Catatan Hati Seorang Pemuda Papua tentang Harapan, Hutan, dan Masa Depan
OPINI: Otis Homer, Intelektual Pemuda Papua
Di tengah ramainya perdebatan tentang film dokumenter “Pesta Babi” yang diproduksi oleh Greenpeace dan viral di media sosial maupun media arus utama, banyak orang berbicara tentang Papua dari jauh. Mereka melihat Papua dari layar, dari data, dari peta, bahkan dari kepentingan. Tetapi sedikit yang benar-benar mencoba mendengar suara hati orang Papua sendiri.
Saya lahir dan besar di Papua. Saya tahu bagaimana rasanya hidup dekat dengan hutan, sungai, laut, dan tanah adat. Bagi kami orang Papua, hutan bukan sekadar pohon yang berdiri. Hutan adalah ibu yang memberi makan. Sungai adalah tempat kehidupan. Laut adalah ruang bernapas. Tanah bukan hanya aset ekonomi, tetapi bagian dari martabat dan identitas kami sebagai manusia Papua.
Karena itu, ketika ada pembangunan yang dianggap mengancam tanah adat, tentu wajar jika masyarakat bersuara. Orang Papua tidak pernah anti pembangunan. Yang kami lawan adalah ketidakadilan, penipuan, dan pembangunan yang datang tanpa menghormati manusia dan hak adat.
Saya memahami kegelisahan itu.
Sebab terlalu banyak cerita pahit yang pernah dialami masyarakat adat di Tanah Papua. Ada perusahaan datang membawa janji kesejahteraan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga beasiswa bagi anak-anak kampung. Masyarakat membuka pintu dan menyerahkan tanah ulayat mereka dengan penuh kepercayaan. Namun setelah kayu diangkut dan hutan rusak, janji tinggal janji. Perusahaan pergi meninggalkan luka. Bahkan ketika masyarakat menuntut haknya, justru masyarakat adat yang dilaporkan ke polisi.
Papua menyimpan terlalu banyak kisah seperti itu.
Karena itulah saya percaya, pembangunan di Papua harus dilakukan dengan hati. Harus ada kejujuran, transparansi, dan penghormatan terhadap pemilik hak ulayat. Negara tidak boleh mengulang kesalahan masa lalu.
Tetapi di tengah semua kegelisahan itu, saya melihat ada sesuatu yang berbeda pada sosok Prabowo Subianto.
Banyak orang mungkin mengenal Prabowo Subianto dari pidato-pidato tegasnya. Ada yang menghina, mencaci, bahkan menuduh macam-macam. Namun sebagai anak Papua yang sudah lama mengikuti perjalanan Prabowo yang kini mengemban kepercayaan masyarakat Indonesia sebagai Presiden Republik Indonesia, saya melihat sisi lain yang jarang diketahui publik. Prabowo memiliki perhatian yang besar terhadap masa depan Papua.
Prabowo Subianto memahami bahwa dunia sedang berubah.
Perubahan iklim mengancam banyak negara. Krisis pangan mulai menghantui dunia. Negara-negara besar berlomba membangun ketahanan pangan dan energi demi menyelamatkan rakyat mereka. Ketika perang terjadi, ketika bencana datang, atau ketika wabah melanda, yang paling dibutuhkan manusia adalah makanan.
Indonesia juga menghadapi tantangan besar. Setiap tahun jutaan bayi lahir dan membutuhkan makan, pekerjaan, pendidikan, dan masa depan yang layak. Negara tidak boleh hanya bergantung pada tambang dan sumber daya alam yang suatu hari pasti habis.
Papua juga akan menghadapi kenyataan itu.
Emas, minyak, dan gas tidak akan selamanya ada. Suatu saat tambang akan berhenti. Pertanyaannya, setelah itu Papua mau hidup dari apa?
Saya melihat Prabowo sedang mencoba memikirkan masa depan itu dari sekarang. Program ketahanan pangan, hilirisasi, koperasi desa, kampung nelayan, hingga pembangunan ekonomi baru bukan hanya soal proyek. Ada cita-cita besar agar rakyat Indonesia, termasuk orang asli Papua, tidak menjadi penonton di tanah sendiri.
Prabowo Subianto ingin membuka lapangan kerja, membangun industri, dan menciptakan ekonomi baru agar anak-anak Papua punya pilihan hidup selain hanya berharap menjadi buruh di negeri sendiri.
Tentu semua itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Alam Papua harus dijaga. Hutan tidak boleh dirusak sembarangan. Hak masyarakat adat harus dihormati. Pemerintah wajib terbuka kepada rakyat. Dan perusahaan yang masuk ke Papua harus berpihak kepada masyarakat, bukan hanya datang mengambil keuntungan.
Namun saya percaya, niat baik tetap harus dilihat sebagai niat baik.
Tidak adil jika semua upaya membangun Papua selalu langsung dicurigai sebagai bentuk penghancuran. Kritik boleh, pengawasan wajib, tetapi harapan juga harus diberi ruang untuk tumbuh.
Sebagai pemuda Papua, saya ingin mengatakan bahwa kami juga ingin maju. Kami ingin anak-anak Papua sekolah tinggi. Kami ingin kampung-kampung memiliki rumah sakit dan listrik. Kami ingin ekonomi tumbuh tanpa kehilangan identitas kami sebagai orang Papua.
Kemudian di tengah banyak pemimpin yang datang lalu pergi, saya melihat Prabowo Subianto memiliki satu hal yang terasa tulus, beliau ingin Papua ikut berdiri kuat bersama Indonesia.
Mungkin tidak semua orang setuju dengan langkah-langkahnya. Itu biasa dalam demokrasi. Tetapi saya percaya satu hal, seorang pemimpin yang terus memikirkan masa depan rakyatnya meski dihina dan disalahpahami, adalah pemimpin yang bekerja dengan hati.
Sebagai anak asli Papua, saya percaya Pak Prabowo tidak melihat Papua hanya sebagai tanah yang kaya sumber daya. Beliau melihat Papua sebagai manusia. Bagi kami orang Papua, itu sangat berarti. Karena pada akhirnya, pembangunan yang paling dibutuhkan Papua bukan hanya jalan atau proyek besar. Tetapi pemimpin yang benar-benar punya hati untuk Papua.(*)








