SORONG – Sidang perkara kematian Khani Rumaf yang berbuntut pada pembakaran THM Double O, kembali disidangkan dengan agenda mendengarkan keterangan tiga orang saksi dari Jaksa Penuntut Umum, di Pengadilan Negeri Sorong, Kamis (30/6).
Pada proses persidangan ke 3 kali yang dipimpin oleh Majelis Hakim Beauty D.R. Simatauw,SH.,MH masih dikawal oleh pihak kepolisian dan dihadiri oleh keluarga. Tiga saksi yang dihadirkan JPU yakni HR (Ayah Khani Rumaf), AN (Propam Polres Sorong Kota dan Kepala Suku Pelauw inisial RL. Sementara itu, tiga oranf terdakwa di dampingi oleh masing-masing kuasa hukum.
Pantauan Radar Sorong, masing-masing saksi memberikan keterangan terkait apa yang dirasa, dilihat dan didengarkan secara langsung. Untuk saksi pertama yakni Ayah Korban, HR mengakui ia mengetahui Alm. Khani di bacok dari kakak Alm. Kemudian ia langsung ke TKP, namun Alm. Khani sudah dibawa ke RS.
“Saya ke RS Sele be solu, dokter bilang Khani sudah meninggal. Saya melihat luka-lukanya di tubuh Khani,”jelasnya seraya menahan tangisnya.
HR menuturkan keseharian Alm. Khani hanya kuliah dan berorganisasi, terkait kumpul dengan suku ataupun lainnya, ia sama sekali tidak tahu. Dan, HR mengakui ia tidak tahu menahu penyebab kematian anaknya.
Sementara itu, AN (Saksi ke II) mengatakan saat keluar dari lorong Kompleks KPR Polisi, ia melihar rombongan pemuda sekitar 15 orang dari arah Jupiter menuju ke Double O. Sesampainya di Double O, sebagian pemuda masuk dan sebagian lagi tunggu di portal. Sekitar 5 menit kemudian belasan pemuda tersebut lari keluar lantaran dikejar dari 10 orang yang berasal dari Double O.
“Dari 15 orang, saya melihat ada korban juga yang bersama-sama ke Double O. Mereka membawa kayu dan juga menaruh (parang) di dalam baju bagian belakang. Mereka juga sempat mau memanah kami di depan Kompleks dengan panah wayar,”ujarnya.
AN menuturkan, saat Alm. Khani di bacok, ia tidak melihat siapa yang melakukan pembacokan tersebut. Namun, kemungkinan salah satunya adalah GR yang kini masih DPO. Sebab, AN melihat baju GR dipenuhi darah.
“Saya bahkan menegur GR untuk tidak melakukan penyerangan karena sudah ada korban,”terangnya
(juh)















