Rico Sia-BPH Migas Gelar Sosialisasi Capaian Kinerja
dan Penyuluhan Regulasi BPH Migas
SORONG – Buntut dipangkasnya quota bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah di tanah air, termasuk di Papua Barat, sebagai akibat meroketnya harga minyak di dunia, anggota Komisi VII DPR RI Dapil Papua Barat, Rico Sia minta agar quota BBM untuk Papua Barat ditambah.
Sebab dikhawatirkan pengurangan quota BBM yang rata-rata mencapai hingga 5 persen akan berdampak dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. “Pada prinsipnya semua anggota DPR di Komisi VII yang mewakili dapilnya di seluruh Indonesia berharap agar kelangkaan BBM segera bisa diatasi dengan dikembalikannya kembali quota BBM yang kemarin telah dipangkas hampir rata-rata 5 persen,”ujar Rico Sia kepada media usai kegiatan sosialisasi BPH Migas di Hotel Vega kemarin (26/4).
Dikatakan Rico Sia, yang menyebabkan dipangkasnya quota BBM karena harga minyak di dunia yang tembus hingga mencapai US$ 140 , sementara Pertamina karena ada subsidi menjual BBM hanya di kisaran US$ 70 .
“Nah kenaikan itu kalau dihitung US$ 1 saja kenaikannya itu sampai triliuan yang harus disubsidi, sehingga jalan satu-satunya adalah segera mengurangi impor. Dengan adanya pengurangan import otomotis terpotong semuanya, ”terang Rico Sia, Wakil Rakyat dari Partai Nasdem.

Pemangkasan quota BBM tujuannya tak lain hanya untuk penyelematan dalam waktu yang singkat setelah itu diatur ulang kembali. Akhirnya diambil satu kesimpulan bahwa yang dinaikkan adalah pertamax dan pertamax turbo.
Sebenarnya ini tidak mempengaruhi konsumen yang pertalite, tapi justru dengan menaikanna Peramax dan pertamax turbo, untuk mengambil uan dari sana, para pengusaha yang bisnis, yang pakai mobil mewah kan pakainya pertamax dan pertamax turbo dengan kenaikan, harga yang hanya mungkin Rp 2.000 sampai Rp 3.000 kemungkinan tidak terasa bagi mereka. “Nah itulah yang disubsidikan ke masyarakat pemakai pertalite, sehingga ada subsidi di sana. Dan pemerintah tidak usah mensubsidi, pemerintah biarlah fokus pada pemulihan ekonomi,”tandas Rico Sia.
Menanyakan berapa banyak penambahan quota BBM yang akan diajukan ke pemerintah, menurut Rico Sia, setidaknya dikembalikan dulu seperti awal, yang hilang atau terpotong 5 persen dikembalikan ke 5 persen.
Bahwa pengguna pertamax dan pertamax turbo adalah orang-orang kaya, sehingga tentu bukan pemakai yang mobil mewah.
“Kami minta maaf kepada pengguna pertamax dan pertamax turbo, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus sama-sama berjalan, jangan biarkan negara ini harus menanggung semua sementara kita nikmati itu sendiri,”tandas Rico Sia.
Sementara itu Kasubag Humas BPH Migas, Narcicy Makalew mengatakan, pihaknya tidak akan menaikan atau menurunkan kuota BBM jika tidak ada dasar, usulan dari pemda, dan tentu juga melihat variabel-variabel yang mempengaruhinya, seperti jumlah penduduk.
“Kalau penambahan atau pengurangan itu bukan wewenang BPH Migas , kami hanya menetapkan besaran quota berdasarkan usulan daerah. Jadi kita tidak akan mengurangi kuota jika tdak ada usulan dari daerahm antara pemerintah daerah dan Pertamina. Jadi kita tidak bisa menambah atau mengurangi jika tidak ada dasar. Pertamina akan mengusulkan itu setelah rapim dengan pemda. Dari daerah-daerah lain justru sudah mengusulkan untuk ada kenaikan jumlah quota BBM,”ujar Narcici Makalew.
Sementara itu, Alam Kanda Winali, Sales Area Manager PT Pertamina (Persero) Papua Barat mengatakan, stok BBM aman hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 H nanti. Dijelaskan, untuk pasokan BBM dipastikan tersedia,dimana perkiraan pasokan bisa sampai 10-11 hari untuk semua jenis BBM.
Selain mengungkapkan stok BBM aman yang aman hingga 10 hari kedepan, Alam Kanda Winali mengatakan Pertamina akan mendatangka kapal pengangkut BBM sehingga dipastikan distribusi BBM di Papua Barat aman.
Sementara itu kegiatan Sosialisasi Capaian Kinerja dan Penyuluhan Regulasi BPH Migas yang digagas anggota Komisi VII DPR RI Rico Sia yang bersinergi dengan BPH Migas menghadirkan Komite BPH Migas Yapit Sapta Putra, Narcicy Makalew, dan Alam Kanda Winali sebagai pembicara. Namun sayangnya saat Komite BPH Migas Yapit Sapta Putra yang tampil lewat zoom beberapa kali penyampaiannya macet-macet lantaran jeleknya jaringan. Kendati demikian, ratusan peserta pun tampak tetap begitu serius menyimak. Turut hadir, Kadis SDM Papua Barat, Isak Jitmau.(ros)















