Johan : Obsesi Saya Melihat Ada Anak Papua yang Main di Real Madrid atau di Manchester


SORONG- Sekolah bola kaki Belanda yang akan hadir di Mooipark Kota Sorong bakal mencetak pemain-pemain bola kelas dunia dan nasional.
Saat ini, pendirian Sekolah Bola Kaki Belanda dalam tahap persiapan dan direncanakan Desember 2023, akan dilakukan peletakkan batu pertama penyelesaian pembangunan infrastrukturnya.
“Akhir tahun peletakan batu pertama , 2024 kita berharap sudah mulai pelatihan,”ujar Johan, pendiri Sepak Bola Kaki Belanda di Mooipark, Saoka Kota Sorong.
Bukan “kaleng-kaleng”, untuk mewujudkan impiannya mendirikan Sekolah Bola Kaki Belanda ini, Johan yang juga owner tempat wisata papan atas di Sorong, telah menyiapkan lahan miliknya seluas 1 H lebih yang berada tepat di depan Mooipark.
Saat ini, yang tengah dilakukan adalah menyiapkan infrastukturnya. “Jadi pertama kita siapkan lapangan. Sebelumnya kita juga siapkan infrastrukturnya, jalan ke lapangan yang bagus. Sesudah itu juga ada infrastrukturnya yang sangat penting yaitu bagaimana anak-anak setelah latihan harus mandi yang bersih, nah itu juga harus disiapkan bak airnya. Itu yang sekarang kita lagi kerjakan yaitu persiapkan infrastruktur awal,”tutur Johan.
Persiapan pendirian Sekolah Bola Kaki Belanda sepenuhnya masih dilakukan Johan dengan dana swadaya. Untuk mengantarkan anak-anak Papua jadi pesepakbola dunia, Johan mengajak ada pihak yang merasa terpanggil untuk bersama-sama mewujudkan rencana bagus ini.
“Jadi sementara semuanya masih dari saya sendiri, saya juga berharap ada teman-teman yang merasa terpanggil untuk membantu orang Papua, ayook ramai-ramai kita bantu. Karena sekolah bola kaki ini kalau sudah jadi, itu akan dihibahkan kepada yayasan, dan yayasan yang akan mengelola ini semua. Jadi bukan punya saya pribadi. Sekolah Bola Kaki ini nantinya akan punya anak-anak Papua atau orang Papua atau masyarakat Papua bukan punya saya. Saya hanya batu loncatan pertama saja, sesudah itu saya berharap bahwa orang-orang Papua sendiri merasa terpanggil atau orang-orang di bumi Indonesia ini, khususnya di Sorong, ayoo kita percepatkan pembangunan ini karena saya juga banyak keterbatasan,”ujar Johan.
Menanyakan kenapa Sekolah Bola Kaki yang akan didirikan ada kata Belanda-nya, bukan yang lain, dituturkan Johan bahwa Ia melihat
banyak pelatih-pelatih Belanda yang sukses di dunia.
“Seperti Guss Hiddink yang 4 tahun di Korea, dia bisa bangkitkan Korea menjadi negara yang bolanya dilihat oleh dunia- tidak kalah jauh-. Banyak pelatih-pelatih Belanda yang mempunya mutu yang bagus. Terus kalau kita lihat pemain-pemain dunia, banyak yang diciptakan oleh club seperti Ajax itu di Belanda . Mereka mempunyai latarbelakangan pendidikan yang menurut saya sudah terbukti,”ujar Johan.
Dikatakan Johan, anak-anak Papua mempunyai bakat luar biasa dalam bolak kaki sejak lahir. Bagaimana talenta yang dimiliki anak-anak Papua itu dipoles, dilatih sehingga mereka bisa benar-benar jadi pemain bola yang membanggakan baik di tingkat nasional hingga internasional.
“Dulu saya sendiri, pernah datangkan guru besar bola kaki dari Belanda, KNVB (Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda), dan dia telah melakukan penelitian dan itu ada majalahnya, semuanya ada, majalah pelatih dunia, dia juga masukkan dalam beritanya. Bahwa memang benar, orang Papua itu bisa menjadi pemain bola kaki dunia. Dan itu yang membuat saya benar-benar percaya bahwa bagaimana kita membawa anak-anak Papua ini menjadi pemain bola dunia,”tandas Johan penuh semangat.
Ditambahkan, dari laporan hasil penelitian guru besar pelatih Belanda itu bahwa untuk mewujudkan semua harapan itu awalnya mesti ada sekolah bola kaki yang ditangani dengan managemen yang bagus.
“Itu baru kita bisa berharap mereka suatu ketika akan bisa menjadi pemain bola kaki dunia, yang mungkin kita bisa nonton mereka main di club-club yang nomor 1, 2, 3 dunia mungkin seperti itu. Itulah harapan yang mendorong saya bahwa sekolah bola kaki ini harus ada di Tanah Papua untuk mereka, anak-anak Papua, bukan hanya di Sorong tapi di seluruh Tanah Papua,”tandasnya.
Yang pasti, sebagai langkah awal, sambung Johan, ia harus menyiapkan lapangannya. Dengan memiliki lapangan sendiri akan terjaga mutu dari pemain maupun anak-anak yang dilatih. “Jadi kita tidak bergantung pada lapangan lain, karena masalah pinjam pakai itu akan memunculkan masalah baru. Karena kalau pelatih dari Belanda datang, dan dia pingin melatih anak-anak tapi lapangannya tidak bisa dipakai karena pemiliknya punya kepentingan atau mau dipakai untuk acara lain, kita pun harus mengalah. Dan itu akan mengurangi mutu dan semangat dari pelatih.Mutu dari anak-anak juga berkurang karena latihannya terganggu, semangat pelatih pun akan berkurang,”urainya.
Nantinya pelatih Belanda yang akan digunakan adalah, pelatih yang punya ijasah KNVB dan FIFA. “KNVB sama seperti di Indonesia PSSI, dia harus bersertifikat KNVB dan FIFA dan UEFA yaitu kumpulan bola kaki Eropa. Mereka harus punya ijasah itu, itu standart minimal, untuk bisa datang menjadi guru di sekolah bola kaki,”terang Johan.
Nantinya, pelatih Belanda akan didampingi asisten dari Papua. ”Mungkin anak-anak Papua yang merasa terpanggil, guru olah raga atau guru bola kaki, mereka bisa ikut jadi asisten. Jadi guru besar ini dia cuma 3 bulan dia pulang, nanti 2 atau 3 bulan dia balik . Jadi asisten yang akan melanjutkan pekerjaannya. Tapi asisten harus mempunyai latar belakang paling kurang adalah guru olah raga, jadi setidaknya untuk mengikutinya juga jauh lebih cepat dan jauh lebih pahami,”ujar Johan.
Dengan guru besar pelatih di Belanda, menurut Johan, karena Ia juga pernah tinggal di Belanda, sudah sering ada komunikasi, dan pelatih asal Belanda selalu menanyakan “kapan lapanganmu siap”.
“Untuk pekerjaan lapangan saya kira paling 1 atau 2 bulan saja sudah rata kok,”imbuhnya.
Di sekolah bola kaki juga akan dibangun asrama untuk anak-anak Papua bertalenta dari luar Kota Sorong.
Sekolah bola kaki Mooipark ini gratis, tapi kepada anak-anak yang orang tuanya mampu, kata Johan akan diminta secara sukarea apa yang bisa orang tuanya sumbang. “Kita tetap akan mencari sponsor dari teman2 yang merasa terpanggil ntuk membangun Papua ini, dari Pemda, juga mungkin KONI dan lain-lain. Kita berusaha mencari sponsor dari mereka, karena yang paling mahal sebenarnya bukan latihannya, tapi makanan yang harus kita berikan itu makanan bergizi, itu yang akan menjadi tantangan paling berat,”akunya.
“Kalau latihan saja murah, itu tidak ada biayanya sangat murah karena hanya pelatih dan asisten. Yang mahal nanti adalah makannya itu harus kita jaga sama perawatan,”imbuhnya.
Johan yang ditanya bagaimana anak-anak bisa masuk ke sekolah bola kaki, dijelaskan, untuk anak-anak yang bertalenta itu akan diseleksi oleh pelatih langsung dari seluruh Papua, jadi bukan dari Sorong saja.
“Tapi mungkin pelatih akan lakukan perjalanan keliling Papua untuk melihat anak-anak yang bertalenta, bicara sama orang tuanya apakah anaknya mau masuk atau dilatih di Sekolah Bola Kaki Belanda,”terangnya.
Dalam planningnya, nanti ada dua kelas, kelas satu khusus yang talenta, dan kelas dua untuk umum. “Ada 3 kelas talante yaitu di bawah 11 tahun, di bawah 14 dan dibawah 17 tahun. Tidak menutup kemungkinan yang talenta ke umum kalau ternyata salah, dan tidak menutup kemungkinan juga yang umum akan ke talenta kalau ternyata dia anak biasa-biasa tapi perkembangnya luar biasa maka dia akan ke talenta karena dia adalah bibit unggul nanti,”jelasnya.
Dipastikan juga bahwa sekolah bola kaki Belanda ini tidak akan mengganggu sekolah anak-anak yang dilatih, karena jam latihannya diluar Jam sekolah .
Dari sekolah bola kaki Belanda, Johan berharap anak dari umur 7 tahun yang dilatih menjadi 15 -16 tahun itu nantinya sudah bisa melanjutkan sekolah bola di Eropa, mungkin di sekolah bola kaki Ajax. “Kita berharap umur 18 atau tahun 19 dia sudah siap jadi pemain dunia. Itu harapan kita. Itu yang 7- 8 tahun tahun , karena mereka harus diberikan gizi. Kalau yang sudah agak umur, 14 tahun ke bawah atau 17 tahun ke bawah mungkn mereka pemain nasional atau pemain asia.
Tapi yang 7- 8 tahun ke bawah ini kita berharap dia bisa jadi pemain dunia,”ujar Johan lagi.
Tapi lanjut dia, tidak menutup kemungkinan juga anak yang umur 11- 12 tahun ternyata dalam 3 tahun dia berkembang luar biasa, bisa juga umur 15- 16 dia bisa ke ropa untuk lanjut sekolah bola kaki,”ujarnya.
Johan pun yakin, sekolah bola kaki yang Ia dirikan akan maju sehingga club-club bergengsi akan datang untuk mencari anak-anak Papua yang dilatih di tanah bumi Moipark Kota Sorong.
“Obsesi saya suatu hari sebelum saya meninggal, saya lihat anak Papua ada yang main mungkin di Real Madrid, mungkin di Manchester United FC itu obsesi saya.
Kalau untuk nasional itu sudah saya lakukan, dulu kami melatih Putra Yohan di Lapangan Hoky selama 6-7 bulan,oleh pelatih Belanda, dan kita sudah lihat, ada Wanggai (Patrich Wanggai), ada Boas Solossa, itu anak-anak Putra Yohan yang dulu kita latih. Itu tahun 2006 lalu saya yang datangkan pelatih KNVB Belanda, itu saya yang datangkan,”ungkap Johan.
Menyinggung tentang biaya dalam mendirikan Sekolah Bola Kaki Belanda dikatakan, semua dari hati , tidak bisa dibilang angkanya. “Sebenarnya hati kita ingin supaya ada hasil dari anak-anak Papua, sebenarnya angkanya itu tidak penting untuk dipikirkan, Tuhan pasti berikan yang dibutuhkan,”ujarnya.
“Kita tidak punya bantuan dari orang kedua siapapun saat ini, baik itu dari pemerintah atau pihak lain. Jadi benar-benar swadaya murni. Mudah-mudahan setelah ini ada yang merasa terpanggil dan mau bekerjasama ya kita bersyukur. Dan itu bukan untuk saya tapi untuk yayasan dan anak-anak Papua. Ya kita sumbang langsung pun tidak masalah, saya tidak miliki juga tidak apaa-apa,”tandas Johan. (ros)















