang merah diprediksi akan kembali normal. Kendati harganya melambung, pedagang mengaku bahwa omsetnya malah menurun. Sebab, mereka tidak memiliki produk untuk dijual.
“Turun sekali omsetnya, karena barangnya tidak ada. Ibarat kalau biasanya saya bisa jual bawang merah sampai 10-15 kilo per hari, nah sekarang saya tidak punya barang sama sekali sudah 2 hari, apa yang mau dijual,” akunya. Ia membeberkan, selama ini sebagian besar pedagang komoditi bumbu dapur mengandalkan bawang merah dari daerah Sulaweai dan Jawa. Sebab tidak ada potensi bawang merah lokal di Sorong.
“Bawang merah ini tidak ada lokalnya, kita ambil biasanya dari Jawa atau Sulawesi. Ini gara-gara kapal terlambat masuk makanya sampai stok kosong. Tapi saya dengar, besok atau lusa kapalnya datang. Mudah-mudahan harga bisa normal pagi,” harapnya. (ayu)














