Di Papua Barat Daya, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Diantaranya Diisi Sosialisasi Pengelolaan Sampah Organik Melalui Metode Maggot
SORONG – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni bukan hanya sekedar seremonial tahunan, melainkan sebuah panggilan mendesak bagi seluruh bangsa untuk merespon eskalasi Triple Planetary Crisis, tiga tantangan interkonktif yang mengancam eksistensi bumi saat ini, yakni perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Krisis sistematik ini memerlukan percepatan kerja bersama dan mobilisasi aksi nyata yang massif dalam perlindungan serta pengelolaan lingkungan hidup. Karena itu, saatnya kita semua bekerja untuk iklim demi masa depan bumi yang berkelanjutan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat melalui Surat Edaran Nomor 09 Tahun 2026 tertanggal 26 Mei 2026 tentang Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, mengatakan bahwa Tahun 2026 dunia menegaskan komitmennya melalui tema global “Inspited by Nature for Climate. For Our Future”, yang diamplifikasi lewat kampanye public #NowForClimate. Tema ini diarahkan untuk memperkuat aksi iklim berbasis alam, memperluas partisipasi public secara inklusif, serta menampilkan inovasi teknologi hijau guna memitigasi dampak buruk perubahan iklimyang kian nyata.

Sejalan dengan arah strategis global tersebut, Indonesia merespons secara progresif dengan menetapkan Hari Lingkungan Hidup Nasional Tahun 2026 dengan tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” yang dirancang sebagai instrument penggerak untuk mentransformasikan paradigma masyarakat. Upaya komunikasi public tidak lagi sebatas membangun awareness (pengetahuan) dan consciousness (kesadaran), melainkan harus menjadi aksi nyata yang berdampak langsung.
Untuk mewujudkan perubahan perilaku tersebut, pemerintah menginternasilisasi nilai-nilai pelestarian lingkungan melalui gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah). Melalui Gerakan Indonesia ASRI, nilai-nilai ekologis tidak lagi menjadi narasi makro yang abstrak, melainkan menjadi gaya hidup baru yang melekat pada sanubari setiap individu. Pada akhirnya, esensi dari seruan “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, diukur dari kemampuannya menyentuh lingkungan terkecil, mulai dari tingkat keluarga, rukun tetangga, hingga komunitas lokal.
Perubahan besar global selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Dengan menggerakkan aksi iklim dari unit sosial terkecil, pemulihan lingkungan, pengurangan emisi, pengelolaan sampah, dan adaptasi perubahan iklim bukan lagi sekedar target di atas kertas, melainkan sebuah gerakan kolektif demi masa depan bumi yang berkelanjutan.
Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, seluruh pemangku kepentingan dan seluruh elemen masyarakat harus bersinergi melalui aksi nyata bekerja untuk iklim. Selain itu, mendorong pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia ASRI secara serentak dan berkelanjutan di tingkat tapak, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah di tingkat individu, mendorong kolaborasi lintas sector serta menunjukkan komitmen Indonesia dalam forum global.
Kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 mencakup orkestrasi publikasi dan kampanye dengan menggunakan visual yang beragam, pelaksanaan kerja bakti bersih lingkungan bersama (Korve) dan peluncuran Gerakan Nasional Indonesia Aman, Sehat, Resik dan Indah (ASRI), pameran teknologi pengelolaan lingkungan hidup, dan lainnya. Rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 dilaksanakan mulai tanggal 5 Juni sampai 30 Juni 2026. Puncak peringatan Hari LIngkungan Hidup tahun 2026 dilaksanakan pada Sabtu 6 Juni 2026 melalui pelaksanaan Kerja Bakti Lingkungan (Korve) dan Peluncuran Gerakan Nasional Indonesia ASRI yang diikuti serempak oleh seluruh kepala daerah dan pimpinan instansi.
“Untuk tingkat Provinsi Papua Barat Daya, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 juga akan diisi dengan sosialisasi pengelolaan sampah organic melalui metode maggot, serta peninjauan langsung ke lokasi budidaya Maggot Keberlanjutan Lingkungan (Keli) di Aimas Kabupaten Sorong,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu,ST,MSi kepada Radar Sorong, Selasa (2/6/26). (ian)













